Daily Wisdom: Beyond Natural Attitude

Image credit M.Attridge

Dalam posting sebelumnya telah disinggung apa itu natural attitude. Khusus di sini mari kita mengupas bagaimana upaya praktis untuk mengurangi kecenderungan natural attitude. Pentingnya untuk mengurangi kecenderungan tersebut dikarenakan seringnya kita memegang suatu keyakinan tanpa benar-benar paham apa yang diyakini, dan lebih buruk lagi, menilai segala sesuatunya dari hal yang diyakini itu. Dengan mengurangi kecenderungan ini kita melihat sesuatu dari kacamata yang berbeda, memiliki pemikiran yang terbuka, dan melihat fenomena secara transparan. Tidak berlebihan pula jikalau M.A.W Brouwer (1983) pada pendahuluan buku 'Psikologi Fenomenologi' menyatakan bahwa sebelum menjadi psikolog hendaknya menjadi fenomenolog terlebih dahulu. Apabila fenomena menjadi transparan bagi kita, tentu kita memahami apa yang hendak dijelaskan.
Husserl sendiri melakukan penghindaran natural attitude melalui epoch (memberi tanda kurung). Penyingkiran keyakinan subjektif, bahkan berbagai teori. Pertanyaannya adalah sejauh apa hal itu mesti dilakukan? Husserl memandang epoch memiliki kedudukan yang sentral dalam fenomenologi. Lebih jauh lagi, ia mengharapkan dapat mencapai kesadaran murni yang benar-benar perawan. 
Namun, penerusnya, Martin Heidegger dan Merleu-Ponty tidak menganggap epoch sebagaimana Husserl. Bagi Heidegger tugas epoch adalah memberi tanda kurung bagi eksistensi yang tak tepat supaya 'Ada' tersingkap secara positif. Sedang menurut Merleu-Ponty, sebagai sarana yang mendorong keluar dari penerimaan umum dengan tujuan mentematisasikannya.
Meskipun kedua tokoh tadi tidak memandang epoch seperti guru mereka, pada dasarnya masih ada prinsip yang tetap dipertahankan, yaitu epoch berguna untuk 'menetralkan' kesadaran ketika menghadapi fenomena.

Züruck zu den sachen selbst
 Motto tak sekedar dipahami, tapi juga dipraktikan. Di samping melakukannya dengan mengupas lapisan bawang melalui pisau epoch yang menyingkirkan kulit luar yang kotor, bagian esensi yang lebih dalam dari natural attitude, dan mempunyai berbagai sisi, dapat kita pertahankan. Misalnya saat pertama kali berkenalan dengan orang lain, kita berusaha menduga-duga dari kesan-kesan yang dicerap indera. Di dalam situasi ini terlahir interaksi antara pengamat dan objek pengamatan. 
Tatapan memang tak bisa dihindari, tetapi bagaimana dengan mengobjekan? Harus diakui agak sulit memang. Tetapi ada kemungkinan untuk itu, hanya saja cara ini mensyarakat bahwa kita tidak melulu menjadi aktor, pengamat tunggal yang mengamati dan mencerap fenomena untuk dihisap esensi-esensinya, tetapi menjadi aktor dalam panggung yang sama. Saranku di sini adalah kalau kita ingin mengungkap kesadaran pada sesuatu, langkah alternatif selain meletakan objek dalam cakrawala kesadaran kita adalah dengan mengalihkan kesadarannya, yaitu kesadaran orang lain yang menjadi cakrawala bagi objek.
Hal tersebut memerlukan keterampilan untuk mendengarkan. Tentunya, kita tak bisa mengekang reaksi spontan terhadap apa yang didengar baik diekspresikan melalui bahasa nonverbal ataupun emosi. Biarkan itu apa adanya, sebab menjadi produksi bagi cakrawala kesadaran lawan bicara kita, pertama agar dia mengenal kita, kedua agar kita tahu seluk-beluk kesadarannya. 
Lalu, alih-alih memberi respon verbal berupa penilaian ini itu, lebih baik jikalau kita menanyakan kembali secara jelas apa yang ia nyatakan, merangkum semua ujarannya, dan mengatakan kembali apa yang ia rasakan. Langkah ini secara tak langsung diharapkan dapat saling menuntun untuk melakukan epoch bersama-sama. 

Posting Komentar

0 Komentar