Muka Rumah Sebagai Jendela Perspektif



Rumah Kayu
Perhatian: Apa yang saya sajikan dalam tulisan ini bukanlah praktik reduksi fenomenologi yang baku, melainkan gambaran dan penunjang deskripsi dari fenomena yang hendak diselidiki. Selamat Membaca👦

Oleh Mochamad Faris Dzulfiqar
Coba bayangkan ini, “di manakah tempat tinggalmu?”, “seperti apa kelihatannya?”, “bagaimana rumah di kompleks perumahan kelihatannya?”. Mungkin, Anda terheran-heran untuk apa saya mengajukan pertanyaan sepele semacam itu. Tapi, itu adalah kabar baik bagi Anda bila merasa heran. Mengapa? Karena selama ini luput dari perhatian Anda, barangkali karena terlalu familiar atau umum, dan sekarang ia hadir di benak Anda untuk kita telanjangi bersama. Dan yang terpenting adalah mengungkap apa yang dikenal sebagai ‘selalu ada sisi yang lain’ bagi diri kita sendiri.
Sebelum menelanjangi, ada baiknya kita mengira-ngira bagaimana rupa sang enigma di balik pakaiannya. Ingat bagaimana ucapan di iklan uang jaman baheula? “Dilihat, diraba, diterawang...” Kurang lebih seperti langkah yang kita akan lakukan. Hanya, bukan dengan penginderaan, alias menyuruhmu keluar dan meraba ditambah mengamati tiap senti rumahmu. Tapi kita lakukan itu dengan kesadaran, dibantu pendekatan fenomenologi untuk memahami apa isi kesadaran kita.
/1/
Fenomenologi itu sendiri adalah pemikiran filsafat yang menyelidiki fenomena dan kesadaran terhadap fenomena tersebut. Perintis pemikiran tersebut adalah Edmund Husserl (1859-1938) dengan mottonya yang terkenal: ,”Züruck zu den sachen selbst” atau kembali pada kenyataannya sendiri. Sedang, apa yang disebut sebagai fenomena itu sendiri dalam filsafat umumnya dinyatakan sebagai suatu penampakan yang berlainan dengan ‘keadaan asalinya’.
Kesadaran terhadap fenomena menandakan bahwa kesadaran selalu  memiliki isi: menyadari sesuatu selain dirinya sendiri. Kesadaran tidak menjadi fenomena, tetapi horizon yang tersedia untuk menguraikan dan menampilkan objek-objek pada fenomena. Menurut Husserl, apa yang disebut sebagai pengetahuan merupakan persentuhan antara kesadaran dengan kenyataan yang dijembatani fenomena. Apa yang dinyatakan pada awal paragraf ini disebut sebagai intensionalitas. Konsep ini merupakan kunci utama dalam fenomenologi.
Penyelidikan fenomenologis sendiri berjalan manakala kita memberi ‘tanda kurung’ (epoch) terhadap apa yang menjadi intensionalitas kita. Tepatnya, apa yang dinyatakan Husserl sebagai natural attitude: keyakinan terberi yang menjadi cara memandang dunia. Bung, apakah kau senantiasa ber-natural attitude? Jangan terlalu yakin begitu, coba sekarang kau nyalakan televisi, silakan pilih saluran apapun, saksikan acara itu selama beberapa saat hingga ia menjadi intensionalitas bagimu. Oke, sekarang stop! Katakan padaku apakah selama kau saksikan acara itu pikiranmu meracau seperti ini, “kok begitu?”, “seharusnya begini...”, “wah itu salah...”, “tolol, bukan seperti itu harusnya...” (Aku bukan cenayang kawan, jadi aku menebak saja, dan mungkin kau tak benar-benar menyalakan televisi). Bila pikiran semacam itu muncul, dan kau berusaha mengkait-kaitkannya dengan opini, ‘fakta’, teori, dan apapun itu, lensa mata natural attitude terpasang padamu. Maka dari itu, jangan terlalu yakin dahulu, apalagi sebelumnya kau tak punya keyakinan bahwa kau meyakini sesuatu, tetapi tiba-tiba yakin begitu saja dan tak jelas juntrungannya.
Inti dari kegiatan berfenomenologis ini adalah menghasilkan deskripsi yang pasti dan memiliki kepastian yang serupa bila dilakukan oleh orang lain. Dalam bukunya yang berjudul ‘Psikologi Imajinasi’, bab ‘Yang Pasti’ pada paragraf kelima dari subjudul metode, Sartre menyatakan “Oleh karena itu teori-teori akan kita abaikan. Kita tidak ingin mengetahui apapun tentang imaji tetapi apa yang kita peroleh dari refleksi”. Mengapa refleksi? Sartre mendasarkan hal itu pada pemikiran Descartes bahwa kesadaran reflektif bersifat mutlak dan tidak bisa diragukan karena ada refleksi tentang sesuatu yang dihadirkan. Mengenai deskripsi itu sendiri, Sartre mengakhiri paragraf itu dengan.

“Pada kesempatan ini kita hanya ingin mencoba “fenomenologi” imaji tersebut. Metodenya sederhana; kita akan membentuk imaji, merefleksikan dan mendeskripsikannya, yaitu mencoba menentukan dan mengklasifikasikan karakteristik khususnya.”

Secara pribadi, aku menyadari bahwa tulisan ini mengalami berbagai kekurangan, terutama bila ingin menghadirkan fenomenologi secara komprehensif. Supaya tak membebani pembaca dengan konsep asing secara beruntun, ulasan tentang fenomenologi akan kulanjutkan pada tulisan lainnya. Lagi pula, aku tak ingin membuatmu beranjak dari postingan ini karena istilah-istilah ‘mengerikan’ itu. Membuatmu melarikan diri ke ‘alam’ incognito window, dan mencari perlipur lara di antara ‘uh-oh, ikeh’. (Proyeksi!).
/2/
Sekarang panggil kembali imaji yang kuminta lewat pertanyaan sebelumnya. Jepret itu sebagai suatu fokus. Apa yang ingin ditunjukan dari muka rumah?
Dilihat. Menurutmu, apa yang ditampakan oleh muka rumah, apakah warna, bentuk, gaya bangunan, pintu dan jendela, beranda, semua ini? Masukan semua itu ke dalam daftar epoch. Maka, apa yang menjadikan suatu bagian rumah menjadi muka rumah merupakan keterkaitan antara satu kebendaan dengan kebendaan lain yang tak lepas dari tujuan kita. Misalnya pintu, jalan kecil di halaman, dan gerbang, di balik posisinya sebagai benda tersendiri, penempatannya yang diatur sedemikian rupa tentu tak lepas dari campur tangan kita. Terlepas dari seperti apa rupanya, yang utama dari ini adalah perannya sebagai posisi medium antara ranah pribadi dengan lingkungan luar. For your information: setelah epoch dilakukan kita mencapai esensi dari suatu fenomena, hal ini disebut sebagai reduksi, dan esensi itu sendiri perlu direduksi kembali.
Diraba. Campur tangan yang disinggung sebelumnya, memengaruhi penentuan posisi karena bersamaan dengan penghayatan tentang ruang. Ruang sendiri menemui batasan-batasannya seperti kanan-kiri, atas-bawah, dan vertikal-horizontal karena kehadiran pengamat sebagai pusat orientasi tersebut. Setiap kali pengamat mengambil satu arah, arah yang lain menyesuaikan pada orientasi yang ia ambil, sedang orientasi yang diambil tadi kini menjadi arah yang berlawanan, sesuatu yang dihadapi. Bersamaan dengan itu ada yang dibelakangi, dan ini menunjukan bahwa apa yang dihadapi ialah ruang visual yang terbuka bagi pengamat untuk dieksplorasi.
Diterawang. Untuk menjernihkan dan mengutuhkan deskripsi yang dibuat sebelumnya, dalam paragraf ini diikutsertakan pula kutipan dari analisis fenomenologi tentang rumah kediaman menurut Brouwer (1983). “Rumah ialah unsur yang memberi kemungkinan untuk dinamika dasar dari eksistensi manusia, yaitu pergi dan pulang. Pergi artinya masuk ke hal lain atau asing. Pulang artinya berada kembali dalam hal yang dialami sebagai milik kita sendiri.” Menjadi jelas pula bahwa muka rumah sebagai penengah antara ranah pribadi memengang peran yang krusial. Di satu sisi berperan sebagai jarak terhadap sesuatu yang akan dihadapi, dunia luar yang asing, atau tempat tinggal yang kerasan bagi kita. Di sisi lain yang selalu lain, ia menjadi titik tolak dari orientasi dinamika eksistensi pulang-pergi.
/3/
Sang enigma  yang kita selidiki selangkah lebih dekat. Lebih jelas. Tinggal melepas pakaian dalam yang masih melekat. Dan setelah itu barulah terungkap, barangkali bekas luka, tatto, panu, ‘rimba’, atau segala hal yang tersembunyi dari kita selama ini.
Pertama-tama yang perlu kusampaikan adalah fenomena yang terlihat dan meresahkanku selama ini terkait muka rumah di kota Bandung tempat saya tinggal khususnya yang sebagian besar menunjukan pola: sekedar bermuka dan berpintu depan. Sedang rumah-rumah di perumahan terlihat indah di muka, tetapi kanan-kiri, belakang terlihat datar, terpotong batas halaman, bergabung dengan rumah tetangga, ataupun terisolasi. Tak bisa disalahkan pula, hal itu memang ekonomis.
Tetapi yang menggelitikku adalah apakah mungkin karena dinamika kita yang selalu terpusat, berhadapan dengan muka rumah yang melulu di posisi demikian, antara sadar dan tak sadar membentuk perspektif kita. Dengan kata lain, perspektif tunggal itu dibentuk karena sering menghadapi dinamika dari satu arah yang melulu sama.
Untuk menelusuri jawaban atas kegelisahan itu, maka kuhadirkan konsep mengenai lebenswelt (dunia hidup). Kata berbahas Jerman itu bermakna ‘dunia pengalaman sebelum tertutup oleh kerangka teoritis tertentu’. Menurut Husserl, dunia ini tidak bersifat statis, melainkan dunia yang senantiasa membangun strukturnya oleh kesadaran dengan melibatkan pengaruh pengalaman. Maka dari itu, bagi Husserl kesadaran adalah dasar dari dunia.
Bila asumsi tersebut diterima, bahwa kesadaran adalah dasar dunia termasuk lebeswelt, intensionalitas kita terhadap jalan keluar untuk pulang-pergi yang berpusat di pintu depan, membangun struktur yang salah satunya merupakan perspektif. Apalagi, kita tidak dapat menghindari hal itu sebagai suatu pengalaman.
Tetapi tidak secepat itu pula, mengingat fenomenologi adalah studi yang bersifat holistik, segala hal yang bersifat mengkerdilkan suatu fenomena atau memisah-misahkannya bertentangan dengan spirit fenomenologi. Upaya itu akan melibatkan bagaimana pulang-pergi di tempat kerja atau sekolah, dan tempat lain yang menjadi dinamika eksistensi. Bicara soal eksistensi, pengalaman mengada bersama orang lain juga turut membangun struktur dalam lebenswelt tadi. Namun, bila melibatkan berbagai perilaku dalam rutinitas yang berpola sama, tindakan yang dilakukan itu mendapatkan refleksi kembali yang disadari atau tidak menjadi penguat supaya ia terulang (bisa jadi hal itu didasari karena praktis, atau sudah jadi kebiasaan). Dan dalam kasus ini karena kenyataan tentang rumah kita sudah terberi, akan tetap seperti bila kita mendiamkannya, dan letak-letaknya yang pasti itu senantiasa mengarahkan kesadaran kita.
Sang enigma yang dihadapi sebagai muka rumah, sebagai pengalaman yang dilalui untuk membangun jendela perspektif. Menuju ketunggalankah ia, atau keutuhan? Tanyakan itu pada sang enigma pada diri Anda sendiri.

Dapus.
Brouwer, M.A.W. 1983. Psikologi Fenomenologis. Jakarta: Gramedia.
Crowell, S. (2006). Husserlian phenomenology. A companion to phenomenology and existentialism, 7-30.
Dreyfus H dan Mark A. Wrathall. 2006. A Companion to Phenomenology and Existentialism. Malden: Blackwell Publishing.
Hassan, Fuad. 2014. Psikologi Kita dan Eksistensialisme. Depok: Komunitas Bambu.
Misiak, Hendryk dan Virginia Staudt Sexton. 2009. Psikologi Fenomenologi, Eksistensial dan Humanistik Suatu Survei Historis. Bandung: Refika Aditama.
Poespoprodjo, W. 1987. Interpretasi: Beberapa Pendekatan Filsafati. Bandung: Remaja Karya.
Sartre, Jean Paul. 2000. Psikologi Imajinasi (terjemahan). Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.



Posting Komentar

0 Komentar