Album
yang menyimpan kenangan 2016 sudah kututup, dan kuletakan pada rak kosong dari
almari diri. Pahit manisnya biarlah ia kembali pada kekosongan, barangkali
tahun ini yang masih menjadi kekosongan bagi kita akan menghadirkan kembali, si
manis, pun si pahit dalam rupanya yang tersendiri. Tergantung bagaimana
perilaku yang mau kita bawa untuk tahun ini. Apa yang tertulis saat ini, apakah
akan disalin ulang, atau dihapus, atau menuliskan yang baru?
Bagiku,
saat ini adalah titik awal untuk melampaui diriku di tahun 2016. Upaya itu mula-mula
dengan kembali pada diri yang saat ini berjumpa dengan tunas 2k17. Lebih luas
lagi, kembali pada diri itu adalah dengan menyadari bagaimana aku melihat si
tunas tahun. Apakah ia mula-mula tumbuh di atas tanah gersang, tanah
berpolutan, atau mungkin pasir pantai. Semua itu kembali pada persepsi
masing-masing. Tapi aku memilih untuk melihatnya pada sebagai ia yang tumbuh di
atas batu-batu kerikil dan batu sungai.
Selanjutnya,
tunas apakah itu? Bonsai, itulah dia, si kerdil yang kelak diselimuti lumut dan
bertudung ala rerimbunan daun pohon
beringin. Ia memang kecil, tetapi bukan berarti aku melihat diriku sebagai yang
kerdil, tapi sisi keindahannya, dan daya untuk tetap tumbuh.
Soal
daya tahan untuk tetap tumbuh, tak lepas dari misteri dan kekosongan saat 2017
menghampiri. Bebatuan sebagai media tanam si tunas adalah tanda dari absennya
suatu unsur, kemudian menyisakan ruang kosong yang tentunya adalah pintu masuk
pada potensi tersendiri. Potensi untuk menulis dan berbagai hal untuk
dituliskan.
Aku
sadar bahwa ini akan terdengar pesimis, aku menulis untuk menemukan keindahan,
meskipun aku akan tetap kecil dan keindahan itu tak tampak, tapi itulah salah
satu cara bagaimana daya tahan dibangun. Maka bertambahlah sisi dari keindahan,
pun sisi lain untuk dituliskan. Pada akhirnya, dengan daya tahan yang membangun
keindahan itu, si bonsai menjadi berharga mahal.
Sampai
di sini, jawabanku adalah, aku menulis sebagai perwujudan dari sikapku dalam
menatap masa depan, kemisteriusannya menyimpan kejutan, kepahitan yang
barangkali berujung pada ‘membonsaikan diri’. Kemungkinan itu perlu diterima,
lalu ditanggapi dengan daya tahan, dan capailah keindahan yang menunjukan
bagaimana seni menjalani hidup.
Aku
menulis untuk membagikan seni tersebut. Lewat dangkalnya keseharian dan dunia
pribadiku. Tapi berusaha menyingkap makna terdalam, akar lembut pohon bonsai di
antara keras batu yang menyembunyikannya. Dan sebagaimana bonsai itu, selama ia
tetap tumbuh di atas medan batu, ia berjuang melampaui dirinya yang di mata
sebagian orang memancarkan keindahan.

0 Komentar