Daily Wisdom #1
Perjanjian dengan Iblis
Pernahkah
kawan terpikir tentang apa itu ‘jahat’? Dengan otomatis kita mengkaitakannya
pada kriminal, perilaku buruk, melanggar aturan moral, dan merugikan orang
lain. Tidak memisahkan pelaku dari tindakannya. Tapi sungguh kita mungkin tidak
akan memikirkannya sebagai seseorang yang secara psikologis memiliki kekebalan
terhadap proses terapi. Lha, bagaimana bisa?
Dalam
bukunya yang berjudul People of Lie, M
Scott Peck mengkisahkan pasien bernama George yang menderita gangguan obsesif
kompulsif (OCD). Mula-mula George merasa cemas ketika melewati sebuah jembatan
dengan pikiran bahwa dirinya akan mati dan tidak berkesempatan untuk melewati
jembatan itu. Masalah ini mulai membahayakan kondisi pekerjaan dan rumah
tangganya sehingga ia harus segera menyelesaikannya. Solusi yang terpikir
olehnya adalah kembali ke tempat yang menjadi permasalahan dan membuktikan pada
dirinya bahwa ia akan baik-baik saja. Untuk sementara waktu hal itu dapat
diatasi olehnya, sampai akhirnya dorongan itu muncul kembali dan memaksa George
melakukan penyelesaian masalah dengan cara yang sama. Lama kelamaan, masalah
dalam rumah tangganya semakin memburuk sehingga istrinya membawa George pada
seorang psikolog neo-freudian.
Selama
menjalani terapi, George tidak mengalami kemajuan. Sampai akhirnya ia
berinisiatif dengan membuat strategi untuk ‘mengecoh’ pikirannya terhadap realitas
masalah yang ia hadapi (kenyataan yang sebetulnya, ia menyembunyikan masalah
dengan berusaha tidak menyadarinya). Inilah yang ia sebut sebagai ‘perjanjian
dengan iblis’: kalau ia menyerah pada obsesi, maka putra bungsunya menjadi ‘jaminan’.
Peck
memandang bahwa fantasi tersebut merupakan kejahatan karena, di satu sisi
membuat George lari dari permasalahan, dan tidak mengenal diri mereka dengan
baik tetapi berperilaku seolah-olah tahu. Orang ‘jahat’ menurut pandangan Peck
terletak pada perbedaan dengan orang sehat sejati yang berbanding terbalik. Orang
yang sejatinya sehat memandang dirinya tidak sempurna tetapi mampu
menyelesaikan masalah sesuai kapasitasnya, sebaliknya orang jahat memandang
dirinya sempurna dalam batas tertentu, memiliki keutuhan, tetapi perilakunya
mencerminkan upaya penghancuran diri sendiri.
Pandangan
Peck ini memperluas tipe klien menjadi neurotik, psikotik, dan jahat. Orang neurotik
tahu masalah tetapi tak mampu mengatasinya. Pada orang psikotik, ia tak
menyadari masalah dan tak mampu mengatasinya. Sedang untuk kasus orang jahat,
ia tak menyadari masalah tapi mampu mengatasinya. Tentunya dengan cara ILK:
berkutat tanpa solusi.
Bagian
yang menarik dari pembahasan ini adalah kebetulan yang bermakna antara kata ‘evil’ dengan ‘live’.
Kebalikan dari live adalah evil, dengan kata lain kejahatan itu
menghancurkan kehidupan, persis, demikianlah hakikatnya. Jauh sebelum Peck,
Nietzsche menunjukan bagaimana seseorang dengan moralitas budak memandang
pemilik moralitas tuan sebagai ‘jahat’. Moralitas budak yang berorientasi pada self-preservation, dengan cara
menciptakan nilai jahat dari kehidupan pemilik moralitas tuan karena kebencian
terhadap eksistensinya, selama sang tuan intim dengan gaya hidupnya penderitaan
budak menjadi ancaman bagi dirinya karena menunjukan kesenjangan yang konkrit,
ketakberkuasaan.
Salah satu komentar Palmquist yang
menyertakan ilustrasi Peck dalam bab “Menamai Kejahatan Pribadi” adalah “kejahatan
sesungguhnya seperti mantra ajaib yang tercetak pada orang-orang, yang
menghalangi mereka dari melihat siapakah diri mereka sebenarnya” (hal 350).
Demikian kutipan tersebut mengakhiri tulisan singkat ini. Mudah-mudahan kita
dapat terjaga dari keadaan tersebut.
Referensi:
Palmquist,
Stephen. (1997). Dreams of Wholeness: A Course
of Intoductory Lecture on Religion, Psychology, and Personal Growth.
Philopsychy Press.
Peck,
M. S. (1983). People ofthe lie: The hopefor healing human evil. New York:
Simon, 86.
0 Komentar