Oleh Moch Faris Dzulfiqar
Dalam tulisan ini saya merasa perlu untuk menyampaikan
insight yang menjadi bagian dari
proyek pembacaan karya Nietzsche. Karya yang dimaksud berjudul “Lahirnya
Tragedi”, yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1872, dan versi yang menjadi
sumber bagi saya diterbitkan oleh penerbit Narasi tahun 2015 (cetakan pertama).
Apa yang saya peroleh sebagai insight merupakan
pandangan tentang kenyataan dan dunia virtual saat ini. Bagi pembaca yang
mengetahui isi buku Lahirnya Tragedi tentu menemukan akan menemukan kejanggalan
dari penyataan saya sebelumnya. Namun, tidak berarti saya berbicara mengenai
omong kosong, melainkan apa yang diperoleh dari metode pembacaan tertentu dan
reinterpretasi di dalamnya. Maka dari itu, pertama-tama menjadi penting untuk
memberi gambaran umum buku tersebut, lalu diikuti dengan metode pembacaan yang
saya maksud.
A.
Gambaran Umum Lahirnya Tragedi
Lahirnya Tragedi merupakan langkah
awal dari proyek yang diajukan Nietzsche terhadap masalah kebudayaan di
zamannya. Semula proyek ini diharapkan dapat melahirkan suatu metode bagi
keilmuan filologi. Sebagaimana judulnya, yang dalam Bahasa inggris “The Birth of Tragedy Out of Spirit of Music”,
merupakan penelusuran terhadap seni drama tragik Yunani kuno yang melibatkan
peran paduan suara. Mengenai seni itu sendiri, dalam pandangan Nietzsche
terbagi atas unsur Apollonian dan Dionysian.
Unsur Apollonian terkait dengan
dewa matahari Apollo. Sebagai sebuah symbol, unsur ini memiliki arti yang mewakili
rasionalitas, dan dunia mimpi. Nietzsche menyebutkan bahwa perwujudan unsur ini
sebagai seni ada dalam karya pahat, lukis, dan drama.
Unsur kedua, Dionysian, terkait
dengan kehidupan dalam figur dewa anggur yang bernama Dionysus. Bertolak
belakang dari unsur sebelumnya, ia adalah symbol yang mewakili kekacauan,
ekstase, dan keliaran. Dalam seni, unsur ini tertuang dalam bentuk musik yang
mengantarkan orang-orang ke dalam kondisi trans.
Dari sini, tergambarkan tujuan dari
judul karya tersebut. Menelusuri kelahiran musik tragik yang menjadi ruh untuk
kehidupan. Berdasarkan tujuan tersebut kita dapat memahami apa yang dimaksud
dengan quote terkenalnya ini “tanpa
musik, kehidupan akan menjadi kesalahan”. Dan puncaknya, dengan semangat music tragik
Nietzsche mengkritik rasionalitas yang akarnya berbentuk sebagai sokratisme.
Sokratisme dianggap sebagai kemandekan karena melawan atau bertentangan dengan
kehidupan.
B. Metode Pembacaan
Perlu saya akui bahwa metode
pembacaan yang saya lakukan bersifat tidak ortodoks, barangkali sampai titik
tertentu dianggap radikal. Maka, saya merasa perlu untuk menyampaikan apologi,
bahwa saya bukan seorang cendikiawan, bukan juga mahasiswa filsafat dan sastra
yang setidaknya dikenalkan dengan filologi dan kebudayaan Yunani kuno. Kami dalam
kuliah psikologi mempelajari mite dan mitos Yunani kuno sejauh ia terkait
dengan teori, misalnya Oedipus complex Freud.
Metode yang saya lakukan merupakan
pendekatan yang ditawarkan dalam buku Faulkner dengan judul Dead Letters to Nietzsche. Gagasan dasar
yang ditawarkan oleh, adalah mendekati teks Nietzsche sebagai bentuk keintiman
dengannya yang nantinya memberi penyingkapan tentang diri pembaca, alih-alih
pada kebenaran dalam teks itu sendiri. Tentunya dikarenakan pertama-tama buku
itu sendiri bermanfaat bagi pembaca bukan pengarangnya. Agar manfaat itu terasa
nyata, maka kita perlu menghadirkan diri sebagai orang yang akan menjelajahi
belantara, dan pengarang adalah pemandu kita. Dengan demikian, Nietzsche perlu
dihadirkan dan diberi ruang, yaitu sebagian dari subjektivitas diri kita, untuk
kemudian diidentifikasi dalam dialog intrapersonal. Urgensi dari tindakan
tersebut dikarenakan teks Nietzsche terbilang unik. Baik dari penyajian dan
gagasan yang diartikulasikannya mengandung resiko besar untuk disalahmengertikan.
Apalagi bila itu dianggap sebagai kebenaran. Lalu apa yang sebenarnya kita
cari? Untuk itulah peran Nietzsche diperlukan sebagai pemandu menuju ke jurang
yang ada di dalam diri kita. Di dasarnya apa yang akan kita temukan bukan
kebenaran, melainkan mengapa kita menginginkan kebenaran itu sendiri, lebih
jauh lagi kebenaran dalam bentuk tertentu dan bukan yang lain.
Pada metode pembacaan yang saya
lakukan, terdapat modifikasi gagasan berupa pembalikan peran. Setelah Nietzsche
selesai membimbing saya ke alam pikirannya, maka giliran saya yang membimbing
Nietzsche ke ruang-waktu masa kini yang menjadi faktisitas (baca: fakta
keberadaan) saya. Titik tolak untuk memandu Nietzsche berangkat dari makna dan
fenomena yang dijelaskan sebelumnya. Melalui proses pembacaan dan
reinterpretasi ini terbuka ruang dialog yang seluas pembacaan mikro (teks dan
wawasan) dan makro (konteks waktu dan ketersituasian dulu-kini-nanti) dalam
satu cakrawala: kehidupan dan persoalan di dalamnya.
C.
Insight
Secara khusus, insight ini
diperoleh dari seksi 8. Bagian ini menguraikan bagaimana pertunjukan drama
terbentuk di dunia Yunani kuno. Uraian dimulai dari pemaknaan sosok satir
sebagai pengikut Dionysus yang mewakili keharmonisan dengan alam, kehidupan,
dan kekuatan seksual. Sosok satir kemudian dikenal sebagai arketipe, kehadiran
arketipe ini memberikan keterpesonaan manusia, secara khusus manusia Dionysian,
terhadap alam. Lalu, dari keterpersonaan tersebut manusia melakukan peniruan
fenomena alam melalui citra-citra yang dibentuk oleh kesenian. Masalah yang
diangkat Nietzsche di antaranya, ‘kekeringan’ seni modern karena mengungkapkan
fenomena estetik sebagai konsep abstrak, berbeda dengan orang Yunani kuno yang
melihat dan menampilkan secara konkrit karena kedekatan dengan alam. Salah satu
penerapan kedekatan dengan alam tersebut terdapat pada bagaimana teater pada
masa Yunani kuno dirancang sedemikian rupa supaya menghasilkan atmosfir yang
alamiah.
Kembali pada sosok satir, lebih
jauh lagi ia merupakan perwujudan dari meleburnya penonton dan paduan suara
dalam pementasan. Dengan cara ini unsur Dionisian melengkapi unsur Apollonian
yang terdapat pada penyanyi individual. Secara bersama-sama keduanya membentuk
dialog, unsur Apollonian menyampaikan pesan pada penonton, dan unsur Dionysian
merangsang emosi penonton melalui paduan suara.
Berikut ini insight yang saya
peroleh:
Dengan
datangnya era digital, menyusul pula era virtual yang dewasa ini semakin
mendekati kenyataan. Di dalam perkembangannya sendiri, mula-mula digitalisasi
dapat dibedakan dengan jelas dari dunia nyata. Seiring dengan berjalannya
waktu, digitalisasi mengembangkan dunia virtual yang semakin interaktif dengan
manusia, dan perlahan mewujudkan ‘copy’ dari kenyataan yang mengikat manusia.
Di antara produk digitalisasi yang penting untuk diamati adalah avatar dan
simulasi.
Alasan mengapa menjadi penting,
pertama ‘avatar’ dalam Bahasa sanskerta
adalah ‘avatara’ yang berarti ‘turun’,
berasal dari gabungan ‘ava’ yang
artinya ‘bawah’, dan ‘tar’ yang
berarti ‘melewati’. Sedang arti kata berdasarkan Oxford Dictionary merujuk pada ajaran hindu, dan ikon yang menjadi
representasi pengguna komputer. Kedua, simulasi, baik Oxford Dictionary dan KBBI, menunjukan adanya fungsi peragaan yang
terkait pada kondisi yang nyata. Berdasarkan hal tersebut, avatar dan simulasi dapat dipandang sebagai aktor dan pementasan.
Hal ini tentunya tidak bertentangan dengan tema yang diangkat Nietzsche, di
sini saya menempatkannya dalam konteks yang baru. Misalnya, Nietzsche berbicara
tentang Admetus yang menyaksikan penampilan aktor bertopeng, ia tidak semata-mata
melihatnya sebagai orang aneh bertopeng, tetapi sosok pahlawan bahkan dewa.
Demikian pula pada avatar, dalam
percakapan di dunia maya kita merasakan kehadiran pengguna lain tidak hanya
dari teks sebagai respon yang diberikan, tetapi tampilan avatar yang dapat dikenali dan memberi kesan. Lebih jauh lagi,
bagaimana kalau kehidupan itu sendiri adalah simulasi? Termasuk avatar itu sendiri merupakan simulasi
dari keberadaan kita? Untuk saat ini, cukup dikatakan bahwa kedua hal tadi
menjadi penting karena kita tidak terlepas dari simulasi, sebagai suatu kondisi
manusia yang mengikuti semangat zamannya. Berada di dalam simulasi dari
simulasi…
Belakangan
ini, saya mengamati bagaimana video game semakin gencar untuk menjadi ‘realistis’.
Tindakan ini meningkatkan kompleksitas simulasi, sebab interaksi itu sendiri semakin
disimulasikan, berbeda dari sebelumnya yang mana simulasi melibatkan interaksi
di dalamnya untuk mencapai tujuan simulasi itu sendiri (tujuan simulasi berada di luar simulasi, misalnya
siswa SMK ditargetkan untuk menjadi pekerja industri, tapi mereka tidak harus
terlibat di lapangan industry pada masa sekolahnya, melainkan melalui praktik
dalam kurikulum. Simulasi dalam praktik tersebut bersifat mendasar, sedangkan
dalam dunia kerja terdapat tuntutan yang lebih dari pada sekedar mensimulasikan
praktik semasa sekolah. Hal ini menandakan adanya evaluasi yang menuntut diri
kita untuk mensimulasikan sesuatu yang sesuai dengan suatu tujuan).
Perluasan
dalam simulasi ini mendekatkan pada kebebasan, pada gilirannya menjadi simulasi
dari kebebasan. (Dengan kata lain,
tujuan dapat ditemukan dalam simulasi apabila simulasi itu sendiri menjadi
simulasi tentang subjek. Salah satu bentuk simulasi ini adalah membuat pilihan
dan mengambil keputusan. Apibila sebelumnya tujuan dijebatani oleh simulasi,
maka kompleksitas simulasi yang dimaksud sebelumnya menempatkan subjek dalam
simulasi sebagai jembatan yang rapuh. Tujuan ditemukan di dalam simulasi ketika
subjek melihat kembali ke dalam dirinya melalui ancaman atau informasi yang
diterima. Tetapi ada kalanya untuk mencapai tujuan itu, dijembatani oleh tujuan
lain, bahkan tujuan orang lain yang mensimulasikan hal itu melalui diri kita).
Tuntutan
untuk membuat segalanya realistis, dalam ukuran sains yang beroperasi di dunia
nyata misalnya, menandakan potensi tertinggi dari simulasi. Simulasi yang
dibuat mensimulasikan apa yang realistis menurut standar sains atau budaya,
atau sekurang-kurangnya bagian pengetahuan milik kita, dapat menipiskan (karena
kita melihatnya sebagai di dalam simulasi)
batas antara apa yang mungkin dan tak mungkin secara nyata didasari pada apa
yang terdapat dan tidak terdapat pada simulasi. Dengan kata lain, yang sebelummya
kompleks dalam dunia nyata dapat dibuat menjadi simpel dalam simulasi, atau
sebaliknya simulasi menyingkapkan kompleksitas dari fenomena nyata yang simpel.
Permasalahan dalam hal itu adalah kita barangkali tidak mengindahkan
ketakpastian, bahwa apa yang disimulasikan seperti halnya eksperimen terkontrol
yang melibatkan varibel dan kondisi tertentu, tetapi karena satu tujuan
tercapai timbul kekhilafan sehingga simulasi dianggap cukup nyata. Bila
kekhilafan itu terjadi, dan didukung dengan kapasitas simulasi untuk semakin
realistis, apa yang disimulasikan sebagaimana tampil di dunia nyata dapat
dianggap mengandung kebenaran. Akibatnya, secara tak langsung simulasi
berpotensi untuk memproduksi kebenaran.
D.
Kesimpulan
Dari potongan karya Nietzsche yang
membicarakan bagaimana sosok satir yang menunjukan kedekatan dengan alam,
pengaruhnya dalam bentuk teater, lalu unsur Apollonian dan Dionysian yang
dihadirkan dalam pementasan, hingga akhirnya terlahir seni drama, menunjukan
keterikatan alam-masyarakat-individu yang secara bersama-sama menghasilkan
semangat terhadap kehidupan melalui fenomena estetik. Pembacaan yang saya
lakukan dengan melibatkan ketersituasian saya di masa saat ini, menemukan bahwa
simulasi yang dihasilkan dari perkembangan teknologi digital menunjukan bahwa
manusia senantiasa memperluas ranah kenyataan melalui hasil ciptaannya, bila
dahulu dicapai melalui kesenian yang mewujud secara fisik salah satunya, kini
terdapat ruang maya yang menghadirkan kembali berbagai hal dalam kenyataan. Pada
taraf tertentu menghasilkan kesan yang membuat simulasi dinilai sebagai
kenyataan. Bila semakin larut dalam kesan itu, konsekuensinya kita cenderung
mengandalkannya sebagai cara untuk mendapatkan kebenaran.
Referensi
Faulkner, Joanne. 2010. Dead Letters to Nietzsche. Ohio: Ohio University Press.
Nietzsche, Frederick. 2015. Lahirnya Tragedi (Terjemahan). Yogyakarta: Narasi.
0 Komentar