Saat berjalan pulang, pikiranku
berangkat untuk menemui berbagai hal yang lama-lama saling terkait. Mula-mula
ia menemui gambaran diriku yang melulu berada di waktu dan tempat yang salah. Tanpa berlama-lama gambaran lain muncul, dan berbagai
konsep-konsep yang kupelajari turut menyertainya. Untuk menertibkan kekacauan
arus lalu lintas pikiran tersebut, sebuah pertanyaan dikeluarkan “mengapa aku
merasakan keterpencilan?”. Alih-alih langsung terjawab, sebuah konsep maju ke
barisan terdepan dan membawakan pesan mengenai pertentangan antara ‘rumah’ dan ‘kediaman’.
Bila dipikir-pikir kembali, aku sedang berjalan menuju rumah tetapi rumah itu
bukan ‘kediaman’-ku, walau sebentar lagi adalah tahun yang ke 21 bagiku di
rumah itu. Aku merasa belum menemukan kediaman bagi ‘Ada’ku.
Rumah sebagai house belum tentu home bagi
kesubjekan diriku. House baru bisa
dikatakan sebagai home begitu aku
kerasan di dalamnya. Mengapa bisa kita bisa merasa kerasan? Bagi Martin
Heidegger, karena kita adalah Dasein,
maka ada dunia yang dimilikinya, dan kemenduniaan tersebut yang membedakan ‘Ada’nya
Dasein dengan ‘Ada’nya benda-benda. Benda
tidak memiliki dunia. Keistimewaan Dasein
dengan mengada di dalam dunia membuatnya mampu memberikan makna pada
benda-benda disekelilingnya. Dan pada gilirannya, makna menjadi ‘kediaman’ bagi
Dasein.
Semoga, keganjilan konsep dan
istilah tersebut tidak membuat Anda terasing.
Bila kita tarik kembali pertanyaan
sebelumnya, keterpencilan diriku adalah antara dunia-ku dan dunia-dunia orang
lain. Sebagai Dasein kita tidak
kesepian di dalam dunianya sendiri, melainkan mengada bersama, Mitdasein. Saat mengada bersama, ada
suka-duka, benar-salah, hal itu memang tak terhindari sebagaimana kehadiran
orang lain yang bisa tiba-tiba.
Soal keterpencilan, ini seperti
berkenalan dengan orang baru, atau berada di dalam perbincangan yang membicarakan
sesuatu di luar minat pribadi. Di hadapan orang yang baru dikenal terasa ada
jarak yang bisa dikikis perlahan-lahan melalui pengetahuan tentang diri
masing-masing. Dalam ilustrasi yang lain, secara tak langsung kita diposisikan
dalam peran yang lebih pasif, di mana
peluang untuk membuat makna dalam dunia kita menjadi eksplisit lebih tertutup. Kita
mungkin terbuka dengan apa pun yang dibicarakan, tetapi makna yang otentik
belum tentu tercipta begitu kita menerima ujaran orang lain. Sebab, apakah ia
bermakna karena isinya menyingkapkan sesuatu untuk kita, atau malah karena
kehadiran penuturnya.
Melalui pertukaran informasi, atau
pun keterbukaan pada wawasan, kita ditempatkan di antara kutub-kutub perbedaan.
Ada yang membuat perbedaan menjadi tegas, ada yang membawa kabut abu-abu dengan
segala keambiguannya, dan ada pula yang mensintesiskan tiap-tiap perbedaan
tersebut. Pengalaman pribadiku menunjukan kalau keterpencilan ditemukan dalam
perbedaan yang ekstrem. Dari mulut jurang perbedaan tersebut, seperti terdengar
suara bergema “be with us!”. Aku
merasakan bahwa keterpencilan ini seperti teror yang dikenakan padaku karena
berada di kutub yang bebeda. Berbanding terbalik rasanya dengan ucapan “be with me” Gabriel Marcel, yang
menceritakan konsep cinta dan komitmen.
Apabila dengan diserukan “be with us” saja ada perasaan
keterpencilan, lalu dapatkah dengan memenuhi seruannya keterpencilan itu
hilang? Dan merasa kerasan? Menemukan kediaman kemudian?
Kemungkinan untuk semua itu ada,
tetapi perlu diingat bahwa terdapat jebakan keterpencilan yang lain. Baik,
umpamakan kita memenuhi “be with us”,
sebelumnya kita memiliki pandangan politik, selera musik, dan tokoh idola
tersendiri, tetapi setelah itu perlahan-lahan kita menjadi seragam seperti
orang-orang lain yang bersama sebagai ‘Us’.
Masalah pandangan, selera, dan idola hanyalah permukaan saja, tetapi pemaknaan
terhadap mengapa kita memiliki pandangan, selera, dan idola yang ini dan bukan
yang lain adalah sesuatu yang dikomunikasikan oleh inti keberadaan kita. Di
mana kita menyadari siapa diri kita dan merasa kerasan. Maka dari itu,
keterpencilan di dalam keterpencilan “be
with us” tak lain dari keterpencilan terhadap diri sendiri. Atau, dengan
kata lain kita lebih mengenal ‘us’
daripada diri sendiri, karena mengucap ulang, membeokan, dan latah pada
pemaknaan yang ditekankan golongan.
Untuk menggambarkan kembali
keterpencilan ini, ada ilustrasi yang menarik tentang peristiwa kemunculan
alien dalam cerita yang mainstream. Entah
sejak kapan, imaji yang dihadirkan ketika alien mendarat atau terdampar ke bumi
diikuti dengan latar belakang hutan belantara. Latar tempat tersebut merupakan
simbol yang kontras dengan peradaban, di mana manusia dan kemanusiaan berada. Lebih
unik lagi, selain piring terbangnya, setelah kemunculan si alien tidak ada hal
lain yang menceritakan asal-usulnya.
Imaji mainstream tentang alien yang konsisten ini membuatku berpikir
tentang proyeksi dalam diri manusia sendiri. Aku membayangkan masing-masing
dari kita di dalam diri membawa ‘kitab hukum’. Supaya berarti, kitab hukum itu
harus disuarakan ke luar, dan dituliskan kembali sehingga menjadi suatu sistem
yang mencangkup ideologi dan budaya. Mari bayangkan, halaman pertama kitab
hukum itu tertulis “hanya dengan berada di antara manusia, kemanusiaan bisa
diwujudkan’. Tetapi karena kondisi alam dan orang lain terkadang kita didorong untuk
menjauhi sesama manusia. Apa yang terjadi selanjutnya? Di halaman berikutnya
tertulis ‘kemanusiaan bisa dibatalkan ketika manusia berhadapan dengan manusia’.
Tentu saja, sebagian besar dari kita tidak menginginkan ini terjadi, bukan?
Dengan keawasan terhadap ayat-ayat
tersebut, gema “be with us” terdengar
untuk memperingatkan teror keterpencilan manusia dari kemanusiaannya. Selanjutnya,
‘us’ menjadi mode untuk menghadapi
tantangan dari alam. Dengan mengatasi alam, dan bercermin padanya, samar-samar
terlihat gambaran diri seorang individu. Lalu, diikuti dengan munculnya
berbagai keinginan yang sekali lagi perlu dijalani sebagai “be with us”. Dengan berkumpul, kita
memiliki kekuatan untuk menjinakan alam dan membangun peradaban. Mendirikan
monumen yang memperingati persatuan sebagai asal-usul kita karena melahirkan
peradaban. Manusia terpencil dari alam, tetapi intim dengan sesamanya yang
hendak mewujudkan kemanusiaan.
Sekarang kita kembali pada si alien
yang terdampar di hutan belantara. Setelah monumen peringatan ditegakan dan
hukum-hukum dituliskan kembali, selama itu berlangsung kewajaran ikut langgeng.
Apa yang dilanggengkan sebagai wajar salah satunya dari kitab hukum adalah ‘dengan
meninggalkan peradaban, manusia menjadi sesuatu yang lain’. Hal ini seperti
yang kita temukan dalam kisah anak-anak yang dibesarkan oleh hewan di alam
terbuka. Meskipun bertubuh manusia, tidak ditemukan jejak-jejak kemanusiaan.
Tapi, apabila yang kita bicarakan di sini adalah si alien, imaji yang dimunculkan
melalui warna kulit abu-abu, mata besar dan gelap, kepala besar, kaki dan
tangan yang kecil, memiliki fitur serangga, tentakel, dan lain-lain, spesies
yang satu menunjukan superioritas intelek, yang lain kebuasan yang tak
terjelaskan. Bahwa ada kemungkinan, dengan beranjak dari peradaban ke alam,
lalu menghadirkan dirinya kembali di antara manusia menjadi ancaman yang
seolah-olah menginvasi kemanusiaan. Melawan “be with us” seolah berarti selalu “against us”. Semua kembali ditempatkan pada kutub-kutubnya yang tak
pernah saling bertemu.
Sejauh ini, kurang lebih seperti
inilah perasaan diriku: seseorang yang terpencil, dan tak berkediaman. Menunggu
dan mencari jejak ‘us’ yang
menyediakan kediaman untuknya pulang.
0 Komentar