Cinta dan Hari Valentine


Image by The Apopka Voice

Salam, salom, shanti, sadhu, sampurasun…

Izinkan saya memulai dari kegelisahan pribadi. Dulu setiap kedatangan tanggal 14 februari, saya segera merapat ke barisan ‘f*cklentine’, atau sekedar menikmati lagu ‘Valentine Day’ dari Linkin Park. Namun akhirnya saya memilih diam – tidak berpihak pada mereka yang pro ataupun kontra. Mengapa dulu saya lakukan itu? Tentunya karena saya jones, atas nama keheranan pada cinta yang tiba-tiba bersemi, klimaks, lalu layu. Tak cuma di situ, pikiran naif saya juga bertanya-tanya mengapa cinta perlu dirayakan ketika pasanganmu masih bisa ditemui dengan berbagai cara, kapan saja kalau mau. Mungkin yang lebih penting untuk dipertanyakan adalah apakah perayaan satu hari (yang difasilitasi) dapat menunjukan kualitas cinta? 
 
Bagian Slide Presentasi Javeria Qureshi
Pertama-tama mari kembali ke masa lalu, ketika para dewa belum terusir dari teritori misteri yang menyelimuti segala sesuatunya di dunia manusia. Kembali ke musim semi di tanah Romawi kuno abad ketiga, tepatnya di depan kandang domba di mana dewa Lupercus sedang berjaga dari teror kawanan serigala. Di saat yang sama, penduduk setempat merayakan syukuran yang disebut Lupercalia, di mana mengundang serta dewi Juno Februata yang membawa kotak undian berisi nama para gadis. Lalu laki-laki yang beruntung akan dinobatkan sebagai ‘pasangan tahun ini’ mulai bulan maret. Mungkin dari sini tradisi bertukar surat cinta terjadi pada hari Valentine.

Dengan bergantinya zaman, perayaan Lupercalia berganti menjadi St. Valentine yang punya beragam cerita[1]. Penggantian nama dimaksudkan untuk menutup kesan pagan dan membuat perayaan tersebut menjadi lebih bermakna. Tak cuma nama harinya, undian nama-nama gadis diganti menjadi nama para orang suci supaya pemuda waktu itu meneladani kehidupan orang suci.

Bagaimana rupa valentine masa kini? Bunga, coklat, merchandise, balon dan balon (salah satu jenis yang bukan untuk ditiup), kartu ucapan, dan yang terbaik: cincin kawin. Selain itu banyak tempat yang turut memfasilitasi seorang insan untuk mengekspresikan cinta dan kasih sayangnya. Pada 14 februari dunia tercipta untuk sepasang kekasih.

Memang betapa indahnya bila dunia dipenuhi cinta dan kasih sayang. Namun, apakah kualitas cinta yang tiba-tiba hadir di hari ini senilai dengan harga hadiah yang diberikan? Tentu tidak, daripada membandingkannya dengan rupiah kita lebih setuju dengan lamanya waktu yang dihabiskan bersama. Bagaimana tiap momen sebisa mungkin dirangkai dan dinikmati supaya berkesan. Akhirnya pada usaha yang telah dilakukanlah kita berkaca dan berpuas diri.

Barangkali kalau dirumuskan akan jadi seperti ini, C = rasio momen baik:buruk. Namun, menurut kegelisahan pribadi, momen yang diupayakan itu rasanya kebanyakan didukung oleh fasilitas khas hari ini. Terlalu instan, selamat untuk Anda yang melakukannya dengan memanfaatkan kreativitas. Hadiah yang dibuat dengan tangan sendiri memiliki nilai lebih dengan karena suatu hal. Anda baru saja mengaktualisasikan diri. Pandai bermusik? Bernyanyilah! Pandai menggambar? Melukis, buat sketsa! Pandai memasak? Buat kue! Mengapa kreativitas menjadi penting? Karena kemampuan ini menjadi tiket menuju cinta tersembunyi: mencintai diri sendiri. Bukankah berarti terutama bila seseorang mengupayakannya dari nol, dari tidak bisa apa-apa menjadi bisa dan menghasilkan sesuatu walau semampunya. Dari berniat untuk menunjukan cinta pada orang lain, ditutup dengan mencintai diri sendiri dan mensyukuri kemampuan yang menyertainya.

Saya menulis ini dengan rasa was-was dan kecurigaan kalau di masa mendatang cinta sekedar barang dagangan, diobral. Cinta menjadi tak terbedakan dari objek yang menyimbolkannya: selalu bunga mawar dan coklat berbentuk hati yang belum tentu selezat L’agi*. Terlebih ketika barang dagangan ini membawa cita-cita merek dagangnya, maksud saya di sini mengerucutkan pada satu jenis cinta yang layak dirayakan: cinta romantik yang dibumbui passion liar sampai erotik. Padahal masih banyak ekspresi dan wujud cinta yang layak dialami dan dikenal, misalnya menurut teori segitiga cinta Sternberg[2]. Patut juga dipertimbangkan bahwa cinta romantik yang terlihat indah dalam imajinasi dan layar bioskop belum tentu mengatasi kebutuhan secara eksistensial, yang mana berakar dari keterasingan dan keterpisahan. 

Sternberg menunjukan bahwa cinta memiliki tiga komponen: intimacy, passion, dan decision/commitment. Komponen intimacy merujuk pada kedekatan dan adanya ikatan. Lain dengan komponen passion yang terarah pada penampilan, daya tarik seksual, dan tindakan yang romantis. Terakhir, komponen decision/commitment yang berorientasi pada keputusan jangka waktu berhubungan serta komitmen untuk mempertahankannya. Dengan demikian, sebagian besar komponen tersebut bisa diduga  bersumber dari afeksi (intimacy), motivasi (passion), dan kognitif (decision/commitment)[3].

Nah, selanjutnya komponen tersebut saling beririsan satu sama lain dengan kadar tertentu sehingga ada bermacam-macam jenis cinta[4]. Kalau tidak ada tiga-tiganya, bukan cinta alias nonlove. Kalau Cuma intimasi saja? Liking. Pasanganmu cuma passion? Berarti dia baru menemukan cinta dalam padangan pertama, bahasa ilmiahnya menurut Sternberg: infatuated love. Kalian udah lama berpasangan tapi kurang mesra sekaligus enggan putus? Tampaknya empty love, tapi jangan berkecil hati dulu karena bisa jadi ini awal yang baru bila dinaikan ke level yang lebih serius. Kalau intim iya, passion iya? Romantic love. Bedanya dengan intim sekaligus berkomitmen? Itu namanya companionate love. Ngomong-ngomong kalau artis yang sering digosipin kawin-cerai apakah masih ada cinta? Ya, rumusnya passion + decision/commitment. Bagaimana kalau komponen itu ada tiga-tiganya? Consummate love, ditempa lewat perjuangan baik pada pasangan romantik ataupun antara orangtua dan anaknya.

Kembali ke persoalan cinta di hari valentine, terutama peran penting kreativitas sebagai upaya untuk mengekspresikan cinta. Saran saya di sini adalah coba gunakan potensi dalam diri dan berjuang untuk mempersembahkan hadiah sekaligus menuju consummate love. Memang tak otomatis akan menjadi cinta semacam itu. Namun, masa setelah bersama-sama untuk beberapa waktu tak ada kesan mendalam yang bisa diwujudkan dengan cara ‘seniman bekerja’. Jangan kalah dengan laki-laki dalam iklan rokok soal berkarya!

Terlepas benar salahnya dugaan saya, semua ini hanya bahan refleksi dan introspeksi diri. Kalau pembaca kurang suka, anggaplah ini sekedar khayalan tingkat tinggi penulis saja. Akhir kata, selamat bercinta, anu, merayakan cinta.



[1] Terdapat legenda mengenai St. Valentine yang menikahkan beberapa pasangan secara tersembunyi ketika ada larangan untuk menikah dari penguasa, kaisar Claudius. Adapun versi lain mengenai St. Valentine yang menyembuhkan kebutaan anak gadis penjaga penjara, bahkan rumor mengenai surat cinta dari sang Santo untuk gadis tersebut. Atas jasa-jasanya St. Valentine dihukum mati.
[2] Sternberg, R. J. (1986). A triangular theory of love. Psychological review, 93(2), 119.
[3] Ibid., hal. 119.
[4] Ibid., hal. 123.

Posting Komentar

0 Komentar