‘Pesta Perpisahan’[1],
judul novel Milan Kundera satu ini entah mengapa malah terdengar sebagai ‘pesta
penderitaan’ manakala saya baca sampai tuntas. Jangan-jangan karena pesta
tersebut tak lain adalah perayaan atas penderitaan? Ini absurd tentunya, mengingat
kita berpesta tak lain demi bersuka cita itu sendiri, menegasikan penderitaan
untuk sejenak. Pesta akan lebih pantas kalau dilihat sebagai upaya untuk
melarikan diri dari penderitaan yang mendiami kenyataan sehari-hari. Malah
pesta itu sendiri menunjukan kalau manusia mampu bangkit bersama kesenangan di
atas puncak penderitaan. Kemungkinan bahwa hidup itu berarti, bahwa kelahiran
kita ke dunia bukan untuk menderita. Bila memang untuk menderita,
kemungkinannya adalah anugerah tertinggi dari seorang ibu bukan kelahiran,
melainkan aborsi!
Mari kita datangi pesta itu, ke sebuah kota
dengan spa pemandian air panas yang termasyur, di kompleks di mana klinik
praktek penyuburan Dr Skreta dan gedung Karl Marx berdiri. Singkat cerita,
tempat tersebut setinggi reputasi Dr Skreta yang membuat ‘keajaiban’ dalam
prakteknya. Tak ketinggalan bertugas pula perawat wanita, yang satu berparas
cantik juga dimahkotai rambut pirang, Ruzena, yang satunya biasa-biasa saja,
Olga namanya. Si cantik Ruzena ternyata telah berbadan dua, dan dia menduga
kalau musisi terkenal yang pernah ditemuinya bertanggung jawab untuk itu, Klima
si peniup terompet. Bagaimana dengan Olga? Dia baik-baik saja, hanya ingin
dicintai sebagai kekasih oleh Jakub – kawan lama dari ayahnya, di saat yang
sama korban tuduhan pengkhianat darinya. Selama lima hari tour Anda di kota dan kompleks ini, Anda akan menyaksikan siasat
Klima untuk menolak tanggung jawab sebagai ayah, sekaligus mengelabui istrinya
yang pencemburu – kamila. Namun berbanding terbalik dengan Klima, Jakub tampak
berusaha memerankan sosok Ayah bagi Olga. Di atas mereka masih ada sosok ayah
lain, layak juga dikatakan ayah yang ideal, dia menghuni gedung Karl Marx. Rasanya
pesta dan perjamuan tak akan lengkap tanpa tokoh ini, Bartleff, miliader tua
berkebangsaan Amerika.
Bagaimana Milan
Kundera mengundang wacana aborsi dan tema penderitaan dalam kehidupan manusia
secara bersama-sama untuk berdansa di dalam pesta ini? Tentunya dengan
menghadapkan tokoh-tokoh tadi ke sebuah cermin yang diambil dari kesadaran
masing-masing. Dan Anda akan melihat bagaimana mereka saling bergandengan, atau
malah menjadi lawan bagi sesamanya.
Kita mulai dari
Ruzena, dia dikontraskan dengan pasien Dr Skreta yang terdiri atas para ibu-ibu
mandul. Kemudaan dan kesuburannya di saat yang sama dikontraskan dengan
kekosongan, kebekuan, bahkan keangkeran yang mendekati kematian. Pertama
kekosongan dalam dirinya, berulangkali ditunjukan bahwa Ruzena tidak memiliki
sikap yang mantap, mudah terpengaruh dan menerima pendapat orang lain. Dia
kosong dari pengetahuan dan pengalaman tentang kehidupan, termasuk masalah
cinta. Misalnya ketika Ruzena membicarakan kembali pertemuan dengan Klima pada
teman-temannya[2].
Ruzena tak punya pilihan untuk berkata sejujurnya: “Dia bilang dia akan membawaku ke Praha. Dia akan mencarikan aku kerja di sana. Dia bilang akan membawaku berlibur ke Italia. Tapi dia tak mau kami direpotkan oleh seorang bayi. Dan dia benar. Tahun-tahun pertama adalah saat menyenangkan. Kalau kami punya bayi, kami tidak akan bisa saling menikmati.”Suster yang lebih tua menahan nafas. “Apa kamu ingin menggugurkan?”Ruzena mengangguk.
Teman-temannya bahkan
bisa tahu kalau Ruzena dibuat mabuk, dan selanjutnya mereka memabukan Ruzena
dengan iming-iming untuk mendapatkan Klima seutuhnya kalau bayi itu tidak
digugurkan. Selanjutnya, Ruzena merasa tak berdaya seperti gadis kecil. Di sini
terlihat bahwa dia belum menyadari kekosongan tersebut karena terpikat
oleh sosok Klima, sekaligus terikat oleh Franta – seorang mekanik yang
naif dan kekasihnya. Dalam hidupnya, Franta diceritakan sering memata-matainya
dan berusaha untuk mengejar dirinya. Secara bersama-sama kedua kondisi tersebut
menunjukan kondisi psikologis Ruzena, terutama ketika ayahnya ditampilkan
sebagai sosok dominan yang suka mengawasinya dan mengatur hidupnya. Hal ini
tergambarkan dengan jelas ketika ayahnya yang bertugas sebagai ‘pasukan
penangkap anjing’ beraksi di depan matanya[3].
Ruzena menyaksikan semuanya, tapi dia menganggap semua itu hanya merupakan suatu refleksi atas kisah sedihnya sendiri: dia adalah seorang wanita yang terperangkap di antara dua dualisme. Dunia Klima yang menolaknya, sementara dunia yang ingin ia jauhi (Franta yang biasa-biasa saja, membosankan, terabaikan, dan apa adanya) memburunya seperti pasukan yang tak berperasaan ini, seolah dia pun sudah mau diseret dengan jerat.
Jelaslah kalau Ruzena
menemui jalan buntu sehingga kehidupannya, batinnya, membeku bahkan
mengarahkannya pada sebuah bentuk kematian.
Sekali lagi Ruzena dikontraskan dengan kehadiran sosok lain, Olga yang lebih
hidup karena hasratnya pada Jakub, dan Dr Skreta si titisan ‘dewa kesuburan’.
Semakin dia menyusuri arah ke kematian, semakin dekat keterkaitannya dengan
tokoh yang paling dia benci, Jakub. Kolega Dr Skreta ini digambarkan sebagai
tokoh misantropi yang pernah merencanakan untuk bunuh diri selama
bertahun-tahun dengan menelan pil alkaloid racikan Skreta sendiri. Kebenciannya
pada kehidupan tersirat ketika dia mengabaikan Ruzena.
Meski sepele dan menggelikan tapi itu merupakan penghinaan langsung dan terang-terangan: lelaki itu tak peduli pada tubuhnya yang menggairahkan dan rasa bangga yang ia perlihatkan. Ia menyangka kalau Jakub berupaya menyapanya tapi ternyata malah berbicara dengan seekor anjing[4].
Ironisnya, seorang
Jakub yang dinaungi malaikat maut ini telah menyelamatkan kehidupan seekor
anjing dari kematian sia-sia karena ulah pasukan penangkap anjing yang
menghukum hewan itu atas perilaku naluriahnya: buang kotoran sembarangan. Sebelumnya
Jakub pernah mengutarakan pikirannya tentang motif dan nurani dibalik hukuman
mati, menurutnya kalau hal itu dihilangkan, maka manusia sudah bukan manusia
lagi. Dan Olga mengamini pendapatnya[5].
“Aku menyukai sikap orang-orang sepertimu!” Seru Olga seolah berpidato didepan seribu orang seperti Jakub. “Dengan mengubah seluruh manusia jadi pembunuh, maka pembunuhan yang kalian lakukan tidak lagi menjadi suatu perbuatan kriminal dan akan menjadi sifat dasar dari ras manusia!”
Pendapat tersebut
menjelaskan hasrat Olga pada sosok Jakub, pesan tersirat yang menyatakan bila
untuk membunuh saja perlu motif, demikian juga untuk melanjutkan kehidupan,
termasuk dalam kelahiran. Tidak berlebihan juga, terutama bila mempertimbangkan
perubahan bentuk relasi antara keduanya, dari ‘ayah-anak’ menjadi sepasang
kekasih yang diikat lewat hubungan badan. Dalam kasus mereka, hasrat dan cinta yang
mungkin menjadi motif dari kelahiran, lagi-lagi ini kontras dengan kenyataan
yang dialami oleh Ruzena. Ketiadaan cinta, tanggung jawab, dan hasrat. Tanpa
itu semua apakah seorang manusia layak untuk dilahirkan?
Mari kita hampiri
kembali si perawat cantik yang masih terpaku dalam kebimbangannya. Seandainya
dualisme dalam dirinya diceraikan akan menjadi siapa dia? Bila menerima Klima
dia akan menjadi Kamila, mengalami kemandulan dalam arti ini: dibutakan oleh
pesona Klima dan tak memperoleh sosok pengganti dari sang kekasih, bayi. Namun,
bila menerima Franta jelaslah dia akan menjadi seorang Olga. Pemahaman tersebut
dicapai oleh Ruzena sendiri manakala menyaksikan rasa malu Olga ketika kru film
meliput dia dan ibu-ibu di kolam pemandian[6].
Wanita-wanita di kolam itu merupakan suatu inkarnasi dari kewanitaan universal: kewanitaan abadi untuk melahirkan anak, menyusui, membersarkannya, dan kemudian menjadi layu, kewanitaan yang sekejap tertawa saat seorang wanita pecaya dia dicintai dan merasa diri mereka lain dari diri yang lain.
Tak diragukan lagi
Olga merasa dicintai Jakub walau secara kebapakaan. Namun di posisi Ruzena,
Franta yang seorang mekanik – latar belakang sosiologisnya tersebut –
membuatnya sadar akan takdir seorang wanita yang terikat pada hukum reproduksi,
instrumen alamiah, dan sebaik-baiknya instrumen adalah yang dapat berfungsi
sebagaimana kodratnya.
Saya kira Ruzena
adalah sosok yang dekat dengan kehidupan dewasa ini, terutama pada remaja yang
hamil dini. Kehamilan tidak otomatis membuat seorang wanita memiliki naluri
keibuan, transisi ini perlu didorong oleh sosok ayah yang siap bertanggung
jawab. Bila tidak nasib Ruzena yang bakal menimpa: terenggut kemudaannya dan
layu terlalu dini.
Sejauh ini, dari titik
mana dunia digambarkan sebagai tempat penuh penderitaan yang sia-sia? Selain
anjing-anjing yang diburu dan dalam upaya para ibu untuk menyuburkan kandungan,
mata Bartleff dan Jakub dapat meneropong ke sana. Tokoh Bartleff si tua kaya
raya ini digambarkan seolah hedonistis sekaligus bijak, religius, dan romantis.
Seperti juga Dr Skreta, Bartleff menciptakan keajaiban ‘mistis’ yang salah
satunya digambarkan oleh kehadiran nyala cahaya kebiruan dalam apartemennya,
cahaya yang sama dia lukiskan dalam potret santo Lazarus. Menurut penuturannya,
cahaya biru itu adalah anugerah atas keintiman orang suci dengan Tuhannya,
cahaya surgawi. Saya kira tidak terlalu berlebihan untuk menyatakan bahwa
Bartleff di sini adalah gambaran semangat Nietzschean yang optimistis. Hal ini
sejalan dengan kelimpahan harta dan kepuasan dalam hidupnya, terutama dalam
pendapatnya saat berdebat dengan Olga tentang kehidupan orang suci yang
semestinya askestis[7].
“Anda tidak memahami orang suci sama sekali, Olga yang baik. Mereka adalah orang yang penuh hasrat untuk menikmati kegembiraan hidup. Hanya, mereka meraihnya secara khas. Menurut Anda apa kenikmatan hidup tertinggi yang bisa diperoleh manusia? Bahkan Anda pun tak sanggup membayangkan jawabannya karena Anda tidak cukup tulus. Ini bukan celaan karena ketulusan memerlukan pemahaman diri, dan pemahaman diri memerlukan suatu kematangan tertentu. Lalu bagaimana seorang gadis yang memancarkan kemudaan bisa tulus? Tentu saja dia tidak bisa karena dia tidak memahami dirinya yang sejati. Tapi begitu dia tahu dirinya yang sejati, dia akan setuju dengan saya, bahwa kenikmatan terbesar manusia adalah dikagumi.”
Lain Bartleff, lain
juga Jakub yang bertolak belakang dengannya. Sebagai seorang yang berpandangan
pesimistis Schopenhauerian, dia melihat hanya ada dorongan buta yang
mengendalikan perilaku reproduksi manusia. Dorongan tersebut bahkan bisa
mengalahkan hasrat seorang pria pada payudara[8]
– menukar keindahan alami tersebut demi kelangsungan hidup walau mengurangi
nilai estetisnya.
“Dokter kita di sini pasti membenarkan bahwa wanita yang memilih aborsi dilayani jauh tidak simpati oleh staf medis ketimbang staf yang mengandung. Para perawat memperlihatkan penghinaan kepada wanita yang menjalani aborsi meski mereka sendiri bisa saja harus menempatkan diri pada mereka pada prosedur yang sama suatu saat dalam hidup mereka. Tapi ketidaksukaan itu memang jauh lebih kuat dari logika karena pemujaan terhadap kesuburan yang merupakan suara alamiah. Itu sebabnya merupakan suatu kesia-siaan mencari logika dalam propaganda untuk pertambahan penduduk. Dalam moralitas kependudukan yang dikhotbahkan Gereja apakah Anda mendengar suara Yesus? Atau, apakah menurut Anda posisi resmi komunis tentang pertumbuhan penduduk menggemakan suara Marx? Setiap hasrat untuk melestarikan spesies akan berakhir dengan pembunuhan akan spesies itu. Tapi propaganda terus berjalan, dan masyarakat umum tergerak untuk menitikan air mata oleh gambar seorang ibu yang menggendong bayi atau gambar bayi yang sedang menyeringai. Hal itu membuat aku jijik. Saat aku membayangkan diriku membungkuk di kereta bayi dengan senyum idiot , seperti jutaan bapak lain yang linglung, aku jadi ngeri.”[9]
Dari kacamata
Bartleff, penderitaan memungkinkan manusia untuk menikmati kebahagiaan hidup
karena pemahaman akan eksistensinya yang absurd, akan tetap absurd bila
menyerah pada penderitaan. Dengan menemukan diri sendiri, dan terbuka pada
hasrat yang dikandungnya, tidak ada alasan bagi seseorang untuk tetap
menderita, dia justru mesti berbahagia. Sebaliknya pada Jakub, kesengsaraan
dalam hidup yang memang nyata ini sebaiknya tak usah diperpanjang. Manusia yang
berbahagia adalah manusia yang tak pernah dilahirkan.
Sampai sini, kira-kira
di mana posisi pengarang terhadap wacana aborsi tersebut? Menurut saya, kita
perlu menilik kembali jenis ‘kehidupan’ yang diperlihatkan oleh Milan Kundera.
Hal ini tampak dari tokoh Klima, Jakub, Bartleff, dan Dr Skreta.
Klima tak bisa
mencintai wanita lain selain Kamila, dan tampaknya kemandulan bukan masalah
baginya. Tanpa anak, tanpa tanggung jawab, hanya cinta, namun tanpa komitmen.
Seperti juga keterpanaan Kamila padanya, Klima diperdaya oleh pesona yang sama.
Konsekuensinya dia tertahan pada kondisi egosentris, puncaknya memaksakan
Ruzena untuk mengaborsi mereka dan dia kehilangan darah sebagai gantinya. Bentuk
kehilangan tersebut tampak menjadi simbol bahwa kehidupan malah kehilangan
vitalitasnya.
Jakub mengira dia telah
membunuh Ruzena, dan dia memang melakukannya. Dia bahkan tidak sungguh-sungguh untuk
menyelamatkan Ruzena dari pil bekal bunuh dirinya. Peran Jakub di sini seolah
memperingatkan kalau kehidupan tercemar racun manakala mengambil keputusan
seperti Ruzena: dia sudah menemukan kehidupan baru melalui Bartleff, tetapi
masih menuruti keinginan Klima, dan menolak kemungkinan takdir universal wanita
yang dihadiahkan bersama tanggung jawab dari Franta. Jakub secara tak langsung
membuat sebuah ramalan tentang nasib manusia: terjerumus pada pembunuhan tanpa
motif apa pun. Jika Ruzena mati dalam proses aborsi, kemungkinannya Klima akan
menggahadapi tanggung jawabnya dan sadar kalau dia menginginkan si perawat. Namun
pada kenyataan adalah kematian yang terlihat kebetulan, bahkan diasumsikan
bunuh diri, sementara si pembunuh bebas berkeliaran seraya bimbang mencari apa
motifnya. Pada akhirnya, pembunuh macam ini akan tersingkir dan berakhir
sendirinya, hal ini diperlihatkan dalam perjalanan Jakub pergi meninggalkan
negeri yang tak pernah dia coba untuk dicintai. Kepergian Jakub, menunjukan
kalau gagasan praktik penyuburan Dr Skreta lebih diterima orang banyak, bahkan
anugerah bagi para wanita mandul.
Bartleff membuat
keajaiban bagi Ruzena lewat aktivitas bercinta. Momen tersebut merupakan titik
balik Ruzena untuk kembali menjadi milik dirinya sendiri. Dia tidak terbebani
oleh bayi, dan bayangan Klima juga Franta. Di saat yang sama Bartleff
membantunya untuk menerima kesementaraan masa muda, namun panjang umur untuk
kebahagiaan. Memberikan pemenuhan untuk kebutuhan akan dikagumi yang selama ini
tidak didapat dari kehamilannya. Dan dengan dikagumi dia merasa memiliki
dirinya sendiri.
Terakhir, Dr Skreta, metode
penyuburannya ikut menyumbangkan jenis kehidupan regeneratif yang dekaden.
Jenis kehidupan yang ditawarkannya bekerja di saat krisis, di mana muncul
pertanyaan apakah kehidupan benar-benar berharga untuk diteruskan walau
generasi pewarisnya mengalami kecacatan? Pasien yang diobatinya memiliki anak
yang mewarisi wajah dan ciri sang Dokter. Jakub bahkan merasa ngeri pada
miniatur Skreta yang mungkin akan memenuhi negeri itu di kemudian hari. Dan
seperti dirinya pula jenis kehidupan ini berada di luar hukum (moral), Jakub
bahkan mengamininya dan berpikiran kalau orang bisa menoleransinya.
Tampaknya posisi
pengarang secara tegas diperlihatkan oleh kematian Ruzena dan kepergian Jakub.
Kematian yang mengikuti dalam tindakan aborsi menjadi harga bagi tindakan itu
sendiri. Dia bukan kehancuran bagi individu semata, tetapi konsep kesuburan,
wanita, bayi, dan hubungan manusia dengan pencipta yang menganugerahi kelahiran.
Sementara pandangan Jakub tidak mungkin untuk dijalankan, secara sederhana
karena manusia masih menjadi manusia. Namun masih ada hal yang Milan Kundera
hadapkan pada perenungan kita. Terutama mengenai peran Dr Skreta. Untuk saat
ini dia berada di luar hukum, dan meneruskan kelahiran Skreta-Skreta tiruan. Tidakkah
itu menganggu, terutama gagasan bahwa setelah kebanyakan manusia di negeri itu
berkerabat dalam ke-Skreta-an, incest
yang semula tabu justru jadi diterima? Apakah kelahiran dari hubungan ini layak
bagi kehidupan? Atau aborsi keluar sebagai nilai yang mulia dibanding
kehidupan?
Selama kita belum
menemukan jawabannya lanjutkan saja segala macam pesta. Kehidupan selalu
memberi tempat untuk itu, juga generasi baru yang memiliki kesempatan sama
dengan kita. Akhir kata sebagai ucapan perpisahan, “Au revoir!”
0 Komentar