Kepada Herr Doctor Jung, 3 Februari 2018
Terima kasih sudah menulis buku 'Memories Dreams Reflections' untuk dunia. Anda mungkin tak menyangka kalau jauh di belahan bumi asia tenggara yang terlintasi oleh garis katulistiwa, adalah sebuah negeri di mana para 'roh' belum punah. Kalau titik balik kemajuan Eropa mengarah pada eksplotasi alam, di negeri kami yang eksotis justru mengarah pada eksploitasi 'roh', dan setelah itu barulah alam. Melihat kondisi ini, Anda pasti paham bila kemudian akan hadir di antara kami seseorang yang menuliskan Septem Sermones Ad Mortuos. Kelihatannya akan butuh dua orang untuk itu, satu menulis untuk para 'roh', satu untuk 'orang mati' yang belum waktunya dikubur. Kami harap Anda akan tersenyum dan sudi menjumpai penulis beruntung itu: karena mereka akan memberi warisan penting untuk generasi mendatang, prinsip individuasi.
Sekali lagi terima kasih sudah menulis buku tersebut, karena secara pribadi saya berhutang pada Anda untuk wawasan mengenai diri sendiri. Teka-teki dalam mimpi juga kecemasan saya pada masa depan kini tampak lebih jernih daripada langit Bandung belakangan ini. Saya bersyukur berkesempatan untuk menyelesaikan buku Anda, apalagi sejak akhir tahun kemarin saya kembali dihantui oleh keinginan untuk menyelamatkan diri dan masa depan lewat jalur pernikahan. Gema keinginan itu seringkali diceritakan melalui mimpi beberapa waktu lalu. Mengapa saya melihat ini sebagai penyelamatan? Karena dari sekian banyak manusia, juga selain dari keluargaku, ada satu orang yang tak ingin melihat saya menghancurkan diri sendiri. Bagaimana cara menghancurkan diri tersebut? Dengan keakraban berlebih pada rasa sepi, dengan menjadi musafir yang tak punya tujuan, dengan membuat Tuhan 'kehilangan kesabaran'-Nya. Semua itu diperparah dengan kekecewaan pada diri sendiri, seberapa banyak kebaikan yang terbukti secara objektif pun saya merasa diri ini tak berharga. Situasi saya cukup sulit, mengingat ikatan menjelma racun, di satu sisi saya membutuhkannya, tapi dapat melukai saya karena beban moral semacam ini, "keberadaanku telah membuat orang lain merasa sendirian!" (Sungguh tulisan yang menyiksa)... Belum lagi tetap sulit karena saya tak tahu perempuan seperti apa yang saya dambakan. Intuisi dan perasaan saya tumpul dalam urusan ini... Baik, kembali pada manfaat karya Anda, saya kagum pada dimensi spiritual dan psikologis dari pernikahan yang Anda tuliskan. Anda membantu saya melihat bahwa dalam berinteraksi dengan orang lain yang bahkan tak dikenal sama sekali, tidak hanya niscaya karena adanya trust tetapi juga faith. Dalam pengalaman Anda, tersingkap bahwa secara ontologis kita semua adalah satu, namun masing-masing dari kita mendahului keberadaan sesamanya di dunia yang terbatas oleh ruang dan waktu. Barangkali saya harus menemukan faith pada seorang wanita yang ingin kunikahi. Sebuah faith yang membuatku berjumpa dengan Allah pada dirinya. Dan dengan indah Anda menunjukan kalau faith di antara dua insan tersebut membuat zaman tak kuasa menghapus perasaan, dan maut bukan lagi pelakor atau pebinor yang mencuri segalanya, melainkan cincin kawin yang menunggu dalam pesta di alam baka.
Salam Hormat, Mochamad Faris D
0 Komentar