Deskripsi
Sebelum mimpi ini
muncul, selama seharian saya menghabiskan waktu dengan membaca ‘Inferno’ karya Dante Alighieri. Ketertarikan
saya pada karya ini dikarenakan panggilan untuk mengetahui bagaimana Dante
memandang neraka sebagai metafora dari konsekuensi untuk seseorang yang
menyalahgunakan kecerdasan dan potensi spiritualnya (sampai penulisan catatan
ini, kata ‘spiritual’ dan saya sebagai pribadi adalah dua hal yang tidak dapat
duduk sebangku).
![]() |
| Blue Beard by Nora Aoyagi |
(Mimpi
sebelumnya tak diingat lagi)… dari sudut pandang orang ketiga, aku melihat pada
sebuah bukit yang kakinya menyinggung bantaran sungai. Rumput di bukit itu
mengering, dan banyak guguran daun bambu. Lama-lama tampak jelas bahwa banyak
sampah yang menumpuk dari puncuk sampai punggung bukit tersebut. Entah mengapa,
rasanya aku mengenali panorama dan suasana di sini. Terutama pada kenampakan
sungai dan rerimbunan bukit satunya yang dipisahkan oleh sungai tadi. Seharusnya
pada bukit bersampah terdapat jalan kecil yang terhubung dengan jalan raya
(dari tempatku memandang) juga perumahan. Ada
kesan kalau tempat ini merupakan kawasan di jalan Siliwangi, di mana sekarang
terdapat Taman Babakan Siliwangi. Tiba-tiba muncul sebuah baliho yang
menutupi pemandangan bukit sampai ke puncaknya. Baliho itu bergambar
pemandangan hutan mapel yang kian memasuki musim gugur pada gambar yang
menurun. Bila diperhatikan dari dekat, tampaklah kalau gambar tersebut dilukis
menggunakan cat minyak dengan detil yang mengangagumkan. Dibuat secara
ultrarealis, serasa masuk kedalam lukisan dan berada di dalam hutan walau hanya
mengamati. Secara mendadak, muncul tulisan mengenai prosedur pengolahan sampah
yang dibuat perpoin. Saat diamati lagi, aku dapat masuk ke dalam baliho
tersebut dan menemukan kalau sekarang aku berada di sebuah ruangan yang
paralel. Entah bagaimana susunannya, tapi di sana ada koridor dari bangunan
yang ditinggalkan, sebuah tempat mirip ruang tunggu, dan lorong yang terlihat
seperti dalam wahana waterboom.
(Sudut
pandang berganti menjadi orang pertama dengan latar tempat ruang tunggu. Di sini
saya adalah seorang pangeran perdarah Persia-India. Saya ditemani oleh sepasang
suami istri berdarah Arab. Hanya sosok si Suami yang tergambar dengan jelas,
dia mengenakan gamis, bersorban, dan perawakan yang besar membuatnya lebih
mirip seperti karakter jin dalam kisah Aladin).
Aku
banyak berinteraksi dengan si pria Arab: berbincang-bincang, bertukar tarian
khas dari tempat asal, dan berkeliling dari tempat itu sampai ke sebuah taman
lalu kembali ke ruang tunggu. Salah satu yang dibicarakan olehnya adalah
nasehat dalam bentuk gurauan kaum sufi untuk diriku. Di tengah kebersamaan
kami, aku sesekali main mata dengan istri si pria Arab. Sampai akhirnya
terjadilah kejar-kejaran seperti dalam adegan film Bollywood, di mana si Suami sering muncul tiba-tiba untuk memberi
nasehat sufistik lainnya. Lama-lama aku menghormatinya dan menganggapnya sebagai
seorang sahabat. Namun tetap saja aku masih jatuh hati pada istrinya.
(kembali
pada sudut pandang orang ketiga dan ruangan paralel. Saya tengah memandang
lorong waterboom dan hendak melintasinya,
tetapi merasa ragu)
Di
ujung lorong yang berlantai biru seolah dialiri air – sedang dindingnya bercat
merah muda – terdapat sebuah pintu berwarna biru yang lebih gelap. Aku ingin
melewati pintu tersebut, namun semakin keujung ruangnya tampak lebih sempit dan
menurun dengan kemiringan yang ekstrem. Maka aku mengambil jalan memutar,
dengan melewati koridor terbengkalai di mana banyak pecahan kaca dan tampak
bekas terjadi kebakaran bertahun-tahun lalu. Aku sampai pada sebuah jendela di
mana terdapat pantai berpasir putih, namun lautnya agak keruh, lebih mirip air
sungai, mungkin ini didekat muara. Di pantai banyak anak muda yang menikmati
pemandangan. Entah bagaimana tapi aku tahu kalau mereka semua adalah orang
Jawa. Yang paling menarik perhatian bagiku adalah seorang perempuan berkulit
kuning langsat yang melintas di antara kerumunan, rambutnya diikat seperti ekor
kuda, dan mengenakan baju batik berwarna merah… (beralih ke mimpi lain yang tak
terlalu diingat. Saya sempat terbangun beberapa kali, lalu kembali tertidur)
Interpretasi
Berikut ini sejumlah
kata yang menjadi kunci dalam mimpi ini: Arab, India, Jawa, Persia, Siliwangi, dan
Sufi. Sedangkan latar belakang tempat yang perlu diperhatikan adalah bukit dan ruang
paralel, namun tidak terdapat seting waktu yang pasti – barangkali waktu
dihentikan, namun ruang bergerak karena peralihan sudut pandang dan tindak
mengamati. Terakhir, terdapat tema yang permukaan berupa cinta eros, cinta
platonik, isu kerusakan lingkungan, dan pencarian yang tidak diketahui objeknya.
Secara garis besar saya mendapati kalau mimpi ini merupakan insight untuk gagasan yang sedang
kukembangkan, dan kondisi psikis belakangan ini.
Revisit Reality
Pertama-tama, mari terlebih dahulu kita cari asosiasi apa saja yang
terkait dengan kata kunci tersebut. Semua hal itu dapat dicari melalui
pengetahuan, persepsi, kognisi, ataupun ingatan dari apa yang dialami dan
dilakukan. Berikut asosiasi-asosiasi yang terangkum.
·
Arab:
belakangan saya membaca novel Naguib Mahfouz yang berjudul ‘Pencuri dan
Anjing-Anjing’, dalam novel tersebut terdapat tokoh seorang ulama yang termasuk
kaum Sufi. Secara ringkas, novel tersebut menceritakan Said si residivis dan pencuri
yang dikhianati istri, anak, dan sahabatnya, dia ingin membalas dendam pada
mereka, namun ironisnya dia mengkhianati cinta kekasihnya, Nur.
·
India: Secara
khusus, saya baru saja menemukannya dalam buku Jung, ‘Memories Dream and Reflections’, tepatnya pada kisah perjalanan
Jung ke India. Selain itu, saya pernah
menemukan cuplikan film Dollywood (dari
India Selatan) berjudul ‘Looking Eyes’,
yang sangat menghibur karena dialog yang tak lazim secara diksi dan gramatikal.
Scene dalam film tersebut menunjukan adegan telepon ancaman dari tokoh Zackariah
pada tuan William. “What the motives
behind this demand?” Tanya William, “Necessity!
Necessity for money.” Jawab Zackariah. Namun yang paling membekas dalam
ingatan saya adalah umpatan William ‘bloody!’
dan salah sebut ‘Villiam’ oleh Zackariah.
·
Jawa: Anak
muda orang Jawa yang saya temui hanya Mingke dari ‘Bumi Manusia’ Pramoedya. Siswa
HBS yang luntur kejawaannya, mengagumi ilmu pengetahuan Eropa, dan dibebani
untuk menjadi harapan untuk menjadi penyelamat bagi Annelies dan nasib kaum
pribumi. Dia tidak ingin jadi seorang Bupati.
·
Persia:
seingat saya sudah dua kali Zarathustra muncul di mimpi saya. Selain
Zarathustra, seorang Raja Persia yang tidak saya ingat namanya, kaum majusi penyembah
matahari, kaum Arya, Epik Gilgamesh dan Enkidu, tak ada lagi hal terkait Persia
yang saya ketahui.
·
Siliwangi:
saya hanya tahu sedikit tentang uga
Prabu Siliwangi dan sejarah kerajaan Pajajaran.
·
Sufi:
Selain tokoh ulama tadi, saya hanya mengetahui sedikit tentang mistisisme kaum
sufi dan akar kata ‘sufi’ yang merujuk pada ‘suf’ yang berarti mantel dari
kulit domba yang lazim digunakan oleh orang miskin pada zaman dulu. Mistisisme
tersebut bersumber dari kisah Narudin Khoza, penerungan Kyai Hasan Mustofa, dan
interpretasi sufistik dari kisah si Kabayan. Kisah Narudin Khoza tentang kemeranaannya
pada mimpi semalam menjadi dasar untuk tokoh utama dalam novel saya, Rhamzi
Khoza.
Latar belakang tempat yang muncul dapat dipahami sebagai simbol yang
mungkin saja merujuk pada kualitas maskulin-feminin, kenyataan suatu hal,
ataupun interior psikis. Saya lebih menitik beratkan pada interior psikis, di
mana bukit yang bersampah dan berbaliho merupakan proyeksi dari keyakinan akan ‘pembusukan
di tubuh masyarakat’, hal tersebut ditegaskan dari pencitraan mimpi yang
mengubah kondisi aktual bukit tersebut. Pembusukan tersebut tak disadari karena
orang-orang teralihkan oleh sesuatu (baliho), lama-lama hal itu dianggap
alamiah (hutan mapel) hingga kenyataan yang terberi. Namun ilusi tersebut tak
bertahan lama (musim gugur), dan saya adalah katalis yang mempercepat
pelenyapan ilusi tersebut (pengamat yang masuk ke dalamnya tetapi bukan lagi
berada di hutan, melainkan ruang paralel).
Nyatanya saya memang sedang membuat sistem pemikiran mengenai ilusi
tersebut, sebuah perjalanan untuk keluar dari bayang-bayang Nietzsche dan
menziarahi diri sendiri. Lalu, menurut mimpi bagaimana saya bisa mencapai
tujuan tersebut? Ruang paralel menunjukan dua jalan, waterboom atau puing-puing koridor – yang mana saya akan
menyebutnya sebagai oblivion (dalam
pemikiran Nietzsche merupakan mekanisme melupakan yang dikehendaki, sedang
dalam arti harfiahnya adalah kondisi tidak menyadari suatu hal juga suatu
tempat yang dilupakan). Dalam mimpi saya memilih oblivion, dan hasilnya adalah jendela di mana pantai dan muara
tempat orang-orang Jawa berekreasi. Hasil ini mungkin sebuah peringatan untuk
saya, sekaligus mempertegas mengapa saya menyebutnya oblivion. Gambaran berupa orang-orang Jawa dapat merujuk pada
keterasingan budaya dan etnis. Bila dikaitkan dengan tokoh Minke, terdapat
kesamaan berupa kecenderungan untuk berpikir secara Eropa, dan berputus dari
asal-usulnya (jangankan diri sendiri, orang lain saja tidak melihat saya
sebagai urang Sunda!) Lalu apalagi? Escapism, panorama pantai yang cocok
untuk berekreasi memang pas untuk melupakan beban. Apalagi pantai selatan
dikenal juga sebagai tempat pelarian imigran gelap dari timur tengah (Arab dan ‘Persia’
kah?) menuju pulau Christmas. Kalau memang perlu disebutkan sebagai pantai
selatan, maka terdapat asosiasi dengan Siliwangi yang sangat relevan (kalau
bukan demi objektivitas saya tak ingin menuliskannya di sini). Saya ingat isi uga Prabu Siliwangi yang kurang lebih
menyatakan kalau arah selatan adalah tempat yang hendak dituju sang Prabu dan
siapapun yang ingin mengikutinya, namun risikonya adalah sengsara. Kesengsaraan
mungkin juga tergambar pada kondisi koridor yang berupa puing-puing, penuh kaca
pecah, dan bernoda bekas kebakaran.
Deep Inner-World
Berdasarkan tanggal
kemunculan mimpi ini, kondisi psikis saya waktu itu dapat dikatakan sebagai ‘split’. Demi menyelesaikan novel yang
selesai di awal tahun baru, saya melepaskan tiga ‘arketipe’ kepribadian yang
selama ini biasanya didominasi oleh salah satu arketipe. Arketipe ini tidak
merujuk pada klasifikasi Jung: bayang-bayang, anima-animus, great mother, dan lain-lain. Melainkan berbagai
anasir yang saya sadari setelah bertahun-tahun mengevaluasi diri dan pengamatan
yang sebisa mungkin mindful pada
bagaimana saya memproses dan merespon sesuatu. Pembaca, kuperkenalkan pada
Anda: The Thinker (Lost Wanderer), The
Poet (Dying Lover), and The Joker (Absurd Clown). Singkat saja, the thinker adalah arketipe yang
biasanya mendominasi saya, sampai menjadi persona yang sering muncul, sayangnya
dia membawa saya pada kondisi self-critical,
merasa terasing, dan sulit untuk kerasan meskipun sedang di rumah dan dengan
seorang teman. Kalau the thinker
lebih superior dan dominan, maka the poet
adalah yang inferior dan sering jadi bulan-bulanan untuk direpresi.
Terakhir, the joker, saya sering
menuduh kalau kekonyolan saya adalah turunan ayah saya, selain itu saya juga
merasa kalau arketipe ini tercermin jelas di mata ayah saya ketika dia
melihatku. Namun aku juga melihatnya pada topeng yang tergantung di kamarku. Dia
tidak jahat, bukan ‘bayang-bayang 2.0’, dan tidak juga mengenal konsep jahat. Kurasa
jahil adalah trait yang tepat, baik
dalam bahasa Indonesia ataupun Arab. Dia menyimpan sebuah kebijaksanaan, tetapi
hal itu harus ditebus lewat hukuman: mempermalukan diri.
Mari kembali ke ruang
paralel, tampaknya oblivion
menunjukan kalau saya masih didominasi oleh si thinker. Namun, terdapat pertentangan karena si thinker selama ini menolak tahu,
menihilkan makna, dan menganggap tafsir soal uga sebagai ‘angan-angan di siang
bolong’. Akan tetapi, kemungkinan dominasi si thinker diperkuat juga oleh keraguan saya untuk menuju pintu biru. Lorong
waterboom yang berwarna merah muda
dan biru menunjukan kelekatan hubungan antara laki-laki (merah muda) dan
perempuan (biru). Belum lagi, lantainya yang seperti air, menurut Jakob
Sumardjo, air sendiri melambangkan perempuan dalam kosmologi masyarakat Sunda
kuno. Tampaknya saya takut celaka untuk melalui jalan itu, walau dijamin akan
memasuki dunia wanita itu (pintu biru).
Namun, bila kembali
pada ruang tunggu dan menjadi si pangeran, tampaknya akan lebih jelas mengapa
ada keraguan untuk melewati lorong tersebut. Mungkinkah saya akan (juga ingin)
terlibat dalam hubungan yang terlarang dengan wanita milik seseorang? Kurasa demikian,
walau sejujurnya itu menyalahi prinsipku: ‘tak ada kehormatan bila merebut
seorang wanita dan mematahkan hati kekasihnya’. Saya akan lebih senang bila
bisa seperti Hamish Daud yang mematahkan hati para pemuja Raisa.
Di ruang tunggu ini
juga kita bisa bertemu si joker. Dia adalah
si Pria Arab yang menasehatiku dengan lelucon sufistiknya. Dia menghukumku
dengan cara menjadi seorang sahabat, bahkan guru (sosok yang lebih superior
tentunya), supaya saya merasakan dilema dan frustrasi karena itu.
Seluas Segala Kenyataan
Saya sempat bertanya
perihal mimpi ini pada rekan di kampus yang juga sering melakukan analisis
mimpi, Rhaka Katresna. Dia membatu saya untuk menemukan konflik intrapsikis
yang selama ini tak berkesudahan. Dimulai dari mengungkapkan signifikasi India
dan Persia, juga darah campuran. India dan Persia merupakan perwakilan esensi pemikiran
dunia timur yang holistik. Sedangkan, secara sadar biasanya saya lebih tertarik
pada dunia Skandinavia kuno, perwakilan esensi pemikiran dunia barat yang
atroposentris. Saya belum punya keberpihakan yang jelas di sini, namun juga
menyadari signifikansi ‘Arab’ yang tampaknya membantu saya untuk menemukan
orientasi.
Dalam sejarah filsafat,
filsuf-filsuf Arab pada zamannya berjasa dalam menjaga peninggalan pemikiran
Yunani kuno. Sejarah kemunculan Islam juga perlu dilibatkan dalam interpretasi
ini mengingat turut memengaruhi tradisi pemikiran pada zamannya dan seterusnya.
Pesan dari intuisiku mungkin adalah iqro,
menggali peninggalan masa lalu, dan merawatnya.
Sebagai perluasan
interpretasi, berikut beberapa alternatif yang berasosiasi dengan informasi
yang terangkum sebelumnya.
1. Kemungkinan dari The Thinker
Pertama-tama, saya sertakan kutipan mengenai perjalanan Jung ke India. “Saya
melihat spiritualitas India berisi kejahatan sebanyak kebaikan… masyarakat
India merasa diri mereka berada di luar baik dan jahat, dan berupaya untuk
menyadari keadaan ini dengan meditasi atau yoga… bahwa kebaikan dan kejahatan
tidak memiliki garis batas yang jelas, dan hal ini menghasilkan suatu stagnasi
yang nyata.”(hal. 378) Menurut Jung, maka adalah wajar saja kalau mereka
membutuhkan nirdvandva, pembebasan
melalui kekosongan dari segala kesan. Saya jadi ingat pada tugas mata kuliah pengantar
psikoterapi, dalam tugas mengenai free
art therapy saya menuliskan narasi mengenai anasir si penanya yang
kehilangan rasa kerasannya dan ‘diri yang tertidur di alas nirwana’. Dunia dari
kacamata si thinker akan tampak
sebagai upaya desakralisasi dan sakralisasi baru, yaitu upaya untuk mengkritisi
keyakinan secara habis-habisan dan apa yang semula dianggap sebagai sesuatu
yang adiluhung tetapi tak mesti dijelaskan mengapa dia demikian. Inilah mengapa
diawal saya menyebutkan kalau ‘spiritualitas’ dan saya secara pribadi tidak
bisa duduk sebangku. Sedang sakralisasi baru itu merupakan penghormatan
berlebih pada rasionalitas yang tidak memiliki alasan selain karena saya percaya pada rasionalitas itu sendiri.
Pada akhirnya, the thinker menjadi lost wanderer, dia kehilangan arah dan
jauh dari asal-usul, ditipu oleh apa yang paling diyakininya.
2. Kemungkinan dari The Poet
Selain mengenai hasrat yang dijelaskan sebelumnya, The Poet bukan sebagai Dying
Lover memiliki posisi yang dapat dijelaskan dalam asosiasi antara Looking Glass, sufi, dan spiritualitas
yang dimusuhi si thinker. Sesuatu
yang membuat keterpanggilan pada Dante tidak diblokir oleh skeptisisme
berlebih. Villiam aka William mengingatkan saya pada William Blake, penyair
Inggris abad ke 17 yang membumbui mistisisme pada puisinya. Ketika menemukan
manuskripnya, ‘The Marriage of Heaven and
Hell’, terutama pada puisi ‘The Voice
of The Devil’ saya merasa kagum bahkan seperti menemukan apa yang selama
ini saya cari. Tampaknya kehadiran saya sebagai si pangeran yang menari-nari
dalam ruang tunggu tersebut adalah sebuah peringatan. Bahwa gagasan, nilai, dan
pemahaman spiritual yang selama ini tertunda (ruang tunggu) perlu untuk diekspresikan.
Saya sepertinya perlu memberi kesempatan pada apa yang semula saya lihat
sebagai sampah dan bagian dari pembusukan di tubuh masyarakat, bahkan tirai
ilusi, sebagai sesuatu yang layak diperhitungkan, malah bisa membawamu pada
ketenangan (pantai) walau berada di tengah orang-orang asing. Sebagai penutup
mari kita dengarkan bagian dari The Voice
of The Devil.
All Bibles or sacred codes have been the causes of the following Errors:--1. That Man has two real existing principles, viz. a Body and a Soul.2. That Energy, call'd Evil, is alone from the Body; and that Reason, call'd Good, is alone from the Soul.3. That God will torment Man in Eternity for following his Energies.But the following Contraries to these are True:--1. Man has no Body distinct from his Soul; for that call'd Body is a portion of Soul discern'd by the five Senses, the chief inlets of Soul in this age.2. Energy is the only life, and is from the Body; and Reason is the bound or outward circumference of Energy.3. Energy is Eternal Delight.
Referensi
Blake.
1793.
Jung,
Carl Gustav. (2016). Memories Dream
Reflections (terjemahan). Yogyakarta: Octopus.
Sumardjo,
Jakob. (2015). Sunda Pola Rasionalitas Budaya. Bandung: Kelir.

0 Komentar