![]() |
| Image Credit: Danny O'Connor "Birth of A New Dawn" |
Manusia
adalah misteri. Individu ialah pertanyaan. Diri mengandung kebenaran. Nama
mengantarkan kehendak. Kenyataan menjodohkan kehendak. Mimpi mempersiapkan
nasib. Di sebrang bahasa, algoritme takdir bekerja. Kehidupan tak lain
teka-teki silang. Jalan hidup: jawaban mendatar. Siloka: jawaban menurun. Inilah ‘kosmologi’ perkembangan manusia
menuju perjumpaan kembali dengan sosok adi-manusia yang menghantui pikiran para
pendongeng, kaum brahmana, juga pemikir terdahulu – dari Plato hingga
Nietzsche.
Selaku
penulis, kami berkeyakinan bahwa adi-manusia bukan entitas ideologi tertentu
seperti ‘ras Arya’-nya partai Nazi Jerman. Dia juga tidak seperti halnya para
brahman dari zaman kuno yang meyakini dirinya sebagai penguasa semesta. Dia
juga bukan übermensch-nya Nietzsche yang berdiri dekat garis finis, di atas moral, di atas seluruh
komunitas masyarakat. Kami melihat sosoknya telah ada mendahului kita, manusia
biasa, sebab dia harus mewariskan satu sifat ini pada kita: jangan (termakan)
iri hati. Kita adalah jejak-jejaknya, setiap diri adalah mempunyai kebenaran
tentangnya. Atau jangan-jangan kita juga adalah mimpinya selagi dia bersemayam
di masa depan.
Meskipun
dibilang bersemayam di masa depan, tidak melulu berarti masa depan yang tak
terkejar oleh umur, ada saatnya setiap manusia akan berelasi dengannya sadar
atau tidak, diniatkan atau tidak, secara nyata atau lewat mimpi. Tetapi menurut
ilham kami, ada dua masa di mana kita dapat merasakan ‘kehadirannya’, yaitu
masa kanak-kanak dan masa tua. Di masa kanak-kanak kita dikenalkan pada
sanubarinya, melalui belajar melaksanakan niat yang murni datang dari diri
sendiri. Sedang di masa tua, dia akan menjamu tiap pribadi ke dalam ‘ruang
perenial’ supaya mereka yang benar-benar peduli akan nilai kemanusiaan,
kearifan yang didapatkan dari pengalaman hidup, dan petuah yang mengandung
kebenaran absolut, dapat diwariskan dan terjaga dalam kesadaran kolektif umat
manusia: di satu sisi menjadi kebijaksaan yang terkadung dalam jalan hidup; di
sisi lain, siloka, perwujudan sesuatu
yang meminjam bahasa sebagai fakta tentang keberadaannya, dan memberi
inteligibilitas tentang keselarasan tatanan yang dipahami sebagai relasi antara
Tuhan-alam-manusia. Orang-orang tua akan diundangnya ketika mereka menjalani
kesepian sisa hidup. Namun, mereka yang diundang ini adalah orang-orang tua
yang benar-benar bisa bernostalgia atas masa lalunya dengan perasaan puas dan
siap untuk berpulang.
Namun,
kami tetap menyadari bahwa sang adi-manusia ini selalu berada di antara
kenyataan dan ketiadaan. Dia akan nyata selama seseorang mengenal kenyataan
tentang dirinya, seluas segala kenyataan. Sedang, bagi mereka yang mengalami
kelupaan atas dirinya sendiri, dia meniadakan dirinya dari kehadiran sang
adi-manusia.
Tidak
hanya itu, di antara kenyataan dan ketiadaan juga berarti kehadirannya tidak
benar-benar bergantung padamu, tetapi kehadiran kita yang bergantung padanya.
Selagi engkau terlelap dalam tidur dan mengarungi mimpi, dia berangkat dari
mimpimu menuju kenyataan dan meninggalkan jejak-jejaknya untuk kau temukan. Dia
juga yang menghubungkan mimpimu, dengan mimpi orang lain, menjalin kehendak
yang kelak akan dimengerti bersama apa maksudnya.
Ingat,
kita hanyalah pelaksana.

0 Komentar