![]() |
| Pertemuan Pertama Slow-Sofia - Dokumentasi Pribadi |
Ini merupakan extention course filsafat (ECF) kedua
yang saya ikuti di fakultas filsafat Universitas Parahiangan, Bandung. Dalam
catatan ini, saya ingin berbagi wawasan dan pengetahuan baru yang didapatkan dari
kuliah sekitar 3 SKS tersebut. Isu yang diangkat dalam tema ECF kali ini adalah
akar permasalahan kondisi technoculture
hari ini, yang ditelusuri kembali melalui konsep ruang dan waktu di zaman
modern. Pemahaman akan konsep tersebut menjadi penting mengingat manajemen
ruang dan waktu secara bersama-sama membentuk kehidupan masa kini, mulai dari
bagaimana benda-benda praktis dirancang, penggunaan alat transportasi, pengaturan
jadwal, periklanan, dan sistem tata kelola rasional lainnya.
Sadar atau tidak waktu
di zaman now bergerak sedemikian
cepatnya hingga Anda sendiri sampai lupa kalau waktu bergerak sedemikian
cepatnya – padahal ini baru di negeri kita saja lho coba bayangkan kalau Anda adalah warga negara maju yang sudah
dilayani oleh wifi ‘halilintar’ robot kecerdasan buatan juga drone – namun anehnya kecepatan waktu
zaman now melelahkan Anda seperti
halnya membaca paragraf pembuka ini. Tapi masih ada yang lebih aneh lagi, Anda
sendiri terlalu lelah untuk mempertanyakan mengapa Anda lelah dan
tertatih-tatih, bahkan terjebak macet, untuk mengejar waktu yang entah sudah
menghabiskan berapa lap sebelum Anda
sendiri menyelesaikan satu putaran. Ya, kurang lebih itulah yang akan saya cari
tahu selama 10 pertemuan kedepannya. Pada pertemuan pertama ini kita perlu
berkenalan lagi dengan waktu yang merancang peradaban modern sampai hari ini.
Catatan
Poin-poin penting yang
dijelaskan oleh Pak Bambang bisa dirangkum sebagai berikut, 1) technoculture dan konsep waktu
didalamnya; 2) Konsekuensi dari technoculture;
3) karakter masyarakat modern. Mari kita mulai dengan mengenal apa itu technoculture.
Technoculture dan berbagai produknya, pertama-tama dihasilkan karena kita mampu
mengukur waktu, atau bila meminjam istilah Heidegger, waktu objektif. Kalender
dan jam tangan, dapat dikatakan menjadi roda giginya mesin technoculture. Sejak berkenalan dengan kalender dan jam matahari,
“waktu dilepaskan dari ruang”, dalam arti kita mampu menyatakan masa lalu dan
masa depan yang ruang untuk keberadaannya sudah tidak dijangkau lagi (masa
lalu), atau belum hadir (masa depan).
Selain terpisahnya
waktu dari ruang, ruang itu sendiri mulai terlepas dari tempat. Kita mengalami
situasi ini dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ketika mengakses media sosial
atau ketika menonton berita di televisi. Kita menghadiri suatu ruang yang waktunya
secara relatif berlainan dengan ruang tempat kita berada. Dari fenomena
tersebut, konsep ruang dan waktu dalam dunia modern beranjak dari zona konkrit
ke zona abstrak. Sebagai perbandingan dalam kosakata basa Sunda terdapat
istilah untuk penandaan waktu, misalnya wanci
haliwawar yang ditandai oleh bunyi ayam jantan sebanyak dua kali yang
berarti antara pukul 03:00-03:30. Intuisi waktu pada orang Sunda diperoleh melalui
pengamatan pada fenomena alam. Inilah perbedaannya, dalam masyarakat Sunda
dahulu ruang-waktu tidaklah terpisah dan berhubungan erat dengan kondisi
lingkungan, konkrit. Sedangkan di zaman modern, waktu mulai dikenal sebagai
angka-angka dalam jam dan kalender, “numerik-abstrak”, kata Anthony Giddens;
atau juga ruang geometris, kata Pak Bambang. Ruang dilepas dari waktu, vice versa.
Apa dampak dari
kehidupan modern yang serba terukur, efisien, dan mendekati kepastian tersebut?
Bukankah bagus kalau kita bisa menandai waktu, sehingga kita bisa menyusun
jadwal atau agenda misalnya. Dalam pembahasan ini, Pak Bambang menjabarkan 9
poin berikut.
·
Standardisasi
waktu secara global (ingat kembali Greenwitch
Mean Time/GMT, juga WIB-WITA-WIT)
·
Pengelolaan
berdasarkan kalender yang sama.
·
Terfasilitasinya
urusan publik secara rasional sampai di tingkat global.
·
Peristiwa
historis partikular dapat dipahami dan dihubungkan ke dalam sejarah dunia
bersama.
·
Tersedianya
alat tukar simbolik yang umum, yaitu uang.
·
Tendensi
untuk mempecayai sistem keahlian modern.
·
Berkembangnya
budaya literasi.
·
“Atopia:
batas-batas fisik geografis diganti dengan alat pemindai elektronik; alun-alun
diganti dengan layar interface;
tempat terus-menerus diinterupsi oleh kepergian dan kedatangan; tidak ada lagi
‘pusat’ dan ‘pinggiran’ (Paul Virilo).”
·
Tersedianya
berbagai jenis alat perekam yang mengabadikan peristiwa masa lalu.
Poin satu sampai tiga
dapat dipahami sebagaimana penjelasan tentang waktu objektif sebelumnya. Pada
poin empat, waktu mulai dipahami secara linear ditingkat chronosphere. Sejarah di suatu tempat dan suatu masa dapat
diungkapkan secara relatif menurut patokan sejarah yang terjadi di tempat
lainnya. Misalnya, sejarah Gunung Padang di Cianjur yang usia keberadaannya
dibandingkan dengan piramid Giza di mesir sebagai petunjuk untuk mengungkap
alur sejarah manusia ke masa yang lebih awal.
Selanjutnya, poin ke
enam, tendensi untuk mempecayai sistem keahlian modern, atau dengan kata lain
kepercayaan pada izajah, sertifikat, dan gelar untuk bicara soal kualitas dan
kapasitas seseorang. Di masa pra-modern masyarakat kita misalnya, seorang pakar
adalah mereka yang dikatakan sebagai ‘orang pintar’; kadang-kadang mereka
menjadi dukun; kadang sekedar peramal yang memberi nasehat; di lain waktu
seorang tabib yang merapalkan jampi-jampi. Siapa yang menjamin kepakaran mereka,
selain ‘katanya’ dan pembawaan diri si orang pintar itu sendiri? Mengingat
sampai hari ini masih terdapat dukun yang membuka praktiknya, anggap saja dukun
zaman modern, atas dasar apa kita sebagai orang modern menaruh kepercayaan pada
jasanya? Barangkali bukan institusi perdukunan yang dibuka oleh sekolah tinggi,
akan tetapi media, yaitu ketika dukun lebih banyak disorot oleh institusi media
demi acara masing-masing. Secara tidak langsung, bukankah media telah memberi
kredibilitas dan reputasi yang cuma-cuma bagi si orang pintar. Apapun itu
bidangnya, kunci untuk kepercayaan terhadap sistem kepakaran ialah institusi
kepakaran itu sendiri.
Poin ketujuh menjelaskan
kembali perkembangan kemampuan abstraksi manusia, dalam hal ini budaya literasi
yang berkaitan dengan simbol tanda baca sebagai medium abstraksinya. Prasasti
merupakan produk budaya baca tulis dari masa lalu yang sekaligus menunjukan
pencatatan waktu/peristiwa sejarah. Melalui budaya literasi dan produknya,
dalam hal ini prasasti, kita dapat kembali menghubungkan sejarah yang tercatat
tersebut ke dalam sejarah dunia bersama dengan perbandingan penanggalan, dan
dokumentasi yang dibawa oleh para petualang.
Apa dampak negatif dari poin-poin mengenai
konsekuensi technoculture terhadap
kehidupan manusia? Jawaban tersebut merupakan persoalan mengenai kondisi
manusia, tema umum dalam filsafat eksistensialisme dari akhir abad 19 hingga
abad 20. Bila kita kembali pada founding
father eksistensialisme, Soren Aabye Kierkegaard (1813-1855), kemajuan
rasio dan pengetahuan manusia yang berkecenderungan untuk memperlakukan nilai
universal di atas partikular, dan mereduksi kenyataan sebagai rumus atau abtraksi
semata; hal tersebut tentunya mendapat kritisisme Kierkegaard yang berpendapat
bahwa kenyataan tentang manusia bertumpu pada pengalaman individualnya,
subjektivitas yang menjadi titik permulaan untuk menentukan pilihan[ii].
Namun, bila melihat kembali kondisi technoculture
masa kini, apakah kritisisme Kierkegaard masih relevan? Mungkin kita dapat
menemukan jawabannya dengan merefleksikan kembali interaksi antara kita dengan
teknologi dalam kehidupan sehari-hari, seperti yang dipahami oleh Heidegger
bahwa teknologi perlu disadari secara reflektif-filosofis, bagaimana teknologi dapat
mengungkapkan pemahaman tentang adanya kita. Mulailah perenungan itu dari
bangun tidur, ketika secara otomatis tangan kita mencari-cari gawai kesayangan,
dan secara otomatis-habitual selanjutnya kita segera membuka notifikasi media
sosial. Kita tidak perlu membuat keputusan apa-apa dalam situasi tersebut,
semua terjadi begitu saja. Seperti itukah determinasi teknologi, pembentuk
karakter manusia modern?
Untuk melihat karakter
manusia modern secara lebih mendalam kita perlu meninjau pada poin-poin yang
diuraikan oleh Pak Bambang lainnya. Bayangkan seorang Steve Job menjadi
supervisor di sebuah perusahaan di Indonesia. Kata para pegawai, Mr Job
memiliki watak yang tertib waktu, sangat perhitungan, dan senang menerapkan
standar-standar yang eksak. Namun, tidak banyak yang tahu bagaimana watak asli
Mr Job di luar rutinitas kerjanya, sebab para Bawahannya hanya bertemu
dengannya dalam waktu singkat dan dibatasi oleh urusan bisnis, berkomunikasi
melalui interface, dan setiap
pertemuan dengannya harus diagendakan terlebih dahulu. Suatu ketika, Mr Job
mendapat laporan tentang attitude salah satu Bawahannya, dia membaca laporan
tersebut dengan cermat kemudian merenung, saya
tidak mengerti orang semacam ini. Kebetulan waktu liburan sudah dekat, maka
Mr Job menyusun agenda untuk bertemu dan mengamati Bawahannya tersebut sebelum
dia membuat keputusan penting. Singkat cerita mereka bertemu pada malam tahun
baru. Mr Job sempat kesulitan mencari wajah Indo si Bawahan yang jarang sekali
ditemuinya.
Mr
Job: Langsung saja, saya mendapat laporan tentang kebiasaan buruk Anda, tolong
jelaskan mengapa Anda bisa tidak tepat waktu, lambat dalam mengerjakan sesuatu,
dan semakin kesini Anda menyelesaikan sesuatunya setelah deadline?
Bawahan:
Seperti yang bapak ketahui, tempat tinggal saya tidak jauh dari kantor, tidak
mungkin saya terjebak macet. Alasan saya terlambat karena saya kadang-kadang
menyempatkan waktu untuk bicara dengan orang di jalan. Kadang saya suka lupa
waktu kalau sudah begitu.
Mr Job hanya mampu
menggelengkan kepala, eksotis sekali
kelakuan Bawahan satu ini. Sebelum mereka melanjutkan percakapan, seorang
pelayan membawa minuman hangat yang mereka pesan. Mr Job mempersilakan Bawahannya
untuk minum sebelum diskusi dimulai kembali. Dalam sekali tegukan Mr Job
menghabiskan setengah gelas dan bersegera untuk membuka kembali percakapan.
Namun dia terpaksa harus menyaksikan sesi minum si Bawahan yang menyeruput teh
manisnya pelan-pelan. Si Bawahan menikmati minumnya sambil merasakan aroma teh
membanjiri penciumannya, sementara lidahnya punya cukup waktu untuk mengenal
bagaimana si manis berpisah dengan pengecapannya yang samar-samar terasa pahit.
Mr
Job: tehnya lebih manis, ya? Nikmat betul.
Bawahan:
Tidak juga pak, tetapi ketika saya minum rasanya kemeriahan malam tahun baru
ini tertuang dalam seteguk teh manis. (Ditunjukannya segelas teh miliknya yang
baru dihabiskan seperempat).
Mr
Job: Puitis juga kamu ini, mengapa tidak jadi penyair saja? Di dunia industri,
kita tidak memproduksi metafora apalagi makna, kita tidak butuh itu sebab
statistiklah yang signifikan maknanya.
Bawahan:
Saya tidak punya bakat untuk menjadi penyair, tidak pula mempelajarinya. Tetapi
bagi saya ungkapan puitik tadi sekedar luapan nurani manusia yang muncul secara
mendadak, tepat ketika dirinya menyatu dengan suasana. Ya setidaknya itulah
yang saya pelajari dari loka atih mindfullness
bulan lalu.
Mr
Job: Mindfullness katamu?
Bawahan:
Benar pak, jadi kerja saya melambat karena saya berusaha menikmati tugas-tugas
saya secara mindfull. Merakit,
melakukan pengecekan, dan membuat laporan sebelumnya terasa begitu repetitif
dan membuat saya lelah terutama karena harus bertarung melawan kejenuhan.
Tetapi karena saya masih pemula dalam menerapkan mindfullness, kerja saya jadi lebih lambat dari rata-rata, dan saya
butuh ritual untuk memulai pekerjaan.
Mr
Job: Haduh, sekarang apalagi, ritual, jangan menambahkan sesuatu yang tidak
masuk schedule. Ingat baik-baik.
Bawahan:
Tetapi saya hanya mengambil 10 sampai 15 menit untuk mengolah nafas, pemasan
jari-jari, mengatur postur, dan minum segelas air putih untuk menjernihkan
kepala seperti yang saya lakukan tadi.
Mr Job menepuk
jidatnya, dia masih tidak mengerti cara berpikir orang-orang yang memboroskan
waktu untuk hal tetek-bengek. Tiba-tiba baru pertama kalinya Mr Job merasakan semacam
kelelahan pada dirinya usai menatap wajah lugu si Bawahan yang samar-samar
terlihat bahagia dan terjaga kemudaannya. Dia baru ingat kalau bawahannya itu
hanya berbeda 2 tahun dari dirinya, tetapi Mr Job justru terlihat seperti sosok
ayah berkepala lima yang mulai beruban, berkeriput, dan memiliki kekusaman di
wajah yang tak mungkin terbilas oleh facial
wash sekalipun. Selama beberapa waktu kemudian mereka tidak saling bicara. Lalu
tibalah saatnya pesta kembang api yang memeriahkan kelahiran tanggal 1 januari.
Mr
Job: Wow, lihat semua kemeriahan ini, kesenangan milik kita semua!
Bawahan:
Entahlah pak, semua itu maya, pagi nanti kita kembali pada kehidupan
masing-masing, seperti biasa, tidak terjadi apa-apa.
Setelah menyelesaikan cerita
ilustrasi yang saya susun tersebut, mungkin Anda bertanya-tanya di manakah
poin-poin tentang karakter manusia modern? Bila belum jelas, temukan kembali
dalam kehidupan sehari-hari Anda, tepatnya ketika segala sesuatunya dilakukan
dalam kondisi yang impersonal; merasa bebas tetapi tidak bahagia; mengalami
kejadian yang semakin terprediksi dan tidak memberi kejutan; sesuatunya serba
dimengerti secara konseptual; de-familiarisasi, efek perubahan bahasa yang
semakin cepat dan berdampak sebagai ketidakpastian pemahaman tentang apa yang
sebenarnya terjadi; berorientasi pada masa depan tetapi tidak memiliki waktu
untuk saat ini; menyaksikan hiburan dan atraksi di mana-mana tetapi tidak
memiliki signifikansi apapun, bukan perayaan dalam arti sebenarnya.
Kesimpulan
Jika
Anda punya waktu, temukan kesimpulannya dari aktivitas sehari-hari.
Referensi
[i] Sugiharto, Bambang. "Technoculture & The Experience of Time/Space."
Lecture, Extension Course Filsafat, West Java, Bandung, March 15, 2019.

0 Komentar