Desa
Sebelah
Franz Kafka - 1923
Dulu,
kakekku sering berkata: “Hidup ini sangatlah singkat. Kini aku bisa mengingat
seluruh bagian hidupku dengan amat jelasnya, hingga aku tidak bisa mengerti,
misalnya, mengapa seorang pria muda memutuskan untuk berkuda ke desa sebelah,
tanpa merasa khawatir – selain akan kecelakaan, tentu saja – bahwa umur manusia
yang kebanyakan berbahagia sama sekali tidak akan cukup untuk melakukan
perjalanan seperti itu.”
***
Ciri
khas dari karya Franz Kafka (1883 – 1924), yang paling menonjol adalah
pandangan terhadap absurditas dunia. Absurd itu sendiri menurut Sherman,
mengacu pada sisi tak berdasar dari kondisi umum manusia yang semestinya dapat
dipahami secara rasional. Tentunya, pandangan Kafka didasari oleh dua hal,
kehidupan personal, dan semangat zaman pada masanya.
Bila
nafas atau atmosfir absurd dapat ditemui hampir di seluruh karya Kafka, lantas
apa yang membuat cerpen di atas menjadi perhatian penting? Absuditas pada karya
lain diekspresikan melalui peristiwa umpanya penangkapan Josef K yang tiba-tiba
dalam novel The Trial Process;
psikologis tokoh, seperti ambivalensi sikap Dokter desa terhadap si gadis pembantu,
dan pikiran Gregor Samsa yang melulu pada pekerjaannya setelah ia berubah
menjadi serangga raksasa, maka pada cerpen satu ini terlihat sisi kontemplatif
tokoh pada apa yang disebut sebagai absurd. Singkatnya, yang absurd itu secara
gamblang disadari.
Tokoh
Kakek yang dihadirkan lewat ujarannya melihat bahwa di antara kehidupan yang
berlalu begitu saja terdapat keputusan dengan keadaan yang takes for granted. Lalu diikuti dengan pendapatnya tentang umur
manusia, terutama yang berbahagia, dikatakan tak cukup menjadi jelas apabila
kita sorot kata ‘muda’, ‘khawatir’, dan ‘kecelakaan’.
Manusia berbahagia tentunya dekat dengan kemudaan yang seringkali dinilai
sebagai masa dengan puncak kebahagiaan. Namun, bayangan akan kecelakaan di
balik tak merasa khawatir menunjukan bahwa kebahagiaan belum dijangkau apabila kecelakaan
senantiasa membayangi.
Selain
itu, “Desa Sebelah” sebagai judul dan tujuan memberi insight lain tentang absurd yang dipandang si Kakek. Sebelah sebagai
petunjuk posisi titik ke titik terdekat memiliki peran untuk menghasilkan efek
keabsurdan dalam cerita ini. Bahwa untuk mencapai apa yang dekat itu beresiko
pada diri sendiri, dan yang terpenting adalah mengapa itu menjadi pilihan kita.
Berkuda, desa sebelah, kecelakaan, dipandang takes for granted, sebagian di dalam diri, sebagian lain di luar
sana dengan ketakterdugaannya yang diperhatikan tetapi tak mengubah pendirian.
Sejauh
ini, pandangan si Kakek senada dengan pendapat Sherman tentang absurd itu
sendiri. Perilaku, pemikiran, sekalipun ia terbuka untuk dijelaskan secara
rasional, yang terjadi adalah rasionalitas itu memiliki tapal batas sampai
derajat tertentu, sehingga pada akhirnya sesuatu yang sederhana itu menjadi tak
berdasar sama sekali. Demikian, yang absurd mengenalkan dirinya.
Karya
Kafka yang menunjukan seluk-beluk absurditas dari kehidupan manusia memiliki
wawasan yang menyingkap semacam kebebalan dari cara berpikir manusia modern. Namun,
bukan tanpa jalan keluar karena Kafka telah menunjukan dan menjernihkan sisi
tersebut pada kita, hingga pada gilirannya yang dapat kita lakukan adalah
menemukan jalan yang lebih baik dengan berkaca pada pesan Kafka.
Referensi
Dreyfus H dan Mark A. Wrathall. (2006). A Companion to Phenomenology and
Existentialism. Malden: Blackwell Publishing.
Kafka, Franz. 2016. Seorang Dokter Desa. Terjemahan Widya Mahardika Putra. Yogyakarta:
Oak.
Sherman, D.
(2006). Absurdity. A Companion to Phenomenology and Existentialism,
271-279.

0 Komentar