Memecah Kebekuan Suatu Kilas Peristiwa ala Danarto





Lempengan Lempengan Cahaya, cerpen Danarto yang ditulis pada Juli 1988 mengisahkan bagaimana turunnya ayat suci dari Lauhul Mahfuz menuju Bumi, tepatnya tanah Palestina. Perjalanan ayat suci di langit disambut oleh mahkluk-mahkluk lain seperti awan, warna, sesayup bunyi, angin, dan sebersit bau, diiringi dengan sekilas percakapan yang menggambarkan keadaan Bumi. Selama alur ini berlangsung, sudut pandang terhadap lempengan-lempengan ayat dilihat dari sudut pandang orang pertama sekaligus menjadikan mereka sebagai tokoh.
Setelah turun ke Bumi, ayat-ayat suci itu mengembara dari pintu ke pintu penduduk, hingga tiba pada rumah penduduk Palestina: “pengembaraan ayat-ayat itu juga sampai di Palestina. Ayat-ayat itu mengetuk-ngetuk pintu rumah sebuah keluarga Palestina”. Maka, diceritakanlah oleh pengarang bagaimana keadaan di Palestina layaknya siaran berita, “pergolakan pecah setiap saat di seluruh kawasan Arab-Yahudi yang bertetangga itu, di jalur Gaza maupun tepi barat, ataupun di Jerussalem”. Sebelumnya diceritakan bahwa ayat-ayat itu kini mendiami tembok, ban yang dibakar, atau menjadi atribut pada pejuang Palestina. Sampai akhirnya, ia ada pada tangan seorang gadis cilik sebagai lempeng-lempeng cahaya. tentunya, hal tersebut mengubah sudut pandang terhadap lempeng cahaya dan perannya dari tokoh menjadi objek.
***
Sebagaimana pada cerpen-cerpen yang lain, Danarto piawai dalam mempersonalisasikan suatu benda, baik itu konkrit atau abstrak, menjadi objek yang dapat dibayangkan. Ketepatan dalam mengolah ayat suci menjadi cahaya dan kemudian lempengan cahaya, membantu pembaca supaya tidak merasa asing dengan apa yang disampaikan oleh pengarang. Hasilnya, ayat sebagai tokoh dimunculkan dalam imaji kita sebagai lempengan cahaya yang rupa-rupa warnanya.
Apa yang disebutkan sebelumnya itu merupakan pintu masuk pada alam cerpen Danarto. Cerita yang dibuka dengan percakapan antara Allah dengan ayat-ayat suci memang menarik, tetapi perlakuan pengarang pada objek lain yang berinteraksi dengan ayat-ayat suci memecah kebekuan penyampaian suatu peristiwa yang sulit dibayangkan agar tidak jatuh menjadi deskripsi sederhana yang abstrak. Salah satu contoh yang bagus untuk menggambarkan perjalanan ayat-ayat itu menuju bumi adalah berikut ini: “apakah pernah terlintas suatu cuaca yang seperti itu, di antara bunyi-bunyian dan kediaman, benderang tanpa bayangan, warnanya silih berganti, yang kabut menjadi kelambu, yang embun menjadi permadani.. setiap saat siapa pun dapat berhenti tanpa menginjak sesuatu dan tanpa jatuh meluncur.”
Berdasarkan kutipan tersebut, penggambaran lempengan-lempengan cahaya lebih utuh daripada mahkluk lain, seperti awan, sesayup bunyi, sebersit bau, dan warna. Hal ini menandakan fokus pada lempengan cahaya menjadi penting, termasuk di alur kemudian di mana ia tak lagi menjadi tokoh. Untuk saat ini, cukup dikatakan bahwa penggambaran ayat-ayat suci sebagai lempengan-lempengan cahaya, memberinya sudut pandang sebagai sesuatu yang dapat dikenali.
Bila pada pembukaan cerita Danarto menyampaikan ayat-ayat suci yang semula digantung di Arasy Allah, lalu turun ke Bumi dan diwahyukan pada Muhammad, lalu diikuti gambaran konflik yang terjadi di Palestina seperti dalam berita, rentetan peristiwa ini mula-mula adalah fakta yang dideskripsikan dengan kaidah penulisan tertentu. Terasa kaku bila teks tersebut merupakan teks sejarah atau artikel berita. Namun, melalui karya Danarto dengan gaya bercerita yang mengalir di sela-sela perpindahan alur, dan kepiawaian dalam mereka imaji, fakta dalam suatu berita dan ajaran agama dapat bergandengan tangan pula pada akhirnya.
Pertama-tama dibuka dengan penceritaan suatu keadaan, lalu diikuti dengan fakta di lapangan. Misalnya, seperti pada awal paragraf 16: “dan pemburu-pemburu bagi berdirinya negara Palestina mendapat semangatnya dari ayat-ayat ini”, dilanjut dengan status tanah Palestina. Paragraf selanjutnya menceritakan bagaimana kondisi ayat tersebut selain digunakan sebagai penyemangat. Barulah terasa pergantian suasana, yang paling menonjol pada paragraf 19: “Pemimpin PLO, Yasser Arafat, memberi keterangan berbeda dalam temu persnya di Bagdad. Menurut Arafat, orang Palestina yang tewas 62 orang, luka-luka 500 orang, dan 1.700 ditahan.”
Formula selanjutnya untuk memecah kebekuan adalah bagaimana pengarang menempatkan lempengan-lempengan cahaya yang semula adalah ayat-ayat suci, kini sebagai suatu simbol. Peran simbolis dari lempengan-lempengan cahaya itu sendiri adalah ungkapan secara halus pada suatu peristiwa yang serius.
Perhatikan dialog berikut.
“Kamu menelan apa, anak manis?” sergah seorang serdadu, di antaranya, sambil memegangi kepala gadis kecil itu.
(untuk diperingkas, melompat pada).
“Tidak.”
“Kamu tadi memasukkan sesuatu ke dalam mulutmu.”
“Ya,” jawab gadis kecil itu.
“Apa yang kamu telan?”
“Ayat-ayat suci,” jawab gadis kecil itu.
“Ayat suci apa? Ayat suci Bibel?”
“Bukan.”
“Ayat suci apa?”
“Ayat suci Alqur’an.”
Serdadu Israel membawa si gadis cilik karena diduga menelan dokumen rahasia, “jangan-jangan dia menelan dokumen rahasia” kata seseorang. Alih-alih dokumen rahasia, si gadis ternyata menelan lempengan-lempengan cahaya dan tak segera dilepaskan begitu saja. Yang menarik adalah, cara tentara dan si Komandan memandang ayat suci, mereka terheran-heran, penasaran, dan tertarik, tapi satu hal yang pasti mereka tak sampai mengimaninya. Sekarang, kita diajak melihat bahwa lempengan ayat suci tidak hanya dipandang sebagai perintah Allah yang diturunkan ke Bumi, tetapi juga simbol keimanan.
Di samping ayat sebagai tokoh, lempengan, dan simbol, Danarto memperjelas fokus ayat ini melalui pengkhususan pada Al Fatihah, ayat Kursi, dan Ali Imron. Terutama pada ayat kursi, di mana Allah senantiasa merawat bumi dan mahkluknya. Secara konsisten kandungan ayat itu tetap ditampilkan oleh Danarto mulai dari awal cerita; ketika Allah mengabulkan permohonan Awan untuk menurunkan hujan; dan terhadap perjuangan para ‘pemburu’ yang ingin menegakan negara Palestina.
***
Setelah disinggung sedikit mengenai teknik dalam cerpen Danarto, kini mari kita lihat makna apa yang ingin disampaikan oleh pengarang. Terlebih dahulu, perlu disinggung pula bahwa Danarto menyampaikan isu tidak dengan cara yang dogmatis dan bersifat propaganda. Untuk terakhir kalinya, mari kita bahas kembali persoalan teknik.
Lihat kembali dialog serdadu Israel dengan si gadis cilik. Danarto menunjukan serdadu Israel yang menyapa seorang gadis cilik sebagai figur seorang ‘paman’ yang sok ingin tahu. Dengan menampilkan pertanyaan selangkah-selangkah dalam dialog, tanpa ada ucapan kasar dan memaksa secara halus. Singkatnya, tidak memberi kesan serdadu Israel yang ringan menarik pelatuk. Selain itu, karakter komandan tidak ditampilkan sebagai sosok bringas pada orang tua si gadis, terutama ayahnya yang menatap pada mereka. Namun, ketika datang persoalan lempengan cahaya si komandan tak bisa diajak kompromi, hal itu diperlihatkan ketika bawahannya tampak seolah meyembunyikan sesuatu. Gambaran halus kembali ditegaskan pada akhir cerita, ditunjukan dengan perlakuan serdadu yang memaksa si gadis turun, dibenturkan dengan fakta bahwa ada serdadu Israel yang melakukan perbuatan keji sebagai perbandingan. Makna yang tersaring dalam ilustrasi tersebut adalah serdadu juga manusia, yang tetap manusiawi sebelum menjadi serdadu Israel yang melulu Israel.
Meskipun begitu, kecenderungan seorang pengarang tidak dapat dipungkiri sebagai netral begitu saja. Danarto tampaknya membuka kedok Israel perihal mereka yang mati tertembak, “polisi Israel selalu berusaha mencegah upacara penguburan menjadi kampanye perjuangan palestina”. Bila dikaitkan dengan isu tentang keimanan, apa yang disorot oleh Danarto ini adalah tindak penyempitan ruang untuk mengurangi aktualisasi keimanan sebagai pembakar semangat perjuangan. Hal itu merupakan kelanjutan dari apa yang diperintahkan si Komandan, mengumpulkan lempengan cahaya dari tempat perkara, yang puncaknya adalah melepaskan lempengan-lempengan cahaya dari pakaian si gadis cilik. Ada indikasi makna bahwa keimanan yang jatuh ke tangan lawan adalah akhir dari perjuangan.
Untuk memperkuat dugaan pada makna tersebut, kita perlu mengikutsertakan ayat-ayat suci yang disinggung Danarto dalam cerpen ini, yaitu Al Fatihah, ayat Kursi, dan Ali Imron ayat 18-19. Mengingat keterbatasan penulis dalam ilmu tafsir, bahasa arab, dan banyaknya makna yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut, maka pembahasan dikerucutkan pada tema dalam alur ini, konflik di Palestina.
Al Fatihah sebagai surat pertama dalam Al Qur’an namun bukan yang pertama diturunkan Allah, dan di tempatkan pada urutan pertama secara konsisten oleh Danarto, penulis rasa bukan kebetulan semata. Baik dilihat dari posisi atau urutannya dalam cerpen, hal itu dapat menunjukan keutamaan Al Fatihah sebagai ‘pembuka’. Pembuka dari apa? dari diri, keterbukaan diri, sebagaimana pembukaan cerpen ini yang membuat saya tertarik untuk membaca, atau keterbukaan Anda pada tulisan saya ini. keterbukaan diri memungkinkan kita untuk menerima dan melepas suatu hal, termasuk kebenaran. Dalam Al Fatihah secara berurutan pembuka terjadi karena keterbukaan pada Allah melalui menyebut nama dan sifat-Nya, bersyukur, mengkukuhkan diri bahwa inilah jalan hidup yang akan ditempuh, dan kembali lagi pada Allah untuk mempertahankannya.
Peran ayat Kursi bagi tema konflik di Palestina dalam cerpen ini adalah adanya harapan. Karena Allah tidak tidur, senantiasa mengurus mahkluknya, dan apa-apa yang dikehendaki oleh mahkluknya dapat dicapai dengan seizin Allah. Harapan juga ada dengan mengingat bahwa kekuasan Allah meliputi langit dan bumi, maka tiada tempat berlindung selain pada-Nya.
Di sisi lain, ayat kursi menunjukan kedudukan serdadu Israel yang tidak dapat mengetahui ayat Allah dan mengimaninya, karena tidak dikehendaki demikian. Hal itu diilustrasikan melalui perintah si Komandan untuk menelan lempengan cahaya pada bawahannya dan gagal, begitu juga ketika dia mencoba sendiri. Meskipun ada ketertarikan dan rasa penasaran yang digambarkan, mereka tak sampai mengimaninya, dan mungkin inilah yang hendak dimaksud oleh Danarto ketika menyertakan Ali Imron 18-19. Sampai kemudian si Komandan sendiri berkata, “Ini tanah macam apa! Makin banyak bentrokan makin banyak mukjizat”. Apa mungkin, karena kedengkian mereka tak bisa mengetahuinya? Bahwa, keimanan hanya bisa dilihat dengan keimanan itu sendiri...
Ya, melalui cerpen Danarto ini, yang mengkomposisikan kandungan ayat suci, kondisi politik dan koflik di Palestina, serta keimanan, menjadi karya yang membumi. Jauh dari konsep-konsep, atau fakta-fakta yang lebih nyaman dibacakan orang lain untuk didengar. Dengan kemudahan, dan keasikan yang disajikan Danarto masihkah kita malas untuk membaca?

Posting Komentar

1 Komentar