Daily Wisdom: Alunan Penantian

Ada kata-kata yang dapat menungungkapkan liburan kuliah kali ini, 'bagai mendengar musik tanpa irama'. Ini terjadi hanya karena 'menunggu'. Menunggu datangnya tanggal 28 sehingga bisa bermain ke pantai bersama teman lama. Menunggu paket yang belum juga sampai ke tangan. Menunggu mood oke supaya bisa berkarya. Menunggu doa diijabah, tapi doa menunggu usaha, tapi usaha harus menunggu saya mau mengusahakan, dan demikian berputar-putar dalam ketakmenentuan. Sampai akhirnya ada yang pasti jua, yaitu sebuah pertanyaan "mengapa ketakpastian itu mencekam?", atau "apa menunggu selalu terasa seperti ini?".
Kalau aku membuka buku untuk menemukan jawaban dari pertanyaan itu, maka sampailah pada pernyataan Heidegger tentang suasana hati (stimmung).
"Kita senantiasa dalam kondisi ditala (gestimmt), seperti senar gitar. Suasana hati 'menala' Dasein* terhadap dunianya, menandakan bahwa manusia tidak terkurung dalam dirinya...melainkan membuka diri terhadap dunia."
Suasana hati dalam konteks filsafat Heidegger adalah kecemasan, sebagai suasana hati yang otentik, dan ketakutan, sebagai suasana hati yang tidak otentik. Perbedaan di antara keduanya terletak pada objeknya, objek bagi kecemasan bersifat nirwujud, abstrak, berkaitan dengan sesuatu yang tak pasti; lain dengan objek ketakutan yang konkrit dan pasti, misal pada anjing, atau mantan.
Hal yang agak mengganjal bagiku adalah 'membuka diri terhadap dunia', tetapi ini tidak terasa demkian, karena menunggu membuatku terjebak di satu tempat tanpa ada minat ke mana pun sebelum yang dinanti menjadi jelas. Persis seperti orang yang menunggu di stasiun, mau tak mau harus terpaku di bangku. Tapi, mungkin ada hal lain yang dimaksud oleh Heidegger. (Sejenak aku berpikir, sambil mengamati secangkir kopi masih menjadi panggung buat asap halus yang menari-nari).
Aha, erlebnis!
Keterbukaan diri terhadap dunia, adalah soal pilihan. Maksudnya, dunia bukan semata-mata berbagai tempat, atau lingkungan yang ada di luar diri kita, tetapi totalitas yang saling terkait antara diri kita dan segala hal di luar diri yang membentuk kesadaran kita. Kalau dianalogikan sebagai lagu, ia menjadi dunia atau musik karena adanya musisi, vokalis, drumer, gitaris, pianis, basis, dan lain-lain; instrumen, gitar, drum, bass, speaker; bahkan melibatkan pengalaman dan keterampilan dari para musisi, dan kondisi alat musik, lebih jauh lagi bagaimana reaksi penonton alay, dan orang-orang yang berjoget. Bisa dimainkan atau tidak, menghibur atau tidak, membuat orang bisa berjoged dangdut atau moshing, bergantung pada hal tersebut, pengalaman, keterampilan, dan kesediaan alat. Tapi, yang pertama adalah kemungkinan terlebih dahulu.
"Kita hanya bisa menyerahkan diri pada kehidupan dan menjalaninya. Namun...di hadapan kita terhampar kemungkinan-kemungkinan untuk bertindak. Dasein adalah kemungkinan itu sendiri."
 Dasein sebagai kemungkinan itu sendiri diawali oleh keterlemparan dari dirinya sendiri. Kalau diilustrasikan, keterlemparan ini seperti para pemusik yang tiba-tiba saja tampil di panggung dengan alat musik yang sebagaimana adanya. Keterlemparan pada diri sendiri pada para pemusik itu terlihat mana kala ia tampil di atas panggung dengan penuh kepercayaan diri dan energik, sementara di kehidupan sehari-harinya ia adalah seorang yang pemalu dan kalem.
Setelah kemungkinan diketahui, pilihan sebagai suatu tindakan dapat diaktualisasikan. Termasuk pada kasusku, menunggu dalam penantian adalah tindakan itu sendiri, pilihan, menyerahkan diri pada kehidupan. Dengan mengarungi penantian ini, rasa mencekam yang hadir tak lain karena berbagai kemungkinan yang beranak kemungkinan, yang menjadi keterarahan kita membuat cemas. Tiba-tiba saja ada pertanyaan sumbang yang terdengar seperti ini, "masih maukah engkau mengarungi musik ini?"
Maka aku kembali menelusuri halaman demi halaman, seperti permainan musik yang menelusuri partitur. Sampai akhirnya, jawaban yang sayup-sayup terdengar seperti lagu Amazing Grace muncul.
"Eksistensi yang otentik, jawab Heidegger, bukahlah sesuatu yang melayang-layang di atas keseharian yang jatuh, melainkan secara eksistensial hanyalah upaya menangkap (Ergreifen) keseharian secara termodifikasi."
Persoalan otentik atau tidak otentik salah satunya dipandang dari bagaimana cara kita menghadapi keseharian. Anda tidak otentik bila tenggelam dalam keseharian, dicirikan dengan kelupaan pada 'Ada' yang meliputi segenap potensi kita, kekinian yang hadir tanpa kebulatan tekad, dan menunggu-nunggu dengan terpengaruh prinsip 'bagaimana besok'. Kita semua tentu pernah mengalaminya, contohnya saja saat ada musik yang disetel, tanpa sadar kita ikut menyanyikannya, tiba-tiba suka dan ikut mencari judul lagu itu, dan memutar ulang selama beberapa kali. Tapi, akan terasa lain mana kala lagu yang didengar membuat kita merenung, terkenang pada masa lalu atau hal lain, bahkan kita sampai bisa memetik makna diantara petikan gitar dan lirik yang tertuang dalam lagu itu. Menghadapi keseharian secara otentik, memang bisa dibilang dengan memodifikasinya, caranya dengan introspeksi diri, menemukan insight, dan membuat pilihan untuk mengantisipasi waktu yang akan datang. Baik, otentik atau tidak otentik, hal ini terjadi dengan serempak.
Sampai sejauh ini, terjawab sudah pertanyaan itu. Satu hal yang pasti, 'irama' yang harus kuberikan dalam alunan musik penantian ini barangkali seperti lagu Dream Theter yang berjudul The Count of Tuscany, meskpiun berdurasi 19 menit, dilalui dengan petikan mengalun, lika-liku kunci lagu dengan nada yang saling mendahului, tetapi menghasilkan cerita.

* Da dalam bahasa Jerman berarti 'di sana', dan Sein berarti 'Ada'. Sebutan Heidegger untuk seorang manusia dalam pemikirannya.

Referensi:
Hardiman, Budi F. 2003. Heidegger dan Mistik Keseharian. Jakarta: KPG.

Posting Komentar

0 Komentar