Daily Wisdom: Awe, Titik Tolak Sebuah Perjalanan

Ingat penantian yang kuceritakan sebelumnya? Akhirnya terbayar sudah satu penantian itu dengan melihat sendiri panorama yang kutunggu, kurindu.
Kawan, akan kuceritakan sesuatu, kau mungkin sudah menebak apa itu dari judul yang kutuliskan. Dan, mengapa aku ingin membagikan ini bukan semata-mata kepuasaan dari keinginan yang didambakan. Ini semua bagian dari perjalanan untuk menemukan makna keberadaan. Dan yang paling penting adalah permulaan yang menjadi spirit untuk tindakan ini. 

Pernahkah engkau menaiki gunung, sampai ke puncaknya dan terpana pada hamparan panorama yang terlukis atas lautan daun, kabut, dan sunrise yang tampil malu-malu di balik gunung. Kalau kau merasa takjub sehingga dirimu merasa menyaksikan sepotong surga, maka itulah yang rasakan manakala melihat lagi laut. Begitu keluasannya bersentuhan dengan cakrawala, pandangan yang tersingkap itu memunculkan perasaan 'awe'.
Awe juga disebut sebagai apresiasi takjub yang mendalam. Perasaan ini muncul ketika kita dihadapkan dengan kemegahan, keelokan, dan kerumitan dari hal yang memiliki makna universal. Perasaan takjub yang apresiatif ini dirangsang baik oleh karya seni maupun kemahiran seseorang (Keltner, 2000). Uniknya, di saat yang sama, pada satu sisi diri menjadi tiada, dan di sisi lain menyadari kekerdilan diri di hadapan fenomena, namun semakin menyadari pentingnya berelasi dengan semua itu. 
Perasaan ini saya katakan menjadi spirit bagi pencarian makna keberadaan dan diri karena nilai tertentu dalam sikap apresiatif. Nilai tersebut pertama adalah penyadaran antara diri dan fenomena, sebelum suatu fenomena berkesan terlebih dahulu kita menyadarinya dengan cara berelasi dengan fenomena itu. Jenis penyadaran yang saya bicarakan ini adalah persentuhan diri dengan sisi lain dirinya yang dijembatani oleh fenomena, ataupun persentuhan diri dengan fenomena yang memutus sebagian atau keseluruhan 'diri'. Memutus yang bagaimana? "Memutus yang mengikatkan". Bagaimana?
Apa yang diputus itu sendiri? Ini seperti halnya kau memiliki suatu hubungan, pacaran misalnya, di satu waktu hubungan kalian kandas, putus, sekedar kenangan. Lalu, setelah mengalami malam-malam seperti anjing yang melolong pada bulan, kau menyadari untuk bangkit kembali, move on. Kau anggap mantanmu itu sebagai lelucon, atau semacam jin yang namanya pantang disebutkan. Kau putus dan berlari, persis layangan yang putus...
Tidak ada yang dapat dikatakan sebagai awe dalam ilustrasi tadi, tapi di balik itu ada waktu yang kita lalui selangkah demi langkah. Dan apa yang diilustrasikan sebelumnya adalah kau berlari tapi tak melangkah dari waktu, kebangkitan untuk 'merevisi' masa lalu. Sedang, terputus dari diri dalam momen awe membawa kita sejenak untuk mewaktu bersama fenomena. Terikat dalam kekinian yang menyembulkan diri kita pada... yang megah itu. Dan secara perlahan kita melihat resolusi tentang diri yang selama ini bersembunyi karena kita tak punya waktu untuknya. 
Mari kembali ke bibir pantai dan merasakan kekasaran batu yang kududuki. Kawan, perasaan awe yang kualami membuatku merasa punya ikatan dengan laut. Agin di sini berhembus bagai dikepakan oleh sayap-sayap burung rajawali, dibandingkan di tempat lain yang seumpama kepakan sayap kupu-kupu. Hal itu mengingatkanku pada kebebasan yang membawaku ke panggung kreatifitas, bahwa itu dibutuhkan nyali, semangat, kepercayaan diri setinggi terbangnya si rajawali, dan melayang dalam keluasan yang selalu cukup untuk dijelajahi.

Referensi:
Compton, William C. (2005). Introduction to Positive Psychology. Belmont: Thomson Wadsworth.
 

Posting Komentar

0 Komentar