Mengartikan Kembali Kata Keluarga



Oleh Mochamad Faris Dzulfiqar
Image by Aozorablog

Tampaknya begitu mudah kepada sesama yang tergabung dalam sebuah kelompok untuk mengatakan ‘kita adalah keluarga’. Namun, apakah perilaku dan tindakan kita sejalan dengan ucapan itu? Atau malah mengingkarinya. Menipu, diri sendiri dan orang lain. Jauh di kedalaman, mungkin, kita bukan menginginkan orang lain, hanya menghasratkan tujuan sendiri. ‘Keluarga’ untuk dibuat ‘keluar’, mengeluarkan tujuan dan mengusir mereka setelah itu.
Sejujurnya, aku pun seorang yang goal oriented, hanya saja tidak mengiming-imingi dengan gombalan semacam itu. Aku mempersilakan orang lain yang ingin membantu untuk terlibat, atau melibatkan diri bila memang diperlukan. Jalan yang kuambil dengan segala kerikilnya adalah milikku, demikian dengan jalan yang kau ambil adalah milikmu dan untukmu seorang.
Rasanya basa-basi sudah cukup. Mari kita kembali pada keluarga yang tak melulu terdiri atas kakek-nenek, ayah-ibu, adik-kakak, dan saudara-saudaranya. Lalu pada keluarga yang bagaimana? Terlebih dahulu kita perlu mendasarkan pada apa yang membentuk keluarga itu sendiri.
Dari berbagai sisi, adanya keluarga tidak lepas dari adanya keturunan. Meskipun tidak melulu sebagai tujuan dari keberadaan keluarga itu sendiri, disadari atau tidak ia membentuk atau menandakan adanya kekeluargaan. Dan harus diakui bahwa keberadaan kita bergantung pada keluarga. Terutama keluarga yang dihasilkan dari ikatan darah.
Kita sebagai keturunan, daun dari pohon keluarga, hanya karena terikat oleh darah tak semata-mata copy dari orang tua. Tapi potongan gambar dari satu generasi, tak terpisahkan dari pohon kehidupan mulai dari akar hingga daunnya. Di mana melibatkan segala proses seperti apa yang dikonsumsi si ibu, dengan atau tanpa susu kehamilan; apa yang dilakukan si ibu, terharu menyaksikan sinetron atau rileks sembari menikmati musik klasik atau khusyu ketika melantunkan ayat suci; apa yang terjadi ketika proses kelahiran, di rumah sakit dengan segala elemen (alat dan prosedur) yang modern, atau lewat dukun beranak, atau tiba-tiba saja dan tak terduga di suatu tempat. Selera, tindakan, gaya hidup, bukan darah tapi dibuat mendarah.
Tetapi setelah lahir, terlempar ke dunia, semua kejadian semasa itu bagi kita menjadi gelap seperti dalam rahim. Yang tersisa hanyalah ikatan mendarah yang tidak kita pilih sebelumnya. Mungkin, akan ada pola-pola yang terungkap kemudian ketika kita bertindak dan mengambil pilihan. Tapi itu cerita lain, dan untuk melanjutkan pencarian arti ini kita mendapatkan pertanyaan baru: “apakah ikatan darah itu dicerap kesadaran atau tubuh?”
Aku menyadari bahwa tidak mungkin mutlak pada satu pihak saja. Yang ada adalah kecenderungan pada salah satunya. Seseorang belum tentu mirip dengan orang tuanya tetapi perilakunya menunjukan kebenaran gosip orang-orang tentang keluarganya. Atau kita sangat mirip dengan salah satu orang tua, tapi memiliki karakter yang sangat bertentangan. Kedua ilustrasi itu menunjukan sisi psikologis, belum mencapai tingkat mengapa ikatan darah bercermin pada kesadaran atau tubuh. Untuk itu perlu ditegaskan kembali bahwa ikatan darah memastikan kedudukan kita sebagai keturunan, kemudian karakteristik tubuh dan kesadaran menjadi ‘jejak’ yang memungkinkan pelacakan pada asal-usul, ikatan darah. Sampai kemudian kita mulai mengidentifikasi apa itu keluarga, baik melihat dari keserupaan karakteristik tubuh, atau kesamaan pandangan antargenerasi. Persentuhan dengan akar pohon keluarga adalah persentuhan sekaligus dengan tanah yang menjadi kediaman pohon itu sendiri. Disadari atau tidak, ikatan darah bertransformasi menjadi ikatan takdir.
***
Untukmu yang mengatakan “karena kita adalah keluarga.”
Kita mungkin dipertemukan dan berkumpul di tempat yang sama dengan segala perbedaan yang melekat pada diri masing-masing. Dan, memang tanah pun tak homogen, atau si pohon tak tumbuh dengan semestinya. Namun, apakah perbedaan atau kesamaan yang mengikat kita? Dari ikatan darah yang beragam atau incest? Untuk sementara, kita tangguhkan pertanyaan semacam itu, dan melihat kembali arti lain dari ikatan darah itu sendiri.
Darah sebagai simbol kehidupan, dan nyatanya penopang antara hidup dan mati seseorang memiliki makna tersendiri kala muncul bersama luka. Luka tak langsung mengungkapkan ikatan darah antara anak dan orang tua atau golongannya, tetapi penanda keterikatan kita dengan kehidupan. Ada pula rasa sakit yang datang dan kehangatan yang beralih jadi dingin. Selama darah mengalir dan tak membeku ikatan yang menjadi ‘kontrak’ dengan kehidupan tetap berlangsung. Luka, seberapa pun besarnya itu menjadi tanda adanya ancaman terhadap ikatan ini.
Dengan analogi yang sama, ikatan darah dalam keluarga sebagai suatu kontrak juga dapat dilihat melalui luka. Baik sebelum atau sesudah terluka, sekurang-kurangnya ada penderitaan yang dialami. Dalam proses kelahiran misalnya, antara perjuangan ibu dan tangisan bayi setelah ia lahir dan hidup. Semakin keras tangisannya, semakin kuat daya hidupnya. Si bayi memang tidak terluka, tetapi ia menemukan ancaman, yang kemudian akan ia temukan kembali dalam kehidupannya kelak. Secara khusus, pada rasa sakit atau merasa terluka karena sesuatu terjadi pada anggota keluarga kita menegaskan ikatan darah pada kita. Hal itu mengantarkan pada posisi seolah-olah kita ikut terlibat atau menjadi korban, keterbukaan diri semacam ini menunjukan bahwa kita dapat berelasi dengan semua orang kemudian. Lebih jauh lagi, hal itu mengabaikan ikatan darah, merubah menjadi ikatan kehidupan.
Sekarang, apakah kita adalah keluarga, ketika tidak mengalami perih dari luka yang sama? Tidak mengalami penderitaan yang sama? Menanggung perih seorang diri. Sebagian yang lain mengajak orang untuk menanggung perihnya tanpa mau mencicipi perih yang dimiliki orang lain. Atau kita terluka karena melintasi suatu jalan dan berpapasan dengan orang lain yang terluka di persimpangan jalan, kita saling membandingkan luka, dan kemudian menemukan keterbatasan masing-masing. Dalam situasi itu kalian saling menyadari, aku dan dia dari keturunan yang berbeda, tapi mengalir dalam perjuangan yang sama, untuk itu kita layak berjabat tangan dan berjalan beririgan. Ikatan takdir dibumikan menjadi ikatan keluarga.



Posting Komentar

0 Komentar