Formula menuju Self Mastery

Apa yang saya sampaikan di sini pernah dinyatakan dalam ujian akhir semester mata kuliah psikologi konseling. Namun saya memiliki ekspektasi untuk mengembangkan konsep formula self mastery di bawah ini. Maka dari itu, menyalinnya kembali dalam blog pribadi merupakan langkah awal dari follow up konsep yang menjadi studi tersendiri bagi saya. Di samping untuk tujuan dan manfaat pribadi, konsep yang saya sampaikan ini barangkali dapat membantu pembaca umum, baik sebagai tulisan yang memotivasi, memberi wawasan, ataupun diaplikasikan pada masalah yang tengah dihadapi. Saya juga sangat mengapresiasi setiap komentar atau kritik dari konsep ini demi perkembangan dan penyempurnaannya sendiri.

Terlebih dahulu, berikut mindmap yang menggambarkan formula self mastery secara keluruhan.


Latar belakang dari konsep ini adalah pengalaman pribadi berupa realisasi dari makna nama saya, pengaruh dari konfrontasi pada bayang-bayang dan permasalahan lain, serta pembacaan karya Nietzsche yang intens selama beberapa waktu. 
Sistem yang saya peroleh ini merupakan ‘triadik di dalam triadik’ baik secara struktur atau pun esensi. Secara struktur terdapat dimensi yang terdiri atas tindakan, sikap dan tujuan. Pada urutan yang sama, esensi dari struktur tersebut adalah ‘way of life’, ‘Gnothi seauton’, dan kondisi manusia. Dimensi tindakan: ‘hadapi’, ‘rangkul’, dan ‘rayakan’; dimensi sikap: ‘might’, ‘control’, dan ‘mastery’; dimensi tujuan: ‘realisasi diri’, ‘ruinenlust’, dan ‘otentisitas’.
Berikut ini adalah penjelasan mengenai istilah gnothi seauton dan ruinenlust. Gnothi seauton mengacu pada motto di kuil Delphi semasa hidupnya Sokrates yang berarti “kenalilah dirimu!” (Hassan, 2014). Sedangkan Ruinenlust merupakan compound dalam bahasa Jerman, ‘ruin’ berarti reruntuhan, kehancuran, dan ‘lust’ berarti sebagai kesenangan, atau semangat. Sebagai compound, konteks penggunaan kata ini menunjukan keadaan emosional dan pengalaman estetis terhadap reruntuhan dalam arti yang luas.
Kembali pada topik mengenai dimensi, khususnya mengenai dimensi gnothi seauton, sebagai pemaknaan dari nama saya terfokus pada suku kata ‘Faris’ yang dalam bahasa Arab berarti singa, penunggang kuda, dan ahli dalam permasalahan. Saya menemukan bahwa singa merupakan simbol dari agresifitas, kemarahan, dan kekuatan yang saya tekan dan teridentifikasi dalam arketipe bayang-bayang. Sang penunggang kuda bermakna seperti analogi ego menurut Freud, di mana si penunggang kuda tidak memiliki dayanya sendiri tetapi meminjam dari kuda dan mampu mengarahkannya, inilah yang kemudian saya istilahkan sebagai ‘control’. Terakhir, ahli dalam permasalahan, dimaknai sebagai mastery karena seseorang tidak hanya menguasi permasalahan, tetapi juga menyingkapkan kebesaran diri dibandingkan masalah tersebut.
Sebelum membahas bagaimana keseluruhan sistem ini bekerja, terlebih dahulus ditekankan bahwa terdapat ‘dialektika’ yang menjembatani proses dan kesinambungan antardimensi, dan alasan mengapa ketiga dimensi diletakan sedemikian rupa. Dimensi tindakan mendahului dimensi gnothi seauton, karena prinsip kenalilah dirimu sebagai motif bersifat potensial. Orang-orang tidak langsung menyadari dan memiliki motivasi untuk mencari tahu siapa dirinya. Melainkan terarah pada tindakan konkrit di dalam keseharian, sebagai konsekuensi dari tuntutan dan perbuatannya. Namun, melalui tindakan, respon, dan cara mengeksekusi tindakan tersebut secara tak langsung memberi petunjuk pada gnothi seauton. Di saat yang sama, realisasi diri sebagai suatu kondisi manusia menjadi lebih didasari. Dimensi kondisi manusia sebagai yang paling dasar ditempatkan terakhir karena tersembunyi di balik berbagai hal yang terjadi dalam eksistensi. Hal tersebut ditegaskan oleh momen ruinenlust yang hadir bersama suatu kegagalan, di mana setelah terputus dari tindakan sebelumnya, orang akan kembali bertindak walau masih berupa pilihan, yang sekali lagi secara tak langsung memberi tanda-tanda mengenai siapa dirinya.
Untuk diterapkan sebagai langkah self help, pertama-tama perlu kembali pada konsep pengembangan diri yang digambarkan Foucault dan pendapatnya mengenai berfilsafat. Dari sini, langkah awal, ‘hadapi’ dapat ditunjukan baik sebagai tindakan langsung, atau sebatas dalam pemikiran. Kedua mode tersebut tetap berorientasi pada pengembangan diri karena fase ‘hadapi’ terikat pada ‘mastery’ yang berada dalam dimensi kondisi manusia. Selain itu, sebelum menghadapi sesuatu, dalam benak individu terlebih dahulu ada praduga tentang apa yang akan dihadapinya. Keterarahan pada masa depan yang belum jelas terasa menantang dirinya, sehingga muncul berbagai pilihan, pertanyaannya mana di antara pilihan, masalah dan solusi, yang akan dirangkul individu?
Tindakan hadapi dalam kondisi tersebut membawa seseorang pada fase rangkul dengan dua mode berbeda. Di sinilah proses dialektis yang saya singgung di awal mulai muncul. Dengan menentukan untuk menghadapi, seseorang adalah perangkul yang aktif karena berorientasi pada dirinya sebagai subjek yang menentukan dan menutuskan pilihan. Sebaliknya, menjadi perangkul pasif begitu ia merasa telah ‘dicengkram’ oleh masalah, dan tanpa sepengetahuannya masalah menjadi titik pusat yang menentukan setiap keputusannya.
Dari dimensi kondisi manusia, fase rangkul terkait dengan control yang didefinisikan berdasarkan mode rangkul itu sendiri. Secara singkat, perangkul aktif menyadari control ada di dalam dirinya, dan perangkul pasif merasa kehilangan control. Namun, might didefinisikan bukan pada status control, melainkan bagaimana individu mengekspresikan pembalikan mode rangkul. Apabila dari mode aktif ke pasif diekspresikan dengan me’rayakan’, maka kondisi manusia yang terkait dengan ruinenlust lebih disadari, sekaligus membuka kesadaran akan realisasi diri. Begitu juga pada mode pada mode pasif ke aktif, perayaan karena memperoleh might dapat disalurkan pada realisasi diri.
Bagian terpenting dalam proses ini adalah mastery dan otentisitas. Pemerolehan mastery diharapkan membantu seseorang untuk mampu mengembangkan diri walau secara eksistensial merasa sakit. Selain itu, seseorang dengan mastery dapat tetap berkembang karena kegagalan yang dialaminya tidak dianggap sebagai kejatuhan dirinya, ia memandang itu sebatas kondisi yang wajar dalam kehidupan, sehingga disambut dengan ruinenlust. Terakhir, mengenai otentisitas, bagi saya sendiri titik puncak tersebut adalah sesuatu yang harus ditemukan oleh individu itu sendiri, tidak ada orang lain yang bisa mendefinisikan hal itu untuknya.

Posting Komentar

0 Komentar