Tarian Kehidupan: Diambang Kekacauan dan Keteraturan

Oleh Farid

Sejak lama, para filsuf dari dunia kuno berbicara mengenai kehidupan dan berbagai aspeknya. Baik kehidupan individual, ataupun kolektif diharapkan terarah ke kondisi yang baik, bahkan ideal. Dan ada satu tema yang tak bisa dipisahkan dari konsep tersebut, yaitu penderitaan. Sampai hari ini pun kita masih mempertanyakan mengapa penderitaan itu ada dan terjadi di mana-mana, namun sebagian dari kita tentu menanggapnya terjadi tanpa pandang bulu, dan sebagian yang lain melihat dengan kecurigaan campur tangan pihak tertentu. Tapi kita sepakat bahwa ini adalah masalah bagi individu dan masyarakat.

Pertama-tama apakah penderitaan itu sendiri? Apakah ia adalah fenomena alamiah atau kondisi tertentu, konsekuensi dari tindakan kita misalnya? Ketika dikaitkan dengan kehidupan, penderitaan dijelaskan dengan adanya rasa sakit dan dilawankan dengan kesenangan yang meniadakan kesakitan. Tapi, jangan sampai kita terjerumus untuk mengatakan bahwa penderitaan adalah ketiadaan dari kesenangan, ataupun keniscayaan dari adanya rasa sakit. Dari sini terdapat dua hal penting yang dapat membedah apa itu penderitaan, yaitu konsep mengenai sensasi dan persepsi.

Rasa sakit merupakan ranah sensasi, tetapi memiliki makna tersediri ketika dipersepsikan. Misalnya pada luka fisik, kita mengenal bermacam-macam nuansa rasa sakit mulai dari menyebutnya sebagai ngilu, linu, perih, dan nyeri, uniknya dalam bahasa Indonesia, kata ngilu ditujukan untuk rasa sakit pada sendi dan tulang, sedang linu secara khusus pada gigi.
Lebih jauh lagi, persepsi yang diiringi interpretasi dan kondisi emosi tertentu memberi nilai dan corak sensasi rasa sakit. Rasa sakit tidak melulu soal sakit itu sendiri, tetapi pengalaman tersakiti. Hal tersebut mengubah rasa sakit sebagai sesuatu yang impersonal menjadi personal, pada gilirannya membuat individu menyadari ke-subjek-an dirinya dengan sudut pandang orang pertama. Dengan demikian saya membicarakan penderitaan sebagai pengalaman yang tak lepas dari keberadaan individu.

Sebagai pengalaman, terutama yang dialami subjek dengan sudut pandang orang pertama, memberi tepian untuk ‘cakrawala’ penderitaan. Mari kita asumsikan bahwa rasa sakit adalah suatu reaksi, dan hal itu terjadi pada seseorang dan sebuah otomata. Pada seseorang, rasa sakit diberikan melalui luka fisik, bentakan, dan ejekan. Kemudian orang tersebut menunjukan tanda-tanda tidak nyaman, terganggu, dan tersiksa. Tetapi di balik penampilannya tersebut, ia merasa seperti berada di ‘neraka’, ia membenci orang yang membuatnya dalam kondisi tersebut, sekaligus dirinya sendiri karena membiarkan hal itu terjadi. Berlainan dengan respon dari orang tersebut, sebuah otomata dengan kecerdasan buatan merelasikan rangsangan rasa sakit yang diterima sensornya dengan berbagai perhitungan, ia mengukur rasa sakit dari skala geli sampai nyeri untuk serangan fisik, dan kesal sampai terhina untuk serangan verbal. Otomata ini menjadi instrumen yang mendeskripsikan rasa sakit dan konsekuensinya, alih-alih merelasikan diri dengan apa yang menjadikannya kesakitan.

Seseorang dalam contoh tersebut merelasikan sensasi rasa sakit dengan berbagai hal yang membuat berbagai hal saling terkait, memengaruhi dirinya, dan menarik perhatiannya. Di mana secara serempak dalam satu kemewaktuan, hal itulah yang dialami sebagai pengalaman tersakiti. Bahkan pengalaman tersebut bisa tetap berlangsung selama ada bagian yang masih menjadi pusat perhatian. Hal ini menunjukan, bahwa dalam sudut pandang orang pertama kejadian tersebut dialami dalam waktu subjektif, walau sudah terjadi setahun lalu misalnya, orang tersebut tetap menganggap seperti hari kemarin atau baru tadi. Hiedegger menyebut waktu subjektif ini sebagai zeitlichkeit, zeitlich sendiri berarti temporal, namun bukan temporalitas melainkan kesementaraan yang dijalani ketika seseorang bergumul dengan dunianya.

Sekarang, kita kembali ke pertanyaan sebelumnya, dan menyatakan bahwa penderitaan adalah momen yang dipertemukan melalui rasa sakit untuk memenjarakan diri di dalam keyakinan yang menyesatkan, atau sekurang-kurangnya keliru karena ada nilai yang tercerabut. Secara tersirat, di dalam pengertian ini terkandung peran kehendak. Kehendak adalah kecenderungan, apabila kebaikan yang dihasratinya maka itulah yang dikejarnya dan mengimplikasikan hal yang saling terkait. Untuk menjawab pertanyaan kedua, penderitaan sebagai fenomena alamiah, inheren dalam alam, sebatas prasyarat untuk membuat subjek mengalami pengalaman tersakiti. Momennya memang dapat tercetus melalui berbagai hal yang terjadi dan terdapat di alam, tetapi untuk menyadari berbagai pencetus tersebut dan mengkaitkannya dengan segala kemungkinan berpangkal pada subjek itu sendiri. Bahwa penderitaan diaktualkan melalui kesadaran atas alam dan fenomenannya. Lebih jauh lagi, melalui kesadaran tersebut pengalaman tersakiti ini terjaga dengan cara membangun dunia batin yang mengiringi suasana hati, atau pun proyeksi ke dunia luar sebagai cara untuk mengungkapkan ekspektasi yang tidak terpenuhi, pun ketercerabutan suatu nilai.

Saya menyadari kalau permasalahan yang terkait dengan judul yang diangkat belum terbahas. Untuk itu, perlu dipahami bahwa sebelum tarian kehidupan yang diiringi harmoni dan kekacauan dijelaskan, terlebih dahulu gerakan-gerakan yang menjadi dinamika tari itu sendiri perlu disinggung. Namun, izinkan saya membahas sedikit lagi sisi-sisi penderitaan yang teramati secara pribadi. Di paragraf sebelumnya, saya menyinggung ketercerabutan nilai dan ekspektasi yang tidak terpenuhi, lebih lanjut lagi hal ini merupakan ‘perjumpaan’ dengan sisi lain dari kenyataan. Secara sederhana, walau pun penderitaan dihadirkan oleh momen yang memanjangkan rentangnya, ada saatnya ia surut ketika menjalani kehidupan sehari-hari, namun dapat muncul kembali begitu menginstrospeksi diri. Dengan demikian, kala momen itu hadir kita cenderung sangat menyadari pengalaman tersakiti yang membuat suasana hati menderita, tetapi pengalaman dari waktu dan kejadian lain seolah surut ke latar belakang kesadaran kita sehingga menjadi samar-samar. Di dalam perjumpaan ini, ekspektasi yang tak terwujud atau pun ketercerabutan nilai memiliki dampak yang berkemungkinan terarah pada penyangkalan. Penyangkalan terhadap rasa sakit lebih tepatnya, bahwa waktu yang seharusnya diisi dengan kesenangan justru berbuah rasa sakit yang tak dinyana. Sebagai ‘penjara’, penderitaan lahir dari ironi untuk menyangkal rasa sakit yang dijalani dengan semacam kesakitan lain, alih-alih membiarkan waktu pengalaman tersakiti yang lalu untuk berlalu.

Sepanjang apa pun pembahasan mengenai penderitaan, itu bukan satu-satunya persoalan hidup, sekali pun hadir secara individual dan kolektif, juga terjadi di berbagai belahan bumi. Untuk itu, kini giliran membahas arus, daya halus, yang membuat manusia terlempar dari satu kondisi ke kondisi lain. Pergolakan di rahim kenyataan antara chaos (kekacauan) vs order (Keteraturan). 

Karena salah satu persoalan sebagai kondisi tertentu telah dibahas, langkah kali ini dimulai dari konsekuensi kondisi tersebut menuju orientasi  yang menyingkap sifat kedua daya tadi. Pertama, bisakah kita menyatakan bahwa penderitaan yang menyakitkan sepenuhnya negatif? Dan kesenangan sebagai lawannya itu positif? Sebagaimana yang kita ketahui, rasa sakit memiliki nilai positif begitu dikaitkan dengan tujuan untuk mempertahankan kelangsungan diri, kesadaran akan adanya permasalahan melalui alarm rasa sakit. Kedua nilai tersebut dapat hadir walau tak melulu disadari secara langsung. Namun bagimana pun kehadiran keduanya merujuk pada kebutuhan. Di mana segala sesuatunya bermuara pada pemenuhan diri. 

Kebutuhan yang mendesak pada pemenuhan untuk diri ini memiliki konsekuensi bila terpenuhi. Baik secara fisik atau psikis, mulai dari metabolisme sampai subjective well being, pemenuhan kebutuhan mentransendensikan dorongan untuk bertahan hidup menjadi pengembangan dan kematangan diri. Barangkali secara intuitif kita menduga bahwa kekacauan atau keteraturan adalah kondisi ekstrem dari kebutuhan, entah tepatnya bila berlebih atau kurang. Namun, kebutuhan terutama dalam bentuk objek pemuasnya merupakan sesuatu yang impersonal, selalu  di luar diri. Motif kebutuhan sebagai sesuatu yang personal, yang mana menjadikan kita memiliki berbagai selera untuk segala hal, menentukan eksistensi objek kebutuhan tersebut. Bersamaan dengan tuntutan berbagai motif tersebut, objek pun menjadi beraneka rupa dan fungsinya. Dan melalui keberagaman motif inilah, didorong dengan ketertarikan, pada gilirannya ada nilai, dan makna yang ikut tercipta, dari titik ini segala sesuatunya dikembalikan untuk diri sendiri.


Mengenai satu motif yang menggerakan motif lain yang secara kolosal menjadi penampilan antara kekecauan dan keteraturan, terdapat perspektif dari beberapa tokoh mengenai hal tersebut. Di mulai dengan konsep will to live (1818) Arthur Schopenhauer, yang menyatakan bahwa kehendak merupakan daya buta yang tak dapat diketahui. Kehendak untuk hidup merupakan manifestasi kehendak yang berorientasi pada siklus pemenuhan kebutuhan. Anggapan mengenai kehendak tersebut berakar pada pemilahan antara noumena dan phenomena menurut Kant. Sebagai daya yang pada dasarnya buta dan tidak diketahui, maka kehendak ini bersifat irasional. Berikut kondisi manusia menurut Schopenhauer (1818/1966):


All willing springs from lack, from deficiency, and thus from suffering. Fulfillment brings this to an end; yet for one wish that is fulfilled there remain at least ten that are denied … No attained object of willing can give a satisfaction that last and no longer declines; but it is always like the alms thrown to a beggar, thich reprieves him today so that his misery may be prolonged till tommorow. Therefore, so long as our consciousness is filled by our will, so long as we are given up to the throng of desire with its constant hopes and fears, so long as we are the subject of willing, we never obtain lasting happiness or peace.” (hal. 196).
Kondisi manusia yang bernada pesimis tersebut diikuti dengan konsekuensi dari kecerdasan, membuat manusia lebih sensitif pada penderitaan karena menyadari berbagai hal yang membuat keadaan menjadi tidak menyenangkan dalam kehidupan. Namun tidak melulu penderitaan dicerap oleh subjek, sebagaimana pemuasan kebutuhan terdapat kesenangan yang dapat dirasakan. Menurut Schopenhauer, melalui kesenangan tersebut manusia menghasrati kehidupan, daripada memilih kehidupan karena takut mati. Lebih jauh lagi, perjuangan memenuhi kebutuhan ini merupakan penundaan kematian, life and death struggle, dengan kematian sebagai akhirnya.

Bila dalam hidup ini kita berpijak pada daya irasional, berkekurangan dan menghadapi kematian yang sudah pasti menang, lalu mengapa kehidupan itu sendiri berusaha keras untuk dipertahankan? Dari sini kehendak perlu dipahami sebagai noumena. Menurut Schopenhauer, yang menjadi tujuan manusia adalah memperoleh wawasan atas eksistensi mereka, dengan cara merelasikan dunia noumena dengan fenomena. Bahwa kita perlu melihat apa tersusun rapi dalam fenomena menyembunyikan kekacauan dari gerak daya-daya yang buta. Tentunya, syarat untuk dapat merelasikan kedua dunia tersebut yang pertama adalah mengafirmasi sisi noumena yang irasional. Sebagai kehendak, noumena adalah segalanya, yang mana dengan potensi tersebut manusia dapat meyatakan suatu penolakan. Lebih tepatnya penolakan terhadap eksistensi diri sebagai ‘agen’ kehendak buta yang termanifestasi di dalamnya.

Puncak dari penolakan diri tersebut adalah kondisi nirvana yang ditandai dengan kebebasan dari penemuhan irasional. Di mana individu tidak lagi didikte oleh kebutuhan, melainkan melakukan apa yang bertolak belakang dengan kebutuhan. Misalnya dorongan seksual tidak dipenuhi dengan cara berhubungan badan dalam relasi cinta erotis, melainkan berelasi dengan cinta platonis yang spiritual. Dari sini, dunia sebagai keinginan yang menjadi kesadaran diri yang terkonstruksi dalam pikiran (kesadaran, fenomena) bukan lagi tentang representasi dari kehendak, tetapi insight dari eksistensi manusia. 

Berdasarkan uraian tersebut, apa yang menjadi sorotan saya adalah konsep kehendak sebagai noumena dan penolakan diri. Untuk kemudian, konsep tadi menjadi kunci dalam memahami pertentangan kekacauan dan keteraturan. Tapi sebelum melangkah ke tahap tersebut, mari kita simak pendapat penerus pemikiran Schopenhauer berikut.


Only where there is life is there also will: not will to life but – thus I teach you – will to power!”
Kehendak untuk berkuasa dan kehidupan adalah konsep penting dalam pemikiran Nietzsche. Kehidupan dalam kutipan tersebut, menurut hemat saya pribadi akan tepat untuk dipahami bila mengacu pada kutipan berikut.


“Kehidupan itu sendiri adalah instink untuk bertumbuh, untuk kesinambungan, untuk penumpukan kekuatan, untuk berkuasa: di mana kehendak berkuasa tidak ada, maka datanglah kemunduran.”
Secara ringkas, kehendak untuk berkuasa bagi Nietzsche adalah hakikat dari dunia, hidup, dan ada (Sunardi, 1996). Lebih lanjut lagi, hakikat tersebut bersifat dan berlandaskan pada chaos. Sedangkan menurut pendapat Palmquist, disamping bermaksud untuk lepas dari metafisika, konsep kehendak untuk berkuasa juga mengabaikan adanya tapal batas. Sekilas baik landasan yang kacau atau pun pengabaian pada tapal batas merupakan kekacauan yang menjadi tema dalam tulisan ini. Namun, ada sisi lain yang hendak saya soroti dan ditelaah guna menunjukan bahwa pertentangan antara kekacauan dan keteraturan ini dileburkan oleh suatu tujuan.


Sekali lagi, gambaran mengenai konsep kehendak untuk berkuasa perlu diperjelas. Pada titik ini saya mengikuti pendapat Richardson (1996) yang menyatakan, pemahaman akan kehendak untuk berkuasa secara psikologis-hedonis memiliki kelemahan. Baik kehendak atau kuasa yang dimaksud di luar kerangka berpikir yang mengandaikan keinginan untuk mencapai kekuasaan sebagai tujuan tertinggi. Dengan demikian, Richardson menyatakan bahwa kehendak dan kuasa tersebut merujuk pada individualitas, di mana kuasa adalah sesuatu yang terindividuasi, dengan kehendak yang beragam pada tiap objeknya. 

Kekacauan dan keteraturan sebagai daya halus yang mengombang-ambingkan eksistensi manusia dan memengaruhinya dengan cara menumbuhkan dan melayukan. Saya tidak menyatakan mana di antara kedua daya tersebut yang cenderung menumbuhkan atau melayukan. Sebagaimana dunia noemena dan phenomena yang menjadi kondisi manusia, di samping kekacauan yang tidak diketahui dan keteraturan yang disadari, ada kebutuhan yang perlu dipenuhi dengan konsekuensi tersendiri – tumbuh atau layu. Namun, saya melihat bahwa dalam perspektif Schopenhauer pertumbuhan tersebut terasa semu karena sejak semula kita ‘dikutuk’ untuk layu. Hal itu dapat dianalogikan dengan apel segar yang membusuk secara perlahan, dan tugas kita adalah berupaya untuk mempertahankan kesegarannya dengan berbagai cara, puncaknya membuat lukisan apel yang menghilangkan eksistensinya sebagai apel.

Untuk itu, pemikiran Nietzsche mengenai kehendak berkuasa adalah langkah selanjutnya untuk persoalan kehidupan yang ingin mencapai pertumbuhan walau penderitaan berdiam di antara udara berasap.  Melalui perspektif Nietzsche, saya melihat bahwa pertumbuhan atau kelayuan adalah cara kita berelasi dengan penderitaan melalui kehendak untuk berkuasa. Sekali lagi, menurut interpretasi Richardson, kehendak untuk berkuasa dipahami dalam bentuk aktivitas sebagai upaya mencapai sesuatu yang keberlangsungan prosesnya mengelaborasi diri. Andaikan bahwa seorang yang ingin menjadi pelukis, kekuasaan yang ada dalam dirinya akan teraktualisasikan begitu menghadapi kanvas dan mulai melukis. Ia tidak begitu saja dianggap berkuasa begitu menyelesaikan lukisan atau diakui sebagai pelukis, yang kedua ini di luar proses yang berlangsung. Melainkan ketika ia melukis, ia menuangkan gagasan dan perasaan, yang lama-lama ia sadari dan mengubah dirinya, menjadi lebih tenang dan kalem misalnya, keuntungan dari perubahan sikap itu pada gilirannya membuat orang-orang lebih menerima dirinya dan ingin mengenalnya. Itulah mengapa menjadi diakui sebagai pelukis tidak tepat menggambarkan bentuk kuasa, karena berlandaskan pada pencapaian baik secara kuantitas atau pun kualitas, sedangkan mengubah diri yang tampaknya parsial itu dicapai melalui serangkaian proses melukis, termasuk berpikir dan mencari ide sebelum melukis, memilah-milah pilihan warna, dan teknik untuk melukis. Satu proses ini merangkum berbagai proses lain secara psikomotorik dan kognitif salah satunya, di mana kuasa dalam diri mentransisikan berbagai potensi menjadi sarana untuk mencapai keinginan.

Pada persoalan serius seperti menghadapi penderitaan hidup, kehendak untuk berkuasa yang terlibat dalam prosesnya dihadirkan sebagai kemauan untuk menerima kondisi hidup. Kekacauan bukan untuk dikutuk dan ditambal dengan keteraturan, atau bertolak belakang dari prinsip penolakan diri yang mensublimasi kebutuhan. Kita justru harus menggunakan keduanya, kalau toh yang hadir adalah salah satunya, maka melalui kuasa dalam diri kita kondisi tersebut untuk menghadirkan yang lain, alih-alih korban dari kondisi tersebut. Dari sini, menurut saya pribadi makna eksistensi kita ditemukan dengan cara menjadi pencipta, yang secara tidak langsung menciptakan diri sendiri, atau dalam kata-kata Nietzsche sendiri, becoming oneself.

Saya menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan dalam tulisan ini, terutama porsi pandangan yang belum merata, bahwa saya memasukan kehendak untuk berkuasa tanpa melibatkan pandangan dunia Apollonian dan Dionysian yang cocok untuk menjelaskan chaos vs order. Barangkali pada kesempatan berikutnya dapat dibahas dengan sebaik-baiknya dan lebih mendalam. Salam.


Posting Komentar

0 Komentar