Sebuah buku mencuri perhatian saya di pusat perbelanjaan Balubur. Sampulnya yang berwarna kuning seperti kulit lemon ternyata sebuah novel karangan penulis Belgia, Willem Elsschot (1882-1960). Sayangnya, tidak ada cita rasa keju dalam novel ini, melainkan aroma memuakan yang menyiksa tokoh utamanya.
Cerita dimulai dari kemiskinan keluarga Frans Laarmans sejak kematian ibunya yang bekerja sampai tua, dan membawa misteri kepergian ayah Laarmans ke liang kubur. Sepatutnya penuturan peristiwa tersebut dapat membuat kita bersimpati pada si tokoh. Namun, Elsschot justru membumbuinya dengan keabsurdan ala ‘Orang Asing’nya Camus. Ada sebuah pesan sinisme yang hendak disulut Elsschot di sini, dan saya melihatnya dari dua sisi. Pertama, bahwa persoalan kehidupan tokoh yang sulit jauh lebih ‘layak’ untuk ditangisi, dan kedua, barangkali perilaku kita lebih didorong oleh formalitas daripada hati nurani. Sebagaimana saat Laarman menghadiri momen terakhir hidup ibunya berikut.
“Sebaiknya aku berdiri atau duduk?// Kalau aku berdiri, kesannya aku hendak segera beranjak. Jika aku duduk, seolah keadaan aman-aman saja, juga ibuku. Namun, bukankah semuanya duduk?”
Di lingkungan pergaulan ‘elit’ lingkaran Van Schoenbeke, Laarmans mula-mula dikenal sebagai Inspektur galangan (padahal kerani), kemudian menjadi saudagar bahan makanan (karena keju dirasa ganjil meski itu yang sebenarnya). Lingkaran elit ini berisi orang-orang ‘snob’ dengan profesi yang dianggap terpandang, dan tak ketinggalan setidaknya memiliki sebuah mobil. Snobisme mula-mula dipandang secara sinis oleh Laarmans, sampai akhirnya pembaca memandang sinis pada Laarmans yang menjadi seorang snob karena produk keju yang dijualnya mendapat banyak pujian.
Sinisme terhadap gaya hidup kaum terpandang dengan tetek bengeknya memang menggelikan, tapi usaha Laarmans untuk mendirikan kantor Gafpa – agen penjualan keju – jauh lebih menggelikan. Atas nama standar dan formalitas yang kaku, ia mempertanyakan kedudukan istrinya yang seolah-olah lebih berkuasa dari dirinya, keadaan kantor ideal, tata krama saat membeli barang, tak ketinggalan memutar otak untuk mencari bakal nama perusahaan yang jauh dari unsur kekejuan-kejuan. Tak cukup sampai di situ, sinisme ini juga mempertanyakan bakat berdagang Laarmans, yang puncaknya dibuktikan dengan keberhasian Jan (anak perempuan Laarmans) yang berhasil menjual 1 peti keju edam, dan seorang agen anomin yang dipekerjakan berhasil menjual 4200 kilo keju.
Keberhasilan si agen anonim, sinisme di sini bermakna ganda karena senada dengan sinisme sebelumnya yang terkait keberadaan Laarmans. Saat menjadi kerani, keberadaan Laarmans di lingkungan pergaulan Van Schoenbeke tidak dianggap penting, mungkin juga ia dianggap tidak ada. Begitu juga dengan perannya sebagai kerani yang berurusan dengan pengetikan surat, atasannya nyaris tidak pernah tahu keberadaannya dan lebih peduli surat yang dikerjakannya, yang harus selalu ada. Demikian, sinisme yang dibawakan Elsschot hendak menyentil keadaan manusia yang terpisah dari sesamanya dalam kerangka formalitas.
Sinisme ala Elsschot tak hanya menjadi kaca pembesar yang menunjukan kedangkalan dalam hidup dengan rupa yang lebih jelas, namun juga menyingkap sebuah jejak menuju jalan pulang. Peziarahan Laarmans ke makam ibunya menunjukan usaha untuk mengikat kembali relasi dengan sesamannya, keluarga, dan secara tak langsung dengan dirinya sendiri yang memiliki keterbatasan.
“Aku kini bukan pengusaha lagi. Dan kunjungan ke makam bisa saja kutempuh dengan trem.”
Yah… walau ia sinis pada dirinya sendiri, setidaknya
Laarmans tetap menjadi Laarmansnya Elsschot.
Elsschot, Willem. (2010). Keju. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
0 Komentar