Mulai besok sampai 40 hari ke depan
saya akan menjalani kuliah kerja nyata di Sumedang. Selama menikmati sisa waktu bernyaman-nyaman
di rumah, ada selintas gagasan yang membuat tidak nyaman. Kulihat pada peta Middle Earth, buku-buku, dan peralatan
melukisku, seolah berbisik “besok semua ini tak nyata lagi”.
Bagaimana bisa? Terutama kalau
kenangan kemarin bahkan satu dekade lalu masih lekat di ingatan dan dapat
diceritakan kembali, bahwa kenangan tersebut ada. Adanya kenangan
dimungkinkan dengan adanya diri kita, hanya saja kita tak dapat menyentuh
kenangan dan membelainya seperti rambut sendiri. Kita hanya bisa melambaikan
tangan padanya, atau sekedar menunjuk pada sesuatu di dalamnya. Bila dipikirkan
seperti itu, kurasa kenangan tak terasa nyata karena ia melekat pada berbagai
hal yang dialami di luar sana. Tak nyata karena tak terjamah lagi bila berada di tempat lain. Kalau berada di luar sana, seperti halnya
koleksi di museum, lantas mengapa juga hadir sebagai ingatan dalam pikiran?
Ngomong-ngomong ada satu hal lagi
yang mengganggu pikiran, bayangan tentang masa depan, misalnya kalau
ternyata proker yang saya kerjakan tidak berhasil. Menurut saya pribadi, di
sini terdapat kesamaan antara berangan-angan dengan mengenang, bahwa keduanya
dihadirkan sebagai tanggapan terhadap kondisi yang sedang dialami dengan
berbagai hal yang memengaruhinya. Mulai dari suasana hati, hingga tempat
berada. Lebih tepatnya, dihadirkan di dalam kondisi diri yang serba
berkekurangan. Ingatan tentang masa lalu menjadi proyeksi bahwa pernah ada masa
yang terasa lebih baik atau buruk, tapi sekarang tak nyata lagi. Begitu juga
angan-angan masa depan, proyeksi pada apa yang ingin dicapai dan
diekspektasikan dari kondisi sekarang, belum menjadi kenyataan.
Meskipun tak tersentuh lagi, kenyataannya mereka tetaplah karya yang tak terselesaikan. Menjadi fakta nyata tentang rasa berkekurangan dalam diri.
Saya akan merindukan waktu ketika berbincang-bincang bersama mereka. 80 halaman yang tersisa dalam buku 'Being and Time' saya kira akan dilanjutkan di dunia nyata nanti. Sejenak meninggalkan dunia pemikiran untuk berpijak di kenyataan yang gembur oleh ide dan permasalahan. Menjalani hari sebagai Das Man yang berkecimpung dalam dunia yang senantiasa dibentuk ulang, lalu menghadapi masalah disertai kecemasan atau ketakutan, berangan-angan tentang masa depan atau menemukan jalan buntu, menjadi latihan untuk menyingkapkan kebenaran dari ketersembunyiannya.
Sisi baik bila besok dan lusa semua ini tak lagi 'nyata', saya tidak perlu lagi memikirkan kesenangan dan sensasi flow ketika berhasil melakukan 'bull's eye".
Tapi setidaknya ada satu yang saya pertahankan supaya tetap nyata, menulis dan berkarya. Walau singkat seperti waktu yang tersedia, bisa saja menjadi karya yang spektakuler, menulis aforisme misalnya seperti yang dilakukan Nietzsche.
Semua momen yang dialami pasti surut dan melebur dengan latar belakang, seperti bermimpi saat tertidur untuk kemudian terbangun. Selama masih tersedia pagi untuk memulai, dan malam untuk beristirahat, kenangan yang pergi meninggalkan arti dan makna untuk melengkapi kekurangan yang ada.
0 Komentar