Selama
ini aku terbuai oleh ketenangan dan pola pikir ‘let-in, let-out’ atas sesuatu yang kuanggap mengancam. Kemarin kusadari
bahwa ada kekeliruan di mana berdamai dengan dendam dan kemarahan yang melulu
kutekan bukanlah solusi final. Sekedar pelarian, sekedar berpindah medan
perang. Tapi yang terburuk dari itu adalah aku telah menciptakan musuh yang
lebih licik. Ia tak lagi datang sebagai seseorang yang kubenci dan mereka yang
menyakitiku, melainkan infeksi jamur yang memaksaku untuk mengupas kulit
sendiri.
Dengan
berlalunya waktu, luka tak lagi menyakitkan dan membuat penderitaan, tapi ia
berbekas dan membangun ulang kenangan buruk. Kita pun tak perlu mempercayai
waktu sebab pemulihan akan terjadi sendirinya, lebih tepat bila kita perlu
percaya bahwa luka tersebut memberikan rasa sakit dan penderitaan yang serius.
Kemudian menyadari bahwa orang lain menjadi sangat diperlukan daripada
sebelumnya. Ketenangan dan pola pikir yang disinggung sebelumnya adalah
penyangkalan terhadap kondisi ini. Di mana terdapat hal yang lupa
diperhitungkan sebelumnya, kecepatan pemulihan, kapasitas menerima ambang batas
kesakitan, dan imunitas.Tapi walau begini bukankah aku mencapai ketenangan? Bukan
ketenangan seperti dalam kata ‘serene’,
melainkan nihil dan kondisi vakum yang menyangkal nilai penting: dirimu
berharga, jangan hanya babak belur menghadapi masalah tapi keluarlah sebagai
pemenang.
Aku
belum menjadi pemenang sebab permainan ini tidak sesederhana pola pikir ‘let-in, let-out’. Tugasku sebetulnya
bukan hanya mengeluarkan kembali ancaman dari luar ke luar (terlepas pada apa
objeknya), melainkan mengambil makna, pembelajaran, dan membuat orang lain yang
mengambil durinya. Namun, yang terakhir adalah bagian tersulit untukku sebab
aku tak ingin dikasihani dan dianggap tak berdaya. Akan tetapi, itu hanya
pemikiran yang tak menetap dan sekarang aku bisa melihat bahwa yang kuperlukan
adalah membiarkan dirimu terlihat sebagai manusia. Sebagai manusia apa artinya?
Sebelum kau dianggap sebagai laki-laki atau perempuan, kau adalah manusia yang
menderita kalau disakiti; sebelum mendapat peran dan julukan yang membanggakan,
kau adalah seseorang yang memulai dari nol dan perlu membuktikan dirimu;
sebelum orang menganggapmu teman atau musuh, kau adalah ‘yang lain’: sosok
asing yang diidentifikasi, direduksi oleh pengamatan, dan diberi sentimen
khusus seperti ‘suka’ dan ‘tidak suka’.
Aku
merasa inhuman, memandang diri
sebagai sosok cyborg machiavellian.
Bukan tanpa alasan, sebab aku sadar bahwa aku adalah seorang pendendam,
pemarah, benci sejenis manusia tertentu, menghasrati kebencian, dan muak dengan
kebaikan dalam diri yang terasa melemahkan ini. Ketika aku mempunyai dendam,
aku akan merencanakan bagaimana skenarionya, apa saja persiapan yang kuperlukan,
dan kapan momennya. Dan bagaimana hasilnya? Semua batal! Kebaikan yang
menjerit-jerit dalam hati menggagalkan eksekusi bahkan membuatku kehilangan
motivasi untuk membalas. Aku dapat marah pada diriku tapi sulit pada orang
lain, begitu juga dengan membenci. Bukankah ini hukuman yang mengerikan? Bahwa seseorang
terisolasi dalam kebenciannya sendiri, di saat yang sama tak bisa merasakan
cinta sebab tak melihat apa yang bisa dicintai dalam diri ini.
***
Perlu
kusampaikan bahwa aku berhutang pada sebuah pembelajaran berharga dari
Nietzsche, tentang apakah rasa sakit setara dengan penderitaan. Barangkali
sebagian besar akan beranggapan kalau rasa sakit yang terasa berbanding lurus
dengan penderitaan. Bahwa rasa sakit dan penderitaan adalah satu paket. Rasa sakit
dan penderitaan terikat dalam lingkaran sebab-akibat, atau saling berkorelasi. Tetapi
sebagai afek, penderitaan justru bisa saja muncul walau bukan kita yang
disakiti secara langsung. Rasa sakit justru lebih personal, seperti kematian,
ditanggung perorangan. Sedang penderitaan itu menular karena bertiup dari ruh
kemanusiaan.
Penderitaan,
sesuatu yang memungkinkan supaya kebajikan terlaksana dan bermakna. Apa yang
kebajikan yang mendasar di sini adalah manusia dilihat dan dipahami sebagai
manusia karena penderitaan yang ditanggungnya.
***
Menuju semangat filantropi dan cinta diri…
Ketika
Oktober menunjukan kedatangannya lewat jendela, kusadari sesuatu yang berarti
dalam hidup. Kerangkeng yang mengurung kemarahan kubiarkan terbuka. Kebaikan kubiarkan
menghapus benci dari pandanganku. Setelah itu kutemukan bahwa ada keindahan
dalam hal sederhana yang dialami oleh semua orang sepanjang sejarah
kemanusiaan. Memiliki keluarga. Melihat kembali kebaikan, semangat hidup, dan
cita-cita sendiri dari ‘aktor’ yang kita buat dan kita rawat.
Masalahnya
aku senantiasa merasa terisolasi dari perasaan sendiri, juga dari orang lain. Ilusi, padahal kau tahu bahwa bukan dalam
arti bahwa kau pantas menurut penglihatan sendiri – di mana cermin itu kau
pecahkan – tapi mata orang lain yang sedang berusaha jujur pada dirinya sendiri
ketika menilaimu.
Masalahnya
aku sudah terbiasa sendirian, kesepian bukan lagi tamu tak diundang bagiku. Kau tahu kalau tidak akan ada yang
menganggapmu sebagai pemenang bila membiasakan diri dengan kesendirian. Seorang
kekasih adalah imbalan terbaik bagi mereka yang mengatasi kesepian. Mengatasi kesepian
berarti menyadari bahwa ada kekurangan dari ketinggian yang telah kau capai:
orang lain yang menghargai dan menemanimu, lalu ia membawamu ke ketinggian di
mana kau bisa menikmati perasaan yang sublim.
aku ingin mencintaimu meski pedih
menghadapi gigitan kesepian
dari mata yang memandang asing
tangan tiba-tiba bercakar mengancam
mengusirku ke dinding harapan buntu
aku ingin mencintaimu untuk yakin
masih ada keajaiban tersisa di lembah Indus
di mana bisa kubangun surga
di mana kau menjadi bidadari
dan menanam cinta berbuah anugerah
2017

0 Komentar