Luka dan Duka: Berdamai dengan Dendam Jilid II


Image Credit: Ayaz Malik

Selama ini aku terbuai oleh ketenangan dan pola pikir ‘let-in, let-out’ atas sesuatu yang kuanggap mengancam. Kemarin kusadari bahwa ada kekeliruan di mana berdamai dengan dendam dan kemarahan yang melulu kutekan bukanlah solusi final. Sekedar pelarian, sekedar berpindah medan perang. Tapi yang terburuk dari itu adalah aku telah menciptakan musuh yang lebih licik. Ia tak lagi datang sebagai seseorang yang kubenci dan mereka yang menyakitiku, melainkan infeksi jamur yang memaksaku untuk mengupas kulit sendiri.

Dengan berlalunya waktu, luka tak lagi menyakitkan dan membuat penderitaan, tapi ia berbekas dan membangun ulang kenangan buruk. Kita pun tak perlu mempercayai waktu sebab pemulihan akan terjadi sendirinya, lebih tepat bila kita perlu percaya bahwa luka tersebut memberikan rasa sakit dan penderitaan yang serius. Kemudian menyadari bahwa orang lain menjadi sangat diperlukan daripada sebelumnya. Ketenangan dan pola pikir yang disinggung sebelumnya adalah penyangkalan terhadap kondisi ini. Di mana terdapat hal yang lupa diperhitungkan sebelumnya, kecepatan pemulihan, kapasitas menerima ambang batas kesakitan, dan imunitas.Tapi walau begini bukankah aku mencapai ketenangan? Bukan ketenangan seperti dalam kata ‘serene’, melainkan nihil dan kondisi vakum yang menyangkal nilai penting: dirimu berharga, jangan hanya babak belur menghadapi masalah tapi keluarlah sebagai pemenang.

Aku belum menjadi pemenang sebab permainan ini tidak sesederhana pola pikir ‘let-in, let-out’. Tugasku sebetulnya bukan hanya mengeluarkan kembali ancaman dari luar ke luar (terlepas pada apa objeknya), melainkan mengambil makna, pembelajaran, dan membuat orang lain yang mengambil durinya. Namun, yang terakhir adalah bagian tersulit untukku sebab aku tak ingin dikasihani dan dianggap tak berdaya. Akan tetapi, itu hanya pemikiran yang tak menetap dan sekarang aku bisa melihat bahwa yang kuperlukan adalah membiarkan dirimu terlihat sebagai manusia. Sebagai manusia apa artinya? Sebelum kau dianggap sebagai laki-laki atau perempuan, kau adalah manusia yang menderita kalau disakiti; sebelum mendapat peran dan julukan yang membanggakan, kau adalah seseorang yang memulai dari nol dan perlu membuktikan dirimu; sebelum orang menganggapmu teman atau musuh, kau adalah ‘yang lain’: sosok asing yang diidentifikasi, direduksi oleh pengamatan, dan diberi sentimen khusus seperti ‘suka’ dan ‘tidak suka’.

Aku merasa inhuman, memandang diri sebagai sosok cyborg machiavellian. Bukan tanpa alasan, sebab aku sadar bahwa aku adalah seorang pendendam, pemarah, benci sejenis manusia tertentu, menghasrati kebencian, dan muak dengan kebaikan dalam diri yang terasa melemahkan ini. Ketika aku mempunyai dendam, aku akan merencanakan bagaimana skenarionya, apa saja persiapan yang kuperlukan, dan kapan momennya. Dan bagaimana hasilnya? Semua batal! Kebaikan yang menjerit-jerit dalam hati menggagalkan eksekusi bahkan membuatku kehilangan motivasi untuk membalas. Aku dapat marah pada diriku tapi sulit pada orang lain, begitu juga dengan membenci. Bukankah ini hukuman yang mengerikan? Bahwa seseorang terisolasi dalam kebenciannya sendiri, di saat yang sama tak bisa merasakan cinta sebab tak melihat apa yang bisa dicintai dalam diri ini. 

***

Perlu kusampaikan bahwa aku berhutang pada sebuah pembelajaran berharga dari Nietzsche, tentang apakah rasa sakit setara dengan penderitaan. Barangkali sebagian besar akan beranggapan kalau rasa sakit yang terasa berbanding lurus dengan penderitaan. Bahwa rasa sakit dan penderitaan adalah satu paket. Rasa sakit dan penderitaan terikat dalam lingkaran sebab-akibat, atau saling berkorelasi. Tetapi sebagai afek, penderitaan justru bisa saja muncul walau bukan kita yang disakiti secara langsung. Rasa sakit justru lebih personal, seperti kematian, ditanggung perorangan. Sedang penderitaan itu menular karena bertiup dari ruh kemanusiaan. 

Penderitaan, sesuatu yang memungkinkan supaya kebajikan terlaksana dan bermakna. Apa yang kebajikan yang mendasar di sini adalah manusia dilihat dan dipahami sebagai manusia karena penderitaan yang ditanggungnya. 

***
Menuju semangat filantropi dan cinta diri…
Ketika Oktober menunjukan kedatangannya lewat jendela, kusadari sesuatu yang berarti dalam hidup. Kerangkeng yang mengurung kemarahan kubiarkan terbuka. Kebaikan kubiarkan menghapus benci dari pandanganku. Setelah itu kutemukan bahwa ada keindahan dalam hal sederhana yang dialami oleh semua orang sepanjang sejarah kemanusiaan. Memiliki keluarga. Melihat kembali kebaikan, semangat hidup, dan cita-cita sendiri dari ‘aktor’ yang kita buat dan kita rawat.

Masalahnya aku senantiasa merasa terisolasi dari perasaan sendiri, juga dari orang lain. Ilusi, padahal kau tahu bahwa bukan dalam arti bahwa kau pantas menurut penglihatan sendiri – di mana cermin itu kau pecahkan – tapi mata orang lain yang sedang berusaha jujur pada dirinya sendiri ketika menilaimu.

Masalahnya aku sudah terbiasa sendirian, kesepian bukan lagi tamu tak diundang bagiku. Kau tahu kalau tidak akan ada yang menganggapmu sebagai pemenang bila membiasakan diri dengan kesendirian. Seorang kekasih adalah imbalan terbaik bagi mereka yang mengatasi kesepian. Mengatasi kesepian berarti menyadari bahwa ada kekurangan dari ketinggian yang telah kau capai: orang lain yang menghargai dan menemanimu, lalu ia membawamu ke ketinggian di mana kau bisa menikmati perasaan yang sublim.

aku ingin mencintaimu meski pedih
menghadapi gigitan kesepian
dari mata yang memandang asing
tangan tiba-tiba bercakar mengancam
mengusirku ke dinding harapan buntu

aku ingin mencintaimu untuk yakin
masih ada keajaiban tersisa di lembah Indus
di mana bisa kubangun surga
di mana kau menjadi bidadari
dan menanam cinta berbuah anugerah

2017








Posting Komentar

0 Komentar