Image Credit brainpickings.org
.[1]
untuk Moch
Faris Dzulfiqar
titik-titik kolom
riwayat hidup mengemis nama
namun tak kau beri Mochamad
Faris Dzulfiqar
penyair nirsukma pencari jiwa
di
istana plastiknya yang made in China
kau tak
berjumpa dengan . penghabisan
dengannya kalimat menjadi sempurna
ada tubuh
ada jiwa
ada .
menjelma cincin kawin
se. di mana cinta berdiam
/ , /
katamu
0
alasan Tuhan menciptakan manusia
10
intisari
manusia: fana
tanpa . dilarang masuk
surga
namun ketakterbatasan
bertahta di tanganmu:
01
10
maka kaudirikan diri beserta
surga
tanpa .
Fadzul
Haka
2017
![]() |
| Ilustrasi Geometrical Psychology oleh Benjamin Bett |
Aku melihat diriku sebagai penyayat realitas. Bukan karena aku tak menemukan tempatku di sana, atau di mana pun. Melainkan karena banyak ilusi yang selama ini berdampingan, malah membelakangi apa yang nyata. Titik, sesuatu yang sengaja dikatakan untuk membiarkan yang tabu pada tempatnya. Titik, sesuatu yang selama ini dianggap sebagai final, kesempurnaan tanpa cela, ataupun sendi yang memapankan struktur yang menstrukturkan diri seseorang sampai dia tak bisa membedakan itu dengan dirinya. Menyayat realitas, memang terdengar ironis, bagaimana mungkin dia yang bersama semangat 'Zurück zu den Sachen selbst', justru seperti ingin membedah sampai tidak menyisakan apa-apa selain gagasan atau simbol dari realitas. Namun, apakah realitas sendiri adalah apa yang ada di permukaan dan bercampur aduk dengan khayalan, atau prasangka yang membuat semuanya seolah-olah hitam dan putih?
Dengan menjadi penyayat realitas aku ingin menjadi pecinta. Tepatnya pecinta yang mencintai kembali apa yang semestinya dicintai dengan melepas apa yang sebelumnya dianggap sebagai yang tercinta. Suatu titik yang dicintai sampai-sampai diri terjebak di sana dan tak beranjak ke mana-mana. Semacam unconditonal love yang menolak setiap ukuran dan wadah baginya. Membawa kembali sesuatu yang seolah 'adi-nyata' ke kenyataan, membuktikan bahwa hal semacam itu adalah sesuatu yang manusiawi.
Aku menyayat realitas karena merasakan despair...


0 Komentar