Tentang Arti Menulis


Credit Pinterest




\1\


Dalam postingan awal tahun, kutulis bahwa tujuan menulis bagiku merupakan seni menghadapi hidup tersendiri. Kalau digambarkan kembali, waktu itu rasanya gagasan tersebut keluar bersama dengan kepergian bulan menjelang pagi hari. Cahaya terakhir sebelum kedatangan sang siang di mana si bonsai bisa tumbuh. Tapi belakangan ini ada nafas lain yang kurasakan. Dan arti lain pun berdatangan seperti undanganku pada jiwa yang menceritakan kesusahannya. Kini aku memasuki tengah hari berawan di mana bayangan memucat perlahan-lahan, dan segala yang tampak terkesan dangkal sekaligus memiliki garis-garis yang tajam. Pergolakan batinku adalah upaya brainstorming untuk menemukan siasat manjur yang mengatasi kesepian posesif ini – tak ketinggalan, keposesifan pada dendam, kecewa, menyalahkan diri sendiri, benci dan amarah. Dengan disingkapnya tabir-tabir, aku memperoleh ketajaman untuk melihat kembali kondisi batinku, sekaligus diserang ketajaman itu. Pada akhirnya, aku mesti memawas diri sekali lagi, "Mungkinkah aku kurang bersyukur?" Kalau begitu aku akan menulis sebagai wujud segala syukurku, atas nikmat yang dicerap tubuh ini, juga nikmat yang merangkulku setelah sakit berlalu. Dalam arti tersebut, menulis adalah perayaan terhadap hidup yang dimiliki, yang mana ada sebuah narasi yang diproses sebagai memoar – bukan catatan pribadi semata – di mana penulis mengantarkan hatinya ke sebuah altar atau monumen. Di zaman sekarang, media untuk kegiatan menulis semacam tak lepas dari genggaman kita, ruang maya yang melengkapi tripartit 'diri-sesama-Tuhan', walau kelihatannya sebagian kecil saja yang memanfaatkannya dengan cara demikian. Tapi di situlah bagian menariknya, bahwa sebelum mengantarkan hati, atau menemukan altar untuknya, pertama-tama kita kehilangan hati dan memperoleh ketumpulan mata pensil terlebih dahulu, sampai ke keabadian untuk sebagian orang. Di tengah pengejaran atau berkubang dalam sabda-sabda 'penganjur vape' yang setengah tertidur, seseorang malah semakin terpisah dari diri atau sesamanya dalam cakrawala kepenulisan itu. Marilah kita sebut mereka sebagai kaum dalam 'memoar hujan'! Mereka ini rela tak memiliki altar – apalagi hati yang cengeng dan malah dituduh 'sok suci' – asal dapat tempat di atas awan. Selain keresahan satu itu, ada keresahan lain yang kalau kudengar baik-baik dia berkata, “Jangan-jangan dunia ini hanya pertambangan dan keluasan langit yang berubah-ubah seperti perasaan manusia. Jangan-jangan tak ada rasa syukur yang bisa ditambang, juga dirasakan sebenar-benarnya, bahwa hujan atau panas tak lepas dari komentar-komentar bernada keluhan”. Dan lagi, sudah sampaikah padamu kabar ini, di hari tak cerah tak mendung, tentang kemenduaan iktikad manusia? Misalnya, menjadi seorang penulis yang mengambil arti tadi, dia hanya tahu tentang iktikadnya, dan mungkin juga tak ambil pusing pada getaran yang nyaris senyap dari tabir di balik tabir, desisnya “Anggaplah kamu bersyukur karena nikmat… lain waktu kamu menikmati bersyukur-syukur seperti kucing yang mencampakan pemiliknya usai diberi makan.” Adakah yang tak kalah seram dari ini? Ada, ketika bayang-bayang kembali dan menelan segalanya dengan rakus di bawah panji-panji awan mendung. Sampai titik itu, memoarmu menjadi angker, menjelma jin qodam. Bahwa, kamu si penulis menemukan keasingan yang merenggut keaslian pengetahuan atas dirimu sendiri. Si penulis memarodikan dirinya, namun dia tak sadar bahwa tokoh miliknya mendapat ruh nyata juga tubuh bagi segala pengalaman dan kenangan. Di altar sana, hatimu akan dikorbankan si jin qodam, maka setelah itu seorang dewa pun terlahir – dewa megalomania. Sang dewa berfirman, “Pada mulanya adalah iktikad…”

Credit Az Quotes


/2/

Apa lagi yang dikatakan ketajaman padaku? Arti menulis itu seluas segala ucapan. Mungkin terdengar sepele, tapi bukankah kemajuan juga dimulai dari mengurusi hal sepele yang terlalu biasa-biasa, dangkal. Tapi yang ini akan serius bila dilihat kembali bahwa apa yang dimaksud dengan segala ucapan adalah segala yang tak terucapkan secara lugas, aktual, selalu tertunda dan tersamarkan. Mari sadari kembali, kemana gerangan perginya kata-kata yang disusun saat ingin memohon maaf, meminta tolong, bahkan menyatakan cinta? Katakan kalau aku keliru, bahwa sebagian lain dari kata-kata itu – yang penting, yang sebenar-benarnya, yang juga detil atau anak kalimat misalnya – tidak ikut terartikulasikan, atau sekurang-kurangnya tidak tersusun kembali dalam urutan yang kita harapkan. Sambil merenungkan kemana kata-kata itu bermuara, mari kita tilik kasus yang lain, pernahkah memperhatikan bagaimana seseorang berbicara? Apa ada tanda-tanda seperti perulangan kata, sumpah serapah yang dia gunakan, dan yang paling jujur bagaimana cara seseorang meralat ucapannya. Kita bicara dan orang lain yang menuliskan tentang kita, tapi sebetulnya kita telah menuliskan apa-apanya terlebih dahulu. Di antara apa-apanya itulah terdapat kejujuran, yang mana sebagian dari itu diperlakukan seperti batu kerikil: diinjak ke dalam tanah dan ditendang. Tapi mengapa, takut tergelincirkah? Tidak juga, namun yang perlu digarisbawahi adalah arti menulis yang terajut dalam ucapan, iktikad baik pada diri, harapan bahwa seseorang akan menerjemahkan kita dengan sebaik-baiknya. Lucunya, ketajamanku yang lebih cadas dari kerikil menunjukan bahwa kita tergelincir pertama-tama bukan oleh kesalahan orang lain dalam menerjemahkan maksud kita dalam berelasi. Melainkan kesalahan kita dalam menempatkan penerjemahan itu sendiri, bahwa penerjemahan diam-diam merupakan taktik mendikte alih-alih keterbukaan untuk dilihat dan ditanggapi orang lain yang ikut mengenalkan diri mereka. Maka dari itu, ada dua kekecewaan di sini, kemenduaan lagi, pertama karena pandangan orang lain yang meleset dari harapan, kedua karena upaya mati-matian mempertahankan apa yang kita anggap sebagai benar. Sampai sini apakah gejala-gejala dalam pembicaraan terlihat lebih jelas? Pengulangan kata tak seperti kedengarannya lagi, karena itu merupakan taktik meninggalkan jejak, atau sumpah-serapah yang samar-samar terdengar sebagai alarm di mana dia menyiratkan tentang kejujuran akan perasaan buruk yang ingin ditekan dan dia butuh orang lain untuk menekannya, sampai titik tertentu ditekankan pada orang lain. Tapi apa arti menulis bagiku dalam tindak naluriah ini? Pertama-tama aku perlu bercermin, selain bayanganku hanya ada kepolosan dinding putih. Kegiatan berbicara sebelum tentang mempertanyakan dan menggugat suatu hal, terlebih dahulu adalah upaya manusia memerangi kesepiannya, dan menulis berarti memastikan status keberadaan kita: seseorang yang kesepian, seseorang yang mendapat pengganti rasa sepinya, atau melampauinya kesepiannya. Dengan demikian menulis merupakan penerawangan akhir yang senantiasa tertunda dan takterduga lantaran keterombang-ambingan kita dalam segala ucapan.

Sampai di sini, ketemukah muara kata-kata dari ucapan kita yang prematur itu? Kalau tidak, tidurlah dan berharap mengunjungi suatu taman mimpi. Waktu tak menghilangkan kata-kata itu, hanya memudarkannya, begitu juga pikiran bawah sadar yang menelan tanpa mencerna kata-kata itu – maka jangan heran kalau sekali waktu ucapan kita terasa menjijikan seperti muntahan. Setelah tertidur, apa yang terjadi dengan mimpi itu, mengapa jarang sekali ada kembang mimpi yang tetap terjaga kesegarannya? Bukankah sebagian besar dari mimpi itu hilang? Kemana perginya? Lupakan saja. Kata ketajamanku hal penting yang mesti dibahas adalah menulis berarti mengarungi kenyataan atas segala kenyataan. Dengan demikian, mimpi sebaiknya tak dilihat sebagai fiksi. Sejauh pengamatanku, mimpi adalah suatu medan kenyataan yang repetitif, tanyangan ulang, simulasi, dari upaya penjinakan ular kobra betina yang kita sebut sebagai ‘kenyataan’. Apa lagi yang mesti diperhatikan? Ucapan mimpi yang melulu simbolis, menunjuk suatu hal di luarnya, dan melampaui dirinya. Penggalian atas kata-kata itu dan mengeluarkannya dari cangkang simbolis sama saja dengan upaya penajaman lidah. Sayangnya tak banyak telinga yang siap terluka untuk lidah setajam itu. Kecuali bagi mereka yang bermimpi menjadi penyair atau juru pidato.

Mari kita beranjak ke belakang cermin di mana kekosongan yang dangkal menempel. Kata ketajamanku kalau tak menemukan apa-apa berarti kita belum menulis untuk diri kita sendiri, kita lebih senang orang lain yang menuliskan untuk kita walau pertama-tama kita mesti menulis demi orang lain. Lain bagi mereka yang berjumpa dengan bayangan sendiri meski pucat, melalui ucapan-ucapan menulis dapat menjadi langkah untuk mengobati diri sendiri dan sesama.

Az Quotes


/3/

Nietzsche konon melihat ruh dalam darah. Tapi itu sekedar cerita dari penghujung abad 19 yang bercita-cita mengganti awan dengan uap pabrik dan menyulap alam sebagai tatanan industri. Mari terlebih dahulu kita bicarakan bahwa menulis sebagai kegiatan yang manusiawi. Bahwa eksistensi manusia di mata alam tak terbantah sebagai manusia karena kegiatan menulis dan karya tulisnya. Sedang di mata manusia sendiri menulis berarti mewujudkan keadimanusiawian, di mana setiap rahasia milik alam dan sesama manusia dapat dibongkar pasang, hingga taraf paling tinggi disakralkan. Tapi siapa yang menulis kemanusiaan selama ini? Bapak dari umat tak terhitung yang hipokrit, sadomasokis, dan bipolar. Atas nama ‘kemanusiaan’ tumpah darah mendapat restu. Bila suatu hari terjadi, kita tak perlu takut lantaran darah di masa mendatang tinggal cairan merah yang digolongkan berdasarkan jenisnya, walau ada mereka yang percaya bahwa darah menyiratkan watak bahkan takdir. Dalam ‘mimpi’ tetang masa depan itu, darah yang ditumpahkan adalah apa yang selama ini kita anggap sebagai darah. Renungkan sendiri sahabatku, apa yang selama ini kita anggap sebagai darah sehingga kita lupa akan darah dalam nadi. Juga, dengarlah baik-baik, tidakkah di mana-mana firman dewa megalomania sudah bertebaran… Kembali ke permulaan, iktikad, apakah dia terlahir suci seperti kelahiran kita yang dijamin Tuhan? Jangan-jangan, ah tidak ketajamanku jangan kaukatakan sekarang, kita bukan pemilik iktikad yang selama ini mengalir dalam pola tingkah dan tuturan? Kalau demikian, arti menulis tak lain daripada penyalinan kembali iktikad yang tertunda. Iktikad demi kesakralan katamu. Kalau sudah begini, tak heran juga mengapa ruh menyertai darah. Di mana ruh itu sekarang? Di zaman kita ini – yang diam-diam menyinsafi diri sebagai mayat menolak mati yang mati-matian diperangi – ruh tampaknya tertukar dengan kemanjaan seekor kucing peliharaan dan pelbagai gawai yang ‘mentuankan’ diri ini. Dalam bahasa ‘akar-akaran’ dan rumus paling ultim, kita mengira gawai-gawai itu berkata seperti ini “Kami bersedia menanggung apa yang tak dapat dipikul kecerdasan Tuan.” Manis sekali, sampai sayup-sayup kudengar tawa yang mengolok-ngolok. Ah, mungkinkah bagi mereka ini menulis berarti suatu tugas, deadline, melempar pesan, sembari berpikir mengerjakannya sebagaimana iktikadnya. Mau bagaimana lagi, sang dewa sudah berfirman dan kita beriktikad untuk menggenapinya, yaitu menjadi adimanusia sebagaimana ‘citra’ adimanusia yang dirangkai bersama-sama. Menulis dengan darah, dengan ruh, menuju pencarian, sudah tak laku dan tak musim lagi. Wahai penulis hadapi dunia baru ini dengan arti menulisnya: mengasah iktikad pada ‘citra’ adimanusia yang mula-mula dicapai dengan penyakralan apa yang sebelumnya adalah najis.

(Bersambung)

Posting Komentar

0 Komentar