“Dulu pas SMA masuk IPA atau IPS?”
“Saya dulu siswa SMK jurusan pemesinan.”
“Lho, kok kuliah di jurusan psikologi?”
“Soalnya manusia ada di mana-mana dan selalu
dijumpai, juga konyol, nah saya ingin tahu mengapa manusia bisa konyol dan apa
yang membuatnya bisa dicintai.”
“Terus selama kuliah belajar apa aja?”
“Filsafat terutama aliran eksistensialisme,
lalu sastra, eh, kau tahu Albert Camus atau Fyodor Dostoyevski? Oh iya, satu
lagi kebudayaan Sunda.”
“Kenapa gak sekalian kuliah di salah satu
subjek itu aja, supaya lebih mendalam. Emangnya kamu tidak ingin jadi
psikolog?”
“Saya ingin terjun ke dunia politik.”
“Aduh, kenapa gak sekalian ambil kuliah jurusan
politik. Kacau, ngawur ah!”
***
Waktu itu aku sedang butuh seorang teman untuk bicara. Kebetulan ada
seorang laki-laki tengah asik membaca sesuatu, bergeming di tempat duduknya mengabaikan
sebotol minuman di muka. Sampai sekarang kusesali saat di mana aku mengusiknya,
dan tak akan pernah terlupakan. Kesempatan langka berbicara dengan manusia
langka yang barangkali spesies terakhir dari kaumnya, seorang Faris. Tapi
mungkin aku keliru menilainya begitu, bisa jadi dia adalah mutan, bermutasi
untuk menjadi anti-alam dan anti-massa. Bahaya laten! Kalau boleh kusebut,
ungkapan yang kupinjam dari judul-judul sensasional sewaktu pilpres atau
tulisan apapun yang menyangkut PKI. Nah, karena kusadari ada bahaya laten
makanya tak cukup kalau kutuliskan lewat status
sosmed, tidak cukup emoticon atau
stiker yang mewakili perasaanku, ataupun hashtag
yang memperkuat cita rasa status.
Baik, langsung saja kumulai dari keresahanku, bahwa mahkluk anti-alam
ini berpikir dirinya adalah seorang darwis. Tampak dari luar, pada wajah
berpori-pori menganga dan mata kepanda-pandaan
miliknya terdapat gejala kurang kebahagian, yang pasti karena satu hal:
memikirkan apa itu kebahagiaan. Aku tak bohong, sungguh, kalau tak salah ia
menyebut tokoh fiksi bernama Mersault yang dikarang Camus. Si Mersault ini
diceritakan ingin mati bahagia, ia seorang yang terhubung dengan berbagai hal
dalam hidupnya – teman-temannya – yang justru menghalangi kedekatan dengan
dirinya sendiri. Tentu, si darwis palsu ini mengklaim dirinya seperti tokoh
Mersault, kebohongan berlapis! Aku tahu di dalam ia menyadari bahwa dirinya tak
memiliki kesempatan seperti kebanyakan orang, dan aku memiliki pengalaman yang
tak dimiliki dimilikinya sebanyak sepuluh kali lipat. Makanya ia berpikir
seperti itu, pelipur lara, membuat pengganti dari apa yang kurang dalam
dirinya. Payah. Mana bisa yang nyata dipertukarkan dengan yang maya, alami
dengan yang artifisial. Padahal kita semua tahu cukup dengan memiliki akun sosmed, mengunggah swafoto, membuat
komen asal ceplos, atau apapun yang
penting panen ‘like’ ada kebahagiaan
nyata. Buktinya kita sampai kecanduan karena itu.
Untungnya hanya ada satu orang semacam ini, coba bayangkan kalau 10%
populasi pemuda Indonesia adalah orang semacam dia. Bukan tak mungkin dapat
menjadi suatu wabah. Coba kawan-kawan bayangkan apa yang terjadi kalau pemuda
kita lebih banyak berpikir ketimbang berkicau, meracau di batin. Dia akan
membuat banyak sekali pertimbangan, perhitungan, yang ujung-ujungnya tidak ada
tindakan sama sekali. Baik, memang tak dipungkiri kalau dia masih mahkluk
sosial juga, tapi apa jadinya kalau yang dibicarakan adalah hal-hal mendalam
yang memperumit kesederhanaan sesuatu dalam kehidupan sehari-hari, membongkar
kepraktisan demi mengetahui sendi-sendi yang membangunnya, sungguh masturbasi
model baru! Tepatnya yang ingin kusampaikan adalah kita tidak memerlukan
seorang pemikir, metafisikawan, atau perenung, biarlah mereka yang dikuliahkan
di sana sedang kita tetap menjadi anak emas zaman ini. Lagi pula Tuhan memberi
kemampuan untuk berpikir pada manusia pertama-tama adalah untuk menemukan cara
untuk membahagiakan diri. Cukup cara untuk dipraktikan, yang tentunya menghemat
waktu kita, secara tak langsung untuk menemukan lebih banyak cara membahagiakan
diri. Apalagi sekarang teknologi telah menyediakannya, internet dengan wiki dan
google di dalamnya, perlu dipuji
karena telah mengurangi beban kita untuk berpikir dengan cara menyediakan database untuk segala praanggapan kita
atas sesuatu. Dan kita sudah sangat menghargainya ketika mempredikatkan apa
yang ada di internet sebagai objektif secara terberi. Auto-true. Dengan demikian, buat apa mempelajari terlebih dahulu
ketika dalilnya sudah terjelaskan sendiri. Kita tak terjebak tipuan intuisi
yang tak jelas juntrungannya tapi menuntut untuk direnungkan menjadi persoalan
filosofis dan dibicarakan dengan membawa diksi-diksi alien. Tidak perlu! Tirulah netizen
kita yang berlomba-lomba untuk mem-viral-kan sesuatu, menempatkan objektifitas
secara tak langsung dengan membawa hashtag,
dan mendadak jadi motivator. Bahkan ketika mereka berdebat panjang,
mengeluarkan perkataan kotor pun mesti dipuji, bahwa diskusi itu sia-sia dan
tak ada yang pantas dipelajari selain cara untuk meyakinkan orang lain, nah,
orang semacam ini yang perlu dicontoh, dia menemukan seni membahagiakan diri.
Sekali lagi bayangkan, ada beribu-ribu biang snob pecandu sastra ‘adiluhung’. Ucapan kita untuk orang semacam
itu seperti pada meme ibu menteri
Susi, “tenggelamkan!”. Tenggelamkan ke dalam massa lebih tepatnya, membumi
seperti kita. Jangan menaruh penilaian buruk padaku sobat, tak ada yang salah
dengan sastra adiluhung, apalagi kalau jauh dari masyarakat dan dimengerti
sebagian kecil orang saja. Karya seni itu berbahaya, ia bisa membuat masyarakat
menyadari kondisi ideal dan bagaimana membangunnya di atas realitas, dan ini
beresiko mengubah sistem yang mapan! Tapi sebelum itu terlaksana masyarakat
terlebih dahulu melarikan diri dari kenyataan. Makanya kita tidak perlu itu.
Sedang fiksi populer harus digandrungi dengan kesungguhan, karena kebanyakan
menyajikan pengalaman yang familiar dengan kita, malah fantastis walau bisa
diterima oleh orang awam. Tentunya ini juga bermanfaat untuk kemampuan
berpikir, tepatnya mengasah kepekaan terhadap kenangan manis, menemukan
perspektif baru untuk menghayati kegalauan, dan menjadikan kita pribadi
sensitif karena kecanduan dibuat waper (baWa
Perasaan, hehe). Hah, indahnya. Tapi
tunggu sampai mahkluk anti-alam mulai menulis, ya, ini bahaya laten! Dia tak
membumi seperti kita yang menulis dengan singkat, perasaan yang menggebu-gebu,
pada kolom status setiap akun sosmed. Tipe semacam dia akan menuliskan
sebuah buku – bom waktu pembikin huru-hara – yang membokongi kecerdasan kita
dengan akrobat-akrobat bahasa dan istilah enigmatik. Maka dari itu, kita jangan
sampai terjebak untuk mempelajarinya, meracuni pikiran sendiri, dan membuat
sia-sia potensi berpikir yang seharusnya diarahkan demi mencapai kebahagiaan
sendiri. Lagi pula buku tak akan pernah cocok dengan budaya kita yang mengakar
pada tradisi lisan. Kita lebih komunal, pandai bersosialisasi, dan mengikuti serta
menerima arahan karena kelisanan. Sejak dulu dan seterusnya sebaiknya tetap
demikian, jangan anti-alam! Tradisi teks hanya membikin kita semakin
individual, khas, bahkan eksentrik karena diracuni bacaan.
Sejauh ini, kupikir pembaca akan mengerti bagaimana bahaya laten dari
orang semacam ini. Tapi, izinkan aku untuk mengungkapkan pendapat penting
lainnya, pertama-tama kuucapkan terima kasih tak terhingga kepada google dan wikipedia, karenanya saya
bisa mengutip ucapan seorang tokoh. Adam Smith pernah berkata “semakin
individual seseorang, maka semakin ia berguna untuk masyarakatnya”. Individual?
Berbahaya! Tapi untung saja google
memberi pencerahan, maksud Smith di sini adalah individu yang kompeten di
bidangnya. Saya misalnya, sebagai pengkritik apa yang anti-alam, atau tepatnya mutan
yang menyusup ke tubuh massa, akan lain dengan kritikus di bidang seni. Tapi kutipan
ini berarti lain dimulutku, dengar ini sobat, “semakin ramah kawanan seseorang,
semakin bermanfaat untuk sesamannya dan masyarakatnya.” Masih ada lagi, dan
yang terpenting “semakin dekat dengan kebahagiaan!” Ya, pokoknya patuh,
konformitas, ikut-ikutan, jangan berpikir kritis karena itu sama saja dengan
memangkas tangga kebahagiaan.
Wah, kurasa harus kuakhiri sampai sini dulu, masa saya ikut-ikutan
berpikir mendalam dan berargumen panjang lebar seperti si penyusup anti-alam
itu!

0 Komentar