Oleh
“Farid”
Dunia
kita sekarang ini, dengan piranti canggih dan jejaring sosial, kita mampu
menembus batas-batas jarak dan tembok antara dua orang atau lebih. Tapi, apakah
itu adalah pencapaian karena kita telah mengatasi kesepian? Atau malah bukti
nyata atas kekalahan kita terhadap kesepian, dengan melarikan diri ke dunia
maya?
Jika
pertanyaan kedua adalah yang sebenar-benarnya kita alami, hendaknya kita
sejenak menyadari kembali bahwa kemajuan dewasa ini adalah kemajuan materil.
Kemajuan yang tidak melulu beriringan dengan kemajuan rohani, secara psikis
atau pun spiritual. Lalu, benda-benda hasil kemajuan materil tadi secara
langsung atau tak langsung membentuk gaya hidup. Misalnya, seabad lalu
kebutuhan seperti mentega, telur, susu, sayuran, mengandalkan sumber daya milik
sendiri, yaitu ayam, sapi, kebun; bandingkan dengan masa sekarang yang semua
itu bisa di dapatkan di swalayan dan sebagian diproduksi secara massal dari
pabrik.
Contoh
yang saya ungkapkan tadi, bukan untuk memperluas topik melampaui judul di awal.
Tetapi, saya menduga bahwa kesepian bukan melulu apa yang didefisinikan dalam
kamus dan teori. Melainkan menunjukan bahwa kesepian memiliki berbagai rupa dan
bersemayam dalam kehidupan itu sendiri. Kehidupan kita yang berlapis-lapis,
katakanlah karena identitas, ketersituasian di waktu dan tempat tertentu, atau
pun kepribadian kita, membuat suatu kesepian tampil dalam rupa tersendiri.
Dengan nada pesimis, apakah karena itu individu melulu individu?
Lalu,
saya mendampingkan kesepian ini di antara ‘dan’ dengan kehinaan, mengapa
demikian? Tentunya, ini tidak semata-mata sebagai sebab-akibat yang tertutup,
kalau kita kesepian maka kita hina. Barangkali, selama ini kita tidak mengenal
kehinaan itu sendiri, kecuali sebagai kata benda atau dengan melihat orang yang
pantas ditertawakan. Apalagi untuk peduli di lapisan manakah kehinaan itu
bersemayam.
Sekilas
gambaran, kembali pada contoh yang telah disinggung sebelumnya, kemajuan
materil dengan segala kebendaannya berperan dalam membentuk gaya hidup. Karena
kehidupan itu berlapis-lapis, ia juga membentuk bagaimana perilaku kita,
bagaimana kebutuhan kita, bagaimana kesadaran kita, bagaimana ketaksadaran
kita. Dengan kata lain, membentuk aspek psikis, yang mana membuat kemajuan
rohani menjadi terdefinisikan melalui kemajuan materil.
Kalau
kita masih menganggap kehinaan sebagai ekspresi pada seseorang yang pantas
ditertawakan, apa kita mau menertawakan diri kita? Sebagai pribadi yang
konsumtif karena konsumerisme dibuat mungkin, atau butuh beli ini karena butuh
untuk mengikuti tren ini karena kita butuh diapresiasi karena kita butuh dan
butuh seterusnya? Tanpa yakin kalau itu semua pasti untuk diri kita sendiri.
/1/
Kesepian,
bagaimana hal itu dapat diilustrasikan sebagai keadaan seseorang terkait
dirinya sendiri dan orang lain? Tokoh Robinson dalam “Kehidupan Liar”, karya
Michel Tournier, digambarkan mengalami kesepian setelah terlantar di pulai
terpencil, berjuang untuk tetap hidup dan waras melalui bekerja seperti di
berada peradaban. Bila ia kehilangan asa untuk itu, maka pelipur lara dalam
kelupaan yang lengket seperti genangan lumpur tempat berkubang menjadi
dunianya. Atau tak usah jauh-jauh, tokoh G Ganda yang hidup di semesta absurd,
Kotapraja, dalam ‘Ziarah’ karya Iwan Simantupang, mengekspresikan kesepiannya
dengan menatap matahari seharian, melewati persimpangan jalan, minum arak, dan
berteriak-teriak tak karuan, demi rindu pada kehadiran istrinya yang telah
tiada, istri yang didapat dari keterlemparan
sekaligus kejatuhannya. Tapi, saya
berhutang pada Fyodor Dostoyevsky (1821-1881) untuk insight yang menjadi tulisan ini.
Tokoh
dalam ‘Catatan dari Bawah Tanah’, bukan semata-mata berkisah tentang pergulatan
hidup seseorang yang kesepian, tetapi Sang Kesepian itu sendiri. “Aku orang
sakit... aku orang pendendam. Aku orang yang tidak menarik. Aku yakin hatiku
mengidap penyakit. Sungguh pun begitu, aku tidak... tahu pasti penyakitku
sebetulnya. Aku tidak pernah meminta nasihat dokter, biarpun aku cukup
menghargai ilmu kedokteran dan para dokter.” Lebih dari itu, ia bukan sekedar
merasa mengidap penyakit, melainkan mengisolasi dirinya seolah dunia dan
mahkluk di luar sana berpenyakit. “Tidak, aku menolak menemui dokter
karena perasaan kesalku. Itu Anda tentu tidak akan mengerti. Tapi aku mengerti.
Tentu saja, aku tidak bisa menjelaskan siapa orang yang membuatku sekarat dalam
keadaan kesal ini. Aku sadar betul bahwa aku tidak bisa menyingkirkan para
dokter tanpa mendatangi mereka.”
Semakin
kisah ini ditelusuri, bisa dikatakan bahwa Sang Kesepian melarikan diri dari
dirinya sendiri. “Aku tidak berkawan dengan siapa pun juga dan selalu mengelak
untuk bicara dan menguburkan diri makin lama makin jauh dalam lubangku.” Bagaimana
tidak, Dostoyevsky menghadirkan pada pembaca bagaimana perilaku tokoh ini
menceritakan dengan gamblang keinginannya tetapi tidak jelas apa yang jadi
motivasi baginya. “Waktu itu aku beroleh suatu pikiran yang cerah sekali! Bagaimana
aku berkata dalam hati, bagaimana kalau aku tidak mau minggir jika ketemu
dengan dia? Bagaimana kalau aku dengan sengaja tidak mau menghindar, bahkan
kalau aku sampai bertubrukan dengan dia? Bagaimana kiranya”. Motivasi di sini
tidak jelas karena si tokoh tidak pernah benar-benar berseteru dengan si perwira.
Ia hanya merasa direndahkan, secara tidak langsung; ia merasa perlakuannya
membuat kesenjangan sosial, secara tidak langsung; dan lagi-lagi ia merasa
tidak sepadan baginya, tetapi lagi-lagi secara tidak langsung ia merasa lebih
angkuh dari si perwira.
Sepandai-pandainya
Sang Kesepian berlari dari dirinya sendiri, akhirnya ia harus menghadapi kesepian
itu juga. Klimaks dari pergulatan Sang Kesepian ini ialah menghadapi ‘teman-teman’
dari masa lalu yang ia benci. “Aku merasa tepat sekali jika aku mengundang
diriku sendiri secara tiba-tiba dan tanpa disangka-sangka. Mereka akan segera
takluk dan memandangku dengan hormat.” Sekali lagi, Dostoyevsky
menggambarkannya sebagai tokoh yang berperilaku impulsif, memandang perilakunya
akan menghasilkan kebanggaan, khususnya di sini pembalasan dendam melalui rasa
penyesalan diharapkan dapat memberinya kepuasan: harga diri sekali lagi atas
jenderal yang kalah berkelahi darinya dulu.
“Apa
kau juga mau ikut?” Tanya Simonov...
Aku
geram sekali karena ia kenal (diriku) luar dalam.
“kenapa
tidak? Aku juga bekas kawan sekolahnya dan aku harus akui bahwa aku tersinggung
kalau kalian tinggalkan.” Kataku dengan menggelegak.
Terlihat
bahwa Sang Kesepian yang biasanya digambarkan berpikiran reflektif, kini
menanggapi tawaran itu tanpa pertimbangan, seolah tekadnya sudah bulat. Menahklukkan
dan membuat mereka hormat padanya. Seiring dengan berlalunya cerita, lagi-lagi
ia berakhir sebagai pecundang mabuk yang terabaikan seperti halnya salju.
Karena kekacauan yang dibuatnya, kekacauan yang juga menggambarkan isi
kepalanya. Dan, lagi-lagi ia tidak tahu dengan pasti untuk mengapa semua itu
dilakukannya. Benar-benar catatan dari bawah
tanah.
Semakin
mendekati akhir cerita, bukan musim dingin, sang kesepian ini mendapat peluang
untuk mengakhiri kesepiannya. Di rumah bordil, ia bertemu seorang penghibur
muda. Mereka berbagi tubuh dan kehangatan, dan Dostoyevsky mempermak Sang Kesepian
menjadi tokoh yang bijak seperti yang digambarkan pada permulaan cerita. Ia
bijak karena tahu secara mendalam tentang kehidupan dalam kesepian. Ia
menggambarkan itu melalui cerita karangannya tentang pelacur tua yang mati
secara tragis. Penggambaran mati di gudang dan dikuburkan di pekuburan bertanah
rawa menjadi gambaran bahwa kesepian dan kehinaan itu beriringan. Ia peduli
pada si penghibur muda. Namun, ia akhirnya menjadi sang kesepian lagi. Setelah
suasana hatinya dibawa bolak balik oleh kesepian dan kehinaan: menunggu
kedatangan si penghibur muda ke rumahnya. Dan dalam kehinaan, Sang Kesepian
berusaha mengejar si penghibur muda yang ia kira mencicipi kehinaannya. Menjauh
dari kesepian yang ditunjukan oleh kemiskinan Sang Kesepian.
/2/
Kehinaan,
sebelumnya kita menyinggung tentang perlakuan kita pada orang yang pantas ditertawakan.
Sekarang, bila posisinya dibalik bahwa kita yang ditertawakan karena menurut
mereka pantas ditertawakan, bagaimana mengartikulasikan kehinaan itu sendiri?
Barangkali, kita tak akan pernah cukup bila menampilkannya ke panggung bahasa,
ia akan jadi aktor yang tampil sebagai ‘kutuk’, ‘caci-maki’ balasan, ledakan
amarah, ataupun sumpah di atas nama kebencian. Namun, air mata lebih dari cukup
untuk menceritakan itu sekalipun tak sederas hujan. Ada lagi yang lebih ampuh:
kebungkaman. Sound of silence mendobrak
pendengaran, bergema dalam hati.
Hello darkness, my old friend. Begitulah
Simon dan Garfunkel menyapa pendengarnya diintro lagu yang berjudul ‘The Sound of Silence’. Sesuatu yang
dikenal lama tapi tak jelas, selalu dalam bayangan kemisteriusan mungkin untuk
selamanya karena “within the sound of
silence”. Dan, karena kita pun kehilangan daya untuk mengucapkannya, tak
berdaya seperti tubuh si penidur.
Bila
sebelumnya Dostoyevsky menunjukan pada kita cara pandang Sang Kesepian terhadap
dirinya, orang lain, dan dunia, lain tapi senada Simon dan Garfunkel menunjukan
sisi dunia yang didiami oleh kesepian dan kehinaan. Sebagai sebuah dunia, hal
itu bertalian dengan kemajuan yang tercermin dalam budaya. “When my eyes were stabbed by the flash of a
neon light”, penggunaan diksi ‘cahaya neon’ menunjukan keterkaitan alat buatan
dengan subjek, secara khusus dapat diinterpretasikan juga sebagai lampu,
televisi, monitor komputer, atau yang kekinian sebagai smartphone. Penggunaan alat yang dapat memisahkan penghayatan
subjek dengan lingkungannya, “that split
the night”. Alhasil, tombol untuk mode eksistensi dalam kesepian dan
kehinaan ditekan, “and touched the sound
of silence”.
Secara
keseluruhan, pandangan tentang dunia semacam itu digambarkan oleh larik
berikut.
And
in the naked light I saw
Ten
thousand people, maybe more
People
talking without speaking
People
hearing without listening
People
writing songs that voices never share
And
no one dared
Disturb the sound of silence
"Fools"
said I
"You
do not know, silence like a cancer grows
Hear
my words that I might teach you
Take
my arms that I might reach you"
But
my words like silent raindrops fell
And
echoed
In the wells of silence
Kebungkaman
menjadi ekspresi yang tepat dari kehinaan mana kala ia dapat menandakan
kemampuan untuk melemahkan dan menghasilkan potensi merusak kehidupan, “silence like a cancer grows”. Bicara
soal kanker, sel tumor ganas yang mengambil alih sel normal, dapat menjadi analogi
yang menjelaskan interaksi antara kesepian dan kehinaan. Dari apa yang telah
saya pelajari tentang Nietzsche (dan nanti kita akan membahas tentangnya lebih
lanjut), warisan peradaban yang di dalamnya terdapat bahasa, moralitas, dan
filsafat, merupakan hasil dari proses bersitegang kuasa antara tuan dan budak.
Sebelumnya, mereka yang dianggap sebagai sang tuan (noble) memiliki pemahaman etik tentang apa yang baik, meliputi
perbuatan untuk memperkaya dan menyehatkan diri sendiri. Namun, di mata mereka
yang dianggap sebagai budak, hal itu mengancam eksistensi diri mereka. Untuk melindungi
diri dari ancaman, maka para budak melakukan pembalikan nilai bahwa yang baik
itu menjalani hidup dalam asketisme, serta memandang perbuatan sang tuan
sebagai kejahatan. Balas dendam metafisik.
Dengan
mengikuti pemikiran Nietzsche tadi, keadaan di mana yang absen dari kesepian
merupakan sel normal, mode eksistensi di mana kita mampu menjalin keterlibatan
bersama orang lain. Dengan catatan apabila kita cukup berkuasa untuk
memungkinkan tindakan-tindakan tersebut. Manakala tidak ada kuasa, kita menjadi
lebih pasif, ingin didekati daripada mendekati, sampai akhirnya merasakan
ancaman tetapi tidak berdaya. Di titik ini kita sebatas kesepian, mengalami
kehinaan ketika proses untuk berelasi kembali ditunjukan dengan cara-cara yang
ingin mendominasi (atau lebih tepat disebut juga posesif). Kehinaan
kedengarannya menjadi: tidak ada kuasa terhadap diri sendiri untuk
mempertahankan diri dari kekuasaan yang asing. Sebagaimana sel tumor, kerusakan
yang merusak diri sendiri dan yang lain. Sebagaimana kebungkaman yang ingin
membungkam orang lain: menempatkannya dalam ketakberdayaan untuk disapa, “hello darkness”.
Kekuasaan
yang asing itu tergambarkan dalam larik terakhir ini. Lebih lanjut lagi,
kekuasaan asing yang menjadi pelarian. Malahan lingkaran setan, melarikan diri
dari kehinaan dengan cara yang menghinakan.
And
the people bowed and prayed
To
the neon god they made
And
the sign flashed out its warning
In
the words that it was forming
And
the signs said
"The
words of the prophets are written on the subway walls
And
tenement halls
And whisper'd in the sounds of
silence
Terakhir,
secara keseluruhan atmosfir yang disajikan oleh lagu ini memiliki kesan
metropolitan yang kental. Mulai dari penggunaan metafor cahaya dan kegalapan
yang dijembatani ‘neon’, tiang lampu, jalan, sampai stasiun subway. Alih-alih memberi penjelasan, ia
justru menghadirkan pertanyaan “apakah perasaan kesepian dihasilkan oleh
peradaban yang mewadahi sesama individu, sebagai hasil dari ketercerabutan
individu dari sesamanya dan menghadapi bayang-bayang peradaban seorang diri?” Mengingat,
kesadaran, individualitas, kemampuan manusia untuk bereksistensi, membuat
dirinya terasing dan berlainan dengan alam. Tetapi kini kebanyakan dari kita
tinggal di kota, di bawah terang siang, dan terang bohlam pada malam, tidakkah
dengan merasa berbeda dalam familiaritas lebih tepat untuk membuat kita
kesepian daripada teransing? Karena hal-hal yang familiar itu tidak dirasakan
bersama, bahwa kita menghadapi perbedaan seorang diri.
/3/
Mari
kita bertolak ke kawasan pegunungan. Melintasi hutan untuk sampai pada mulut
gua. Dan menunggu semalaman bersama api unggun, ditemani keterasingan di alam
terbuka karena jauh dari peradaban, untuk menyaksikan Zarathustra keluar dari guanya.
Benar kawan, kau tidak salah membaca, Zarathustra dan kesepian spiritualnya. Sang
darwis dunia sekuler.
Sebagaimana
pernyataan Walter Kaufmann, petunjuk untuk memahami Zarathustra adalah dengan
memahaminya sebagai karya seseorang yang sangat kesepian. Dan hal itu
tergambarkan dengan jelas pada pembukaan cerita berikut.
“When Zarathustra was thirty
years old, he left his home and the lake of his home and went into the
mountains. Here he had the enjoyment of his spirit and his solitude and he did
not weary of it for ten years.”
Kesepian
Zarathustra adalah kesepian dalam keberlimpahan bahwa tidak ada manusia lain
yang setingkat keberlimpahannya. Kesepian yang tidak membuat hidupnya kosong,
tetapi menginginkan kekosongan. Berbanding terbalik dengan keadaan kesepian
sebelumnya, yang membuat hidup untuk mengatasi kesepian itu sendiri. Mengapa
Zarathustra menginginkan kekosongan? Karena hanya dengan menjadi kosong
terlebih dahulu, ia bisa mendapatkan kembali segala keberlimpahan yang pernah
ia tuangkan pada mereka yang menadahkan gelasnya. “Behold! This cup wants to be empty again, and Zarathustra wants to be
man again”.
Hal
itu sejalan dengan parodi Alkitab yang Nietzsche tuangkan dalam Zarathustranya.
Retorika dan pidato yang meluapkan pikiran melalui permainan metafor, figur,
dan ‘letusan kata’, memiliki arti tersendiri: bahwa kesepian itu perlu diekspresikan,
khususnya secara indah, secara ubërmensch
yang masih bisa merasa senang meski dalam kekacauan. Berlainan dengan
kesepian yang diperlihatkan sebelumnya, ditekan ke dalam sehingga segala hal
yang kita lakukan untuk melampauinya malah menunjukan bahwa kita kesepian.
Kesepian
yang spiritual ala Zarathustra
memberi kiat untuk ‘menjinakan’ kehidupan supaya kita menjadi kerasan dalam
menjalani hidup. Yang juga berarti menjinakan apa yang menjadi fakta dari hidup
kita, dari keberadaan kita, salah satunya orang lain. Hal tersebut digambarkan
oleh keinginan Zarathustra untuk memiliki pengikut. Lebih jauh lagi, kesepian
Zarathustra menunjukan bahwa ia telah menjinakan alam. Di samping sebagai
metafor dan figur, elang, ular, dan lebah yang mendampingi Zarathustra dalam
guanya memperlihatkan relasi intim dirinya dengan alam. Sekaligus membenarkan
ucapannya bahwa manusia bukan tujuan akhir, melainkan tali yang membentang di
atas jurang antara hewan dan ubërmensch.
Bila memandang pada karyanya yang terdahulu, ‘Lahirnya Tragedi’, Nietzsche
memandang bahwa kemabukan Dionysian mempererat ikatan manusia dengan alam dalam
suasana reuni.
Di
sisi lain, kesepian spiritual semacam ini merupakan konsekuensi yang tak
terhindarkan setelah seseorang menemukan kebenaran bagi dirinya sendiri, dari
makna yang ia buat dalam hidupnya. Masih terkait dengan alam, “ubërmensch is the meaning of the earth. Let
your will say: ubërmensch shall be the meaning of the earth.”, berdasarkan
kutipan tersebut kebenaran yang dimaksud bersifat duniawi. Sebab penggunaan
diksi ‘earth’ yang lebih merujuk pada
ruang dan waktu kita berpijak saat ini. Dalam pandangan Nietzsche sendiri hanya
dunia saat ini yang mungkin memberikan kebenaran, tidak ada dunia
transendental. Dentuman kesepian yang ia bunyikan pada kita: kabar kematian
Tuhan. Apa yang tersisa bagi kita menurut kabarnya? Manusia ditinggal,
menanggung beban, dan menentukan arah seorang diri.
Hemat
Nietzsche untuk keadaan ini adalah berkata ‘ya’ (Ja saggen) pada kehidupan, dan amor
fati. Bagi Nietzsche hanya ubërmensch
yang sanggup mengatakan ‘Ya’ pada kehidupan, pada pahit-manis yang tertuang
di dalamnya. Lalu amor fati, menjinakan
kehidupan dengan cara mencintai nasib. “My
formula for human greatness is amor fati: that one wants nothing to be
different, not in the future, not in the past, not for all eternity. Not only
to endure what is necessary, still less to conceal it — all idealism is
falseness in the face of necessity — , but to love it...” Sikap yang
mengandaikan kita untuk melakukan evaluasi atas pilihan sebelum tindakan, agar
kita kerasan dalam nasib yang kita pilih untuk seperti ini dan bukan yang lain.
R.J
Hollingdale berpendapat bahwa karya-karya Nietzsche memuat tema krisis
intelektualitas, yaitu nihilisme, termasuk pada Zarathustra yang secara khusus
memiliki kekhasan tersendiri karena menawarkan resolusi untuk hal tersebut.
Keadaan nihilisme dalam pemikiran menempatkan manusia pada titik terjauh dari kesepian,
bukan pada sesamanya melulu, tetapi pada hakikatnya sebagai manusia. Nietzsche,
melalui Zarathustra menjadi guru supaya setiap orang tidak sekedar nihilis,
tetapi menjadi nihilis aktif yang membuat makna dalam hidupnya.
/4/
Sekarang
bagaimana rupa kesepian dan kehinaan tampak dalam kehidupan yang berlapis-lapis
ini? Zaman terus bergerak, seperti matahari yang merangkak di angkasa, di mana
cahaya pergi ia mengusik penumbra yang kemudian membentuk corak-corak bayangan.
Bagaimana pun keadaannya, selalu ada ruang kosong dalam peradaban yang dihuni
kesepian, bayangan yang tidak tersentuh cahaya. Baik itu karena kemajuan atau
sejarah, sebagai produk dari keduanya kita berhadapan dengan kesepian dan
mengalami kehinaan sekaligus seperti tokoh rekaan Dostoyevsky, kesepian karena
secara alam bawah sadar ia melakukan upaya berupa gaya hidup ‘bawah tanah’. Atau
seperti yang dilantunkan Simon dan Garfunkel, secara tak sadar berkawan dengan
kegelapan, menikmati kebungkaman di bawah rindang bayangan. Ada pula yang
bangkit karena pidato Zarathustra yang diiringi kedatangan fajar, melampaui
kehinaan sehingga kita bisa menerima kesepian sebagai teman yang intim dalam
kehidupan, yang juga mendampingi penciptaan makna dalam hidup.
Referensi:
Dostoyevsky,
Fyodor. 2016. Catatan dari Bawah Tanah. Jakarta:
KGP.
Hassan,
Fuad. 1992. Berkenalan dengan
Eksistensialisme. Bandung: Pustaka Jaya.
Nietzsche,
F. W., Hollingdale, R. J., & Nietzsche, F. W. 1961. Thus Spoke
Zarathustra... Translated with an Introduction by RJ Hollingdale. Penguin
Books.

1 Komentar
Amor Fati sebagai jalan untuk melengkapi ketiadaab dan kesepian. Aku memunculkan amor fati sebagai potion setara elixir, namun di bawah elixir. bagaimana itu dapat mengobati kesepian?
BalasHapus