Killing Freud[1] (Review)
|
|
|
Sampul |
Ada sebuah keanehan, mungkin lebih tepat disebut sebagai
daya pikat, dari sebuah buku berjudul 'Killing Freud' ketika pertama
kali saya melihatnya. Begitu mulai membacanya, jelaslah kalau daya pikat
tersebut karena adanya rahasia: kegalapan dalam riwayat hidup seorang Freud.
Dan pengarang buku tersebut, Todd Dufresne, menyalakan senter detektor
‘konspirasi’ untuk menerangi dan menembus kegelapan yang menyembunyikan Freud
dan psikoanalisisnya. Menyusuri jejak-jejak kritikus lain yang membawa pembaca
pada mimpi Freud.
Saya memahami Killing Freud dalam mindset ‘analisis wacana Foucauldian’. Di
sini, penulis menunjukan bahwa episteme[2] psikoanalisis dibangun
dari fiksi, motif pribadi Freud, kekuasaannya, pembentukan wacana memori yang
terpresi (sugesti dari analis bila klien tidak mengungkapkan memori tersebut),
dan penempatan subjek dalam kerangka guru-murid yang berimbas pada cara praktik
psikoanalisis yang memarjinalkan klien dalam sesi terapinya. Lebih gila lagi,
bagaimana satu penipuan ditiru secara tak langsung atau juga membuat ‘jatuh ke
lubang yang sama’ sampai akhirnya menjadi sebuah institusi psikoanalisis, yang
bermacam-macam rupanya. Sampai akhirnya, Freud membangun semacam rezim
psikoanalisis atau kalau meminjam komentar dari Jung, “Obsesi Freud untuk
mendirikan sebuah ‘agama’ psikoanalisis.”[3].
Tampaknya, komentar tadi tidak
berlebihan bila ditinjau dari ‘fanatisisme’ pengikut Freud dalam mengamalkan
‘ritus’ psikoanalisis. Mulai dari menerima dan mempraktikkan sebagian gaya
hidup Freud seperti merokok, candu, dan memelihara anjing. Sampai akhirnya
berimbas pada penyembunyian Element of Figure Skating karya
Ernest Jones, yang secara tak langsung memproyekisan pengaruh Freud pada alam
pikir Jones, misalnya konsep proses primer dan sekunder, dan transferensi.
Tampaknya penulis menaruh perhatian cukup besar pada konsep proses primer dan
sekunder, terutama untuk membuatnya berbalik menyerang psikoanalisis: membuat
masalah yang jelas dan nyata (sekunder) menjadi fiksi/mimpi (primer).
Selain pada konsep tersebut, penulis juga menaruh perhatian
utama pada konsep insting kematian. Melalui reinterpretasi atas konsep tersebut
dan kejadian dalam perkembangan psikoanalisis, dapat dikatakan bahwa
psikoanalisis mematikan sekaligus membunuh dirinya. Konsep tersebut juga dibandingkan
dengan cara kerja dekonstruksi yang menurut Derrida sudah berlangsung di dalam
teks itu sendiri. Selanjutnya, penulis membandingkan bagaimana operasi
dekonstruksi dengan psikoanalisis yang sama-sama melakukan perujukan diri. Singkatnya,
menempatkan Freud sebagai teori psikoanalisis itu sendiri, walau pelan-pelan Freud
mencoba menutupi jejaknya – sebuah kerja insting kematian.
Sesuai dengan judulnya, Killing Freud memang
tampak seperti character assassination. Tepatnya yang dilakukan dengan
nada sinis, sarkasme, dan kejenakaan di sana-sini. Tetapi nyatanya merupakan
upaya untuk memperingati kematian psikoanalisis yang berangkat dari kegelisahan
dalam disiplinnya.
Untuk mengakhiri review ini, dan menjaga kesan dramatis
yang ditawarkan Killing, saya sampaikan kembali ringkasannya dengan
meminjam gaya Nietzsche. “Freud dan psikoanalisis sudah mati karena kitalah
pembunuhnya, Freudian, Lacanian, para analis, dan tukang gosip… siapa yang akan
memberi kita anjing penuntun ke pikiran bawah sadar? Ke mana kita membuang
kecemasan? Kepada siapa kita meminta kenangan seduksi? Ke mana libido dialirkan
kemudian? Bukankah kita akan semakin tenggelam dalam kesadaran akan
dorongan-dorongan sendiri?”
[1] Todd Dufresne.
(2010). Killing Freud Kultur Abad Kedua Puluh & Kematian
Psikoanalisis. Yogyakarta: Kanisius.
[2] Isilah dalam
karya-karya Foucault yang merujuk pada cara subjek untuk melihat, memahami,
memaknai kenyataan, mengetahui batas-batasnya dan bahasa yang menjadi medium
dengan kenyataannya.
[3] Carl Gustav Jung.
(2016). Memories Dream Reflections. Yogyakarta: Octopus. hal. 231


4 Komentar
Thank you for your thoughtful review! I appreciate that. For a fairly recent interview, see http://figureground.org/interview-with-todd-dufresne/. If you're interested, I also published a book on Freud's 'cultural works' in 2017. It's called 'The Late Sigmund Freud'. Thanks again! I'll run this through an automated translator and paste below.
BalasHapus(Terima kasih atas ulasan Anda! Saya menghargai itu. Untuk wawancara yang cukup baru, lihat http://figureground.org/interview-with-todd-dufresne/. Jika Anda tertarik, saya juga menerbitkan buku tentang 'karya budaya' Freud pada tahun 2017. Ini disebut 'The Late Sigmund Freud'. Terima kasih lagi!)
Your welcome, I love your works on Freud, definetly add 'The Late Sigmund Freud' on my list.
HapusYou're too kind. Thanks. In the latest you'll find that I go out of my way to be generous to Freud and psa. Less 'killing', more grappling. ;) It'll be my last big Freud book, so I wanted to reach out to a wider readership. Hope you like it. Cheers, t
BalasHapusInteresting, there is no overkill then :))
HapusBy the way, I gave Killing Freud as recommendation for my lecturer reader club at University, to my surprised he was already aware of Freud as you are.